
KETERBATASAN lahan yang memicu persoalan krisis Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jakarta menjadi isu yang belakangan ini ramai dibicarakan publik.
“Hidup sudah susah, mati pun susah karena tidak mudah untuk mencari TPU saat ini, “ ujar Naim, penduduk Ciputat, Jakarta Selatan.
Hal itu diamini oleh Kepala Dinas Pertamanan Hutan DKI Jakarta, Fajar Sauri yang mengungkapkan, saat ini hanya tersisa sekitar 118.348 petak makam baru yang dapat digunakan di seluruh wilayah Jakarta.
Jumlah lahan yang tersisa diprediksi akan habis dalam tiga tahun mendatang, mengingat angka kematian di Jakarta cukup tinggi setiap harinya.
“Kapasitas lahan menyediakan 118.348 petak makam yang apabila pelayanan rata-rata 100 jenazah per hari, lahan tersedia sampai tiga tahun ke depan, tersebar 11 Taman Pemakaman Umum (TPU),” ujar Fajar saat dikonfirmasi, baru-baru ini.
Dari total 80 TPU di Jakarta, menurut Fajar, 69 di antaranya sudah tak bisa lagi dibuat makam baru.
Sebagian TPU Covid-19 Akan dialihfungsikan, sementara TPU yang penuh hanya melayani pemakaman tumpang, tak hanya satu, kini satu liang lahat di Jakarta banyak yang sudah digunakan dua hingga lima jenasah.
Yang masih bisa melayani pemakaman baru adalah TPU Rawa Terate, Cipayung, Cilangkap, Bambu Apus, Rorotan, Cipinang Besar, Tanah Kusir, Serengseng Sawah, Kampung Kandang, dan Tegal Alur.
Kenaikan poulasi
Pengamat Tata Kota sekaligus dosen di Universitas Trisakti Yayat Supriatna menyebut, penyebab krisis pemakaman di Jakarta bukan hanya lahan yang terbatas, melainkan juga angka populasi yang tinggi.
“Pertama akar masalahnya terletak pada populasi penduduk jadi akar demografi, karena demografi itu kan bercerita tentang angka kematian, kelahiran, dan migrasi,” ujar Yayat saat diwawancarai Kompas.com, Selasa lalu.
Selama ini, pemerintah hanya fokus mencatat angka kelahiran dan migrasi penduduk, sedangkan jumlah kematian seringkali dianggap tidak penting.
Hal itu lah yang membuat kebanyakan orang enggan memikirkan di mana mereka akan dimakamkan ketika meninggal nantinya.
Membahas soal kematian kerap kali dianggap tabu untuk sebagian besar orang. Padahal, angka kematian juga tak kalah penting untuk dihitung dalam mengelola kehidupan manusia di perkotaan.
Kemudian, migrasi juga berpengaruh besar terhadap meningkatnya populasi penduduk di Jakarta sepanjang tahun.
Tidak didukung daya tampung
Di tengah tingginya populasi warga Jakarta, daya tampung kota ini justru tak mendukung.
“Salah satu daya tampung dan dukungnya pada aspek pemakaman dan itu diperparah oleh harga tanah yang semakin mahal dan membuat pemerintah susah, (membukan lahan baru untuk pemakaman,” jelas Yayat.
Yayat bercerita, dulu ketika Jakarta belum menjadi kota besar, pemerintah selalu menempatkan pemakaman di pinggiran kota.
Namun, seiring berjalannya waktu, Jakarta bertumbuh menjadi kota besar dan kini banyak pemakaman yang berada di pusat kota.
Kemudian, pengelolaan makam di Jakarta juga terbagi dua, dikelola oleh pemerintah dan masyarakat pribadi seperti wakaf.
“Kalau makam yang dikelola pemerintah bisa diregister daya tampungnya berapa, tapi yang tidak bisa dikendalikan kan tanah wakaf,” ungkap Yayat.
Belum lagi banyak kasus tanah pemakaman wakaf tiba-tiba dijual oleh alih warisnya sehingga membuat lahan pemakaman di Jakarta kembali berkurang.
Hilangnya pemakaman-pemakaman di tengah kota Jakarta untuk pembangunan gedung-gedung bertingkat juga menjadi penyebab krisinya lahan kuburan di ibu kota.
Penyebab lain yang membuat krisis pemakaman di Jakarta adalah banyak warga yang ingin dikuburkan di lokasi tertentu agar satu area pemakaman dengan keluarga.




