
NEGERI Ganggang Kencana yang diperintah oleh Prabu Jaya Bagendra terletak di tepi sungai Silugangga yang bening airnya, lumayan kedalamannya. Tapi itu duluuu, ketika negri tersebut dipimpin Prabu Jayengsengara. Setelah suksesi kepemimpinan terjadi lewat kudeta, negeri Ganggang Kencana lebih layak ganti nama Ganggang Perunggu, karena perekonomian terpuruk. Yang ekonominya meningkat justru hanya pejabat dan politisi, sedangkan rakyat biasa tambah miskin.
Bengawan Silugangga yang dulu bening dan bersih, tanggulnya banyak diserobot kaum gelandangan. Tepiannya “direklamasi” dijadikan hunian, tentu saja tanpa IMB. Kali yang dulu lebarnya 30 meter, kini menyempit tinggal 20 meter saja. Akibatnya bila musim penghujan airnya meluap sampai jauh, seperti “Bengawan Solo”-nya komponis Gesang Martohartono.
“Menghadapi ancaman banjir akhir Desember ini, bagaimana persiapannya Ki Patih,” kata Prabu Jaya Bagendra dalam sidang terbatas kerajaan.
“Maaf koreksi boss. Narasi atau diksinya jangan persiapan, tapi antisipasi. Kata “persiapan” kesannya kita pasrah hal itu terjadi, tapi kalau “antisipasi” adalah sebuah usaha jangan sampai terjadi,” jawab Patih Suramenggala, seperti ahli Bahasa Indonesia.
“Ah repot amat. Maksud saya, karena banjir mau datang ya kita siapkan tempat pengungsian dan santunannya.”
“Itu keliru boss. Itu namanya sedia payung setelah hujan, harusnya sedia payung sebelum hujan,” jawab Ki Patih lagi. Dalam hatinya dia membatin, “Yang jadi raja mestinya saya tuh!”
Begitulah penguasa, ganti rezim ganti pula kebijakannya. Raja Ganggang Kencana sebelumnya, untuk mengantisipasi banjir telah menormalisasi kali Silugangga dengan beton tebal dan tinggi. Tapi baru separoh jalan dia dikudeta oleh raja Jaya Bagendra, yang punya konsep lain mengatasi banjir. Dia tak mau normalisasi sungai, tapi cukup naturalisasi saja, yakni tanggul kali ditanami pohon-pohon. Kata Prabu Jaya Bagendra, “Ganggang Kencana telah salah mengambil keputusan!”
Tapi faktanya, Prabu Jaya Bagendra hanya banyak omong doang. Normalisasi tak mau menjalankan, tapi naturalisasi juga sebatas wacana. Akibatnya titik banjir kembali bermunculan, dan setiap tahun Prabu Jaya Bagendra harus menyiapkan pengungsian sekaligus menyantuni. Tapi asal ada protes rakyat, yang diminta menghadapi Patih Suramenggala. Raja Jaya Bagendra hanya siap di depan publik manakala ada penghargaan.
“Kasihan ya patih Suramenggala, dia hanya jadi tukang cebok raja Jaya Bagendra. Asal ada kebijakan salah, dia tak mau ketemu pers, yang diumpankan hanya Patihnya,” celoteh rakyat di warung kopi.
“Jangan ngomong begitu. Ada intel bisa nggak pulang kamu,” kata pelanggan waru kopi yang lain.
Dalam sebuah kesempatan Prabu Yaya Bagendra tampil di TV, menjelaskan pragramnya menghadapi banjir Desember-Januari 2021-2022. Ada 125 lokasi pengungsian yang disiapkan, sementara ribuan nasi bungkus juga sudah dialokasikan untuk para keluarga pengungsi. Ternyata dalam dialog interaktiv di stasiun TV yang lain, program kerja menangani banjir raja Ganggang Kencana itu dikecam habis. Itu cara penangananan yang akan muncul setiap tahun. Mestinya dicari cara agar banjir tak lagi melanda ibukota negara Ganggang Kencana.
“Kalau ada Rocky Gerung, pastilah Prabu Jaya Bagendra dicap raja dungu.” Kata pengamat perkotaan itu.
“Tapi raja bego gitu kok ya disanjung-sanjung pendukungnya ya,” kata netizen di medsos.
Demikianlah, Prabu Jaya Bagendra yang mengklaim terbiasa menyelesaikan masalah, kali ini pusing karena kebijakan menangani pengungsi dan naturalisasi kali dikecam pengamat dan LSM. Maka malam harinya dia nenepi (laku prihatin) di sanggar pelanggatan minta petunjuk dewa, bagaimana mengatasi banjir secara baik dan tepat guna. Siapa tahu tengah malam nanti dia memperoleh wisik, sebuah solusi agar Prabu Jaya Bagendra terbebas dari bully dan kecaman.
Benar saja, sekitar pukul 24:00 ada dewa datang langsung, bukan hanya sekedar wisik atau WA model sekarang. Tampangnya lumayan tua, kalau orang sudah umur di atas 60 taun, pakai kupluk model ustadz pula. Dia datang lebih cepat karena besok pagi harus menghadiri seminar masalah lingkungan di sebuah negara. Dialah Betara Wisnu dari kahyangan Ngutara Segara.
“Solusinya paling jitu mengatasi banjir di negeri Ganggang Kencana hanya satu, bangunlah ribuan sumur Jalatunda di jalan-jalan dalam kota. Insya Allah air akan tersedot ke dalam sumur resapan itu dan jeneng kita terbebas dari kecaman publik,” begitu ujar Sanghyang Wisnu.
“Terima kasih pukulun, tapi sumur Jalatunda itu seperti apa. Sebagai raja penting saya malah baru denger,” kata Prabu Jaya Bagendra dengan takzim.
“Ya mirip sumur resapan biasa. Cuma karena ini produk langsung dari kahyangan, namanya dibuat lebih keren sedikit: jalatunda. Cuma jeneng kita (kamu) harus kordinasi dengan Betara Endra, dewa pengendali hujan. Artinya curah hujan dibuat normal saja, jangan berlebihan.” Pesan Betara Wisnu.
Betara Wisnu segara menghilang setelah memberi petunjuk. Tapi sejenak kemudian balik lagi, karena katanya korek api gasnya ketinggalan. Ternyata dewa bisa lupa juga ya, sebagaimana manusia. Kelebihan dewa hanya satu, mereka terbebas dari kematian. Itu saja! Soal dewa doyan perempuan ada nama Betara Surya. Bukan saja titah ngercapada wanita gadis (Kunthi), yang sudah punya suami diembatnya pula (Dewi Windradi). Benar-benar Sastro Pandelepan tingkat dewa. (Ki Guna Watoncarita).


