
PASUKAN rezim pemerintah Bashar al-Assad dan satuan-satuan milisi pendukungnya dalam posisi di atas angin pasca takluknya perlawanan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di wilayah kedua negara itu.
Kini, di front pertempuran, segenap kekuatan militer pendukung al-Assad bisa berkonsentrasi penuh menghadapi kelompok perlawanan yang tergabung dalam Tentara Pembebasan Suriah (FSA).
Assad agaknya berupaya mengembalikan pengaruh yang pernah lepas ke tangan FSA atau NIIS, dan sejauh ini dengan dukungan kekuatan udara Rusia tentunya, pasukannya telah berhasil merebut kembali lebih dari separuh wilayah Suriah.
Operasi militer besar-besaran kabarnya dilancarkan di bawah dukungan pesawat-pesawat tempur Rusia ke wilayah propinsi Idlib dan di sekitar ibukota, Damaskus yang menjadi basis terbesar pertahanan satuan FSA, Senin lalu (8/1).
Propinsi Idlib yang berbatasan dengan Turki sebelumnya dikuasai oleh kelompok perlawanan yang didominasi oleh barisan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang merekrut para mantan kombatan kelompok radikal, al-Qaeda.
Organisasi Pemantau HAM Suriah (SOHR) melaporkan,bombardemen udara dan serangan artileri ke titik-titik sasaran di kota Sinjar, di selatan Idlib menewaskan 21 orang termasuk delapan anak-anak dan 11 orang dalam satu keluarga.
SOHR memperkirakan jumlah korban jatuh lebih banyak lagi karena berada di bawah reruntuhan gedung-gedung yang porak poranda akibat gempuran artileri dan pemboman dari udara.
Selain Idlib, kelompok perlawanan juga masih menguasai wilayah Ghouta timur yang berpenduduk sekitar 400-ribu orang, bahkan mereka mengklaim telah mengepung pangkalan militer pemerintah di Harasta di dalam wilayah tersebut.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh antarnegara di kawasan, “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) serta konspirasi sektarian.
Perebutan hegemoni yang tajam terutama terjadi antara Arab Saudi dan Iran, menyeret Turki Iran, Irak serta Kurdi, sementara dari kelompok sektarian antara aliran Syiah dan Sunni.
Dua juta warga Suriah menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, 12 juta orang kehilangan nafkah dan 320 ribu tewas terjebak di tengah konflik yang berkecamuk sekitar enam tahun lalu.
Tidak jarang warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran dimanfaatkan kedua belah pihak yang bertikai sebagai tameng manusia (human shield), mati sia-sia.
Sejumlah pertemuan yang diprakasai PBB berujung kegagalan, karena terbentur isu utama yakni pro-kontra megenai kelanjutan pemerintahan petahana pimpinan Bashar al-Assad.
Konflik Suriah diperkirakan tidak bakal berujung sepanjang pihak-pihak yang berkepentingan tidak bisa menahan diri, mengedepankan kepentingan dan ego masing-masing. (AP/AFP/Reuters/ns)
.
,




