
HUT RI ke -73 sebentar lagi tiba. Segenap elemen masyarakat merayakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ini sudah menjadi tradisi tahunan, warga pun bergotong royong menyediakan dananya. Sayangnya, ada juga oknum-oknum dalam masyarakat yang memanfatkan moment itu untuk kepentingan pribadi. Di sana sini ditemukan orang-orang yang cari uang berkedok HUT RI. Para pejuang pendiri republik di alam sana, jika tahu pasti marah atau paling tidak ngelus dhadha, kok ada ya generasi penerusnya mengkhianati cita-cita proklamasi.
Seandainya para pejuang perintis kemerdekaan di jaman itu tak bergerak, apakah kita hari ini bisa memperingati HUT RI ke-73? Sangat boleh jadi kita masih dalam kekuasaan kolonial Belanda. Tiap tahun kerek bendera Belanda merah-putih biru dan menyanyikan lagu Wilhelmus lagu kebangsaan mereka. Kerajaan Belanda mantu atau punya bayi baru, rakyat Hindia Belanda ikut capek memperingatinya.
Berkat perjuangan para pejuang dan perintis kemerdekaan, kita setiap tanggal 17 Agustus bisa memperingati HUT RI, yang tahun ini tiba pada yang ke-73. Di mana-mana diperingati dengan berbagai hiburan, pesta rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Biaya HUT RI di pedesaan murni dari kantong rakyat, tak pernah ada beritanya HUT RI dianggarkan dalam APBN.
Sumbangan HUT RI itu sifatnya sukarela, tanpa dipatok jumlah nominalnya. Tapi kadang juga kebangetan, mentang-mentang seiklasnya, di Jakarta keluarga yang berkemampuan dan punya usaha kok hanya nyumbang Rp 50.000,- pada RT-nya. Tak perlu besar memang, tapi layaklah. Tapi jangan pula mematok dengan jumlah tertentu, sehingga memberatkan anak-anak bangsa.
Di Kecamatan Mariorirawa Kabupaten Soppeng Sulsel, peringatan HUT RI ke 73 ini dianggarkan Rp 47.320.000,- Dananya bukan diambil dari kas kecamatan, melainkan dibebankan kepada kepala Desa dan staf, mereka ditargetkan Rp1.000.000, Lurah dan staf dibebankan Rp750.000, untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dibebankan per golongan. Golongan IV sebesar Rp 100.000, golongan III Rp 75.000, golongan II Rp 50.000, serta golongan I Rp 25.000. Golongan Karya sudah punya pos sendiri untuk HUT RI.
Paling celaka dan bisa dikutuk para pahlawan perjuangan, ada oknum-oknum yang mengatasnamakan panitia HUT RI, lalu mencari sumbangan untuk masuk kantong sendiri. Di Cipayung Jakarta Timur tahun 1990-an awal, ada anggota panitia HUT RI tingkat RW 01 tega berbuat nakal atas nama Republik. Dia mencari sumbangan ke RT-RT, begitu dapat uang tak disetorkan ke bendahara, tapi dikantongi sendiri. Sejak itu tak pernah muncul, sehingga ketika dana HUT RI tekor, terpaksa panitia “menggorok” tokoh masyarakat mampu untuk nomboki.
Paling jahat adalah yang terjadi Jayapura Utara (Japut) Papua. Seorang warga bernama JW (57) setiap tahun mengatasnamakan panitia HUT RI minta sumbangan ke berbagai instansi. Dia pakai stempel palsu mengatasnamakan kelurahan, kemudian list itu diedarkan di sejumlah perusahaan. Tapi sekali waktu ada yang mengetahui kepalsuan dokumen-dokumen itu. Polisipun dilapori dan ditangkaplah si JW. Dalam pemeriksaan JW mengakui, cara demikian sudah lama dilakukan dan uangnya masuk kantong sendiri.
Dan sudah menjadi tradisi tahunan, setiap menjelang HUT RI banyak cegatan kendaraan yang dilakukan oleh warga masyarakat. Mereka minta sumbangan dari pengendara mobil, barang Rp 2.000,- sampai Rp 10.000,- Ini terjadi misalnya di Krawang dan Tasikmalaya, Bogor (Jabar), dan juga Pagaralam (Sumsel).
Tapi benarkah dana yang terkumpul benar-benar untuk memperingati HUT RI? Walahualam! Kebanyakan ya masuk kantong sendiri. Ini jelas mempermalukan para pejuang kemerdekaan di masa lalu. Mereka dulu korbankan harta, nyawa, demi berdirinya Republik Indonesia. Kok generasi penerusnya malah memanfaat peringatan kemerdekaan itu untuk dari duit. Jika pelawak Asmuni masih hidup pasti akan menggerutu, “Ini generasi muda cap apa?” (Cantrik Metaram)




