SELURUH wilayah Asia mengalami tingkat suhu terpanas sejagat pada 2020 sehingga berdampak terjadinya krisis iklim dan kerusakan lingkungan serta membuat ancaman pada ketahanan pangan dan air ada di depan mata.
Laporan berujudul “Kondisi Iklim di Asia” tersebut disampaikan oleh Direktur Organisasi Meterologi Dunia (WMO) PBB, Petteri Taalas di Jenewa, Swiss (26/10). Dibandingkan dengan periode antara 1991 – 1920, menurut laporan Taalas, suhu benua Asia naik 1,39 derajat Celsius.
Peningkatan suhu udara meningkatkan kelembaban yang pada gilirannya mendorong terbentuknya awan hujan yang mengakibatkan hujan deras penyebab bencana hidrometeorologi.
Salah satu contohnya yakni banjir besar di Bangladesh dan India pada Mei 2020 dipicu topan Ampan, mengakibatkan 2,3 juta penduduk Bangladesh dan 2,5 juta penduduk India mengungsi.
Bencana banjir juga memunculkan persoalan baru yakni kekurangan gizi akibat keterbatasan pangan yang layak, tidak adanya hunian yang sehat dan bersih dan problem sosial akibat terjadinya eksodus besar-besaran.
Menurut catatan WMO, kasus malnutrisi di Asia Tenggara pada 2020 naik enam persen menjadi 8,8 juta orang dan di Asia Selatan naik 20 persen menjadi 305,7 juta orang.
Banjir juga menimbulkan kerugian dahsyat di sejumlah negara Asia, misalnya China sebesar 288 miliar dollar AS, India 87 miliar dollar, Jepang 83 miliar dollar dan Korea Selatan 24 miliar dollar.
Taalas mengingatkan, kerugian diperkirakan terus meningkat mengingat pemanasan global membuat gletser Asia yang ada di pegunungan Himalaya seluas 100.000 Km2 bakal meleleh.
“Tanpa upaya untuk menurunkan suhu bumi secara signifikan, 20 hingga 40 persen gletser akan meleleh pada 2050 yang berdampak bagi 750 juta orang,” ujarnya.
Menurut catatan, para pemimpin dunia termasuk Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan hadir dalam pertemuan puncak atau KTT“Conference on Parties” (COP-26) di Glasgow, Inggeris 1 sampai 12 November guna membahas langkah bersama menghadapi perubahan iklim.
Kesepakatan Pertemuan Paris 2015 untuk mengupayakan agar kenaikan panas bumi tidak melampaui 1,5 derajat Celcius akan dihidupkan lagi dalam COP-26.
Dunia tempat tinggal kita bersama. Jika bukan kita, seluruh umat manusia, siapa lagi yang akan merawat dan menjaganya.





