Sutan Bathugana dan Sukamiskin

Prosesi pemakaman Sutan Bathugana. Foto: Ist

DIA pendiri Partai Demokrat, tapi sebagai politisi Partai Demokrat pula dia harus kehilangan jabatan, kebebasan dan sejumlah hartanya, karena terkena pusaran korupsi. Itulah Sutan Bhatugana (59), yang baru beberapa hari lalu meninggal dunia dalam status narapidana LP Sukamiskin Bandung. Terhadap orang yang baru saja meninggal, kita hanya boleh mengenang segala kebaikan almarhum. Maka terlepas dari status hukumnya, selayaknya diucapkan: selamat jalan, semoga segala dosa diampuni dan amalnya diterima di sisi-Nya.

Dalam buku “Ngeri-ngeri sedap menggoyang Senayan” karya Sutan Bhatugana sendiri, Presiden SBY dalam sambutannya mengakui bahwa Pak Sutan ini “benteng”-nya Partai Demokrat di Senayan dari serangan politisi-politisi lain yang suka menyudutkan partainya. Pendapat presiden ke-6 itu tidaklah salah manakala melihat sepak terjang Sutan misalnya di ILC (Indonesia Lawyers Club) di TV One Selasa malam. Pembawaannya yang kocak, menjadikan ILC terasa sepi tanpa kehadiran politisi dari Sumut itu.

Dia pernah mengkritik Karni Ilyas pemandu ILC tersebut. Ketika menyoroti kasus daging sapi impor, kenapa judul topiknya menjadi: Uang daging ke mana saja? Kata Sutan, itu bikin takut keluarga tentara. Sebab di masa kecilnya dulu, ayahnya yang Peltu TNI itu setiap mau Lebaran dapat uang daging. Katanya, “Gara-gara Pak Karni, keluarga TNI jadi takut ambil jatah uang dagingnya.”

Sutan Bhatugana juga menyayangkan, sejumlah pejabat publik terjebak korupsi karena beristri lebih dari satu. Akhirnya, banyak istri banyak korupsi. Masalahnya kebutuhan ekonominya membengkak. Gaji mestinya untuk satu bini, harus dibagi empat istri, ya meninggal! Untuk menutupi kebutuhan, dia harus selalu berkreasi bagaimana mendapatkan uang lebih.

Dalam sebuah  acara stand up comedy di TV dia pernah mengatakan, koruptor itu kawannya setan, sedangkan ustadz itu kawannya sutan, apa lagi Sutan Bhatugana! Dia juga mengingatkan bahwa profesi seseorang itu bisa juga dipengaruhi oleh nilai ujiannya saat kuliah dulu. Yang dapat nilai 8-9, bisa menjadi profesor doktor, dosen dan peneliti, menjadi pemikir. Yang punya nilai 6-7 jadi pengusaha, kadang untung kadang rugi. Tapi yang nilainya 4-5, larinya jadi politisi, kerjanya hanya teriak-teriak melulu.

Menyimak buku “Ngeri-ngeri sedap menggoyang Senayan”, menunjukkan karakter khas orang Batak, berani menghadapi problem an pantang menyerah. Bagaimana Sutan membangun keluarga dan partai hanya bermodalkan keahlian melobi. Gadis Nunung Suryati dari Yogya yang semula menolak cintanya, dikejar terus sampai akhirnya jadi istrinya juga. Bikin Partai Demokrat, dari 200 tokoh dan pengusaha yang tadinya siap menyeponsori, akhirnya tinggal 20 orang saja. Tapi berkat keuletannya, Partai Demokrat jadi juga bahkan berhasil mengantarkan SBY menjadi Presiden RI dua periode.

Lewat partai bentukannya, Sutan Bhatugana berhasil banyak membuat politisi “jadi orang”, baik yang di DPR maupun DPRD. Banyak pula yang jadi bupati, gubernur sampai menteri. Banyak yang bisa kaya lewat politik. Yang kuat iman, terus berjaya. Tapi yang lemah iman, banyak yang bertumbangan, dari politisi menjadi politikus –politisi mental tikus– di mana kariernya berakhir di jeruji besi.

Paling tragis, sang pendiri itu akhirnya terseret pusaran arus korupsi itu sendiri. Sutan Bhatugana sebagai Ketua Komisi VII sudah berusaha keras untuk menangkis tuduhan itu, tapi vonis mengharuskan dia masuk penjara 10 tahun. Ketika berkasasi di MA, malah ditambah menjadi 12 tahun. Sutan merasa jadi korban peradilan dunia. Selama di LP Sukamiskin jiwanya tidak menerima, sehingga ketika pertengahan Oktober 2016 dia tinggalkan LP untuk berobat atas sakit kanker hatinya, ternyata tak pernah kembali, karena telah dipanggil Sang Khalik 19 Nopember lalu. (Cantrik Metaram)

Advertisement