CIKONENG- Tiga tahun lamanya Nur Syabilah Azzahra, 4 tahun, melawan penyakit kanker yang menggerogoti matanya.
Kanker yang menyerang mata anak ini merupakan jenis kanker ganas, yang sudah metastase (menyebar) ke bagian organ tubuh yang lain dan kemungkinan sembuh sangat sulit.
Dokter sudah angkat tangan menanganinya. Namun Nur Syabilah tidak menyerah, ia terus sabar dengan penyakitnya dan terus berobat.
Penyakit itu dikenal dengan Retinoblastoma, atau kanker pada mata yang umumnya banyak dialami oleh anak-anak, namun dapat juga melanda orang dewasa.
Menurut dokter, retinoblastoma ini menyerang selaput jala mata atau retina yang terletak pada dinding mata sebelah dalam. Retinoblastoma dapat menyerang salah satu atau kedua mata. Kebanyakan penyakit ini terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Nur Syabilah sendiri, awalnya diketahui mengalami gangguan penglihatan sebelah kanan di saat berusia 1,5 tahun. Seperti mata kucing, bola matanya mendadak bercahaya jika kena sinar, namun yang di rasakannya silau luar biasa. Lama kelamaan matanya memerah dan bolamata menyembul keluar hingga retinanya pecah.
Ibunya Irmawati (25) yang bekerja di Serang tidak tinggal serumah denga Nur Syabilah, ia sehari-hari diurus oleh neneknya yang sudah menjanda di kampung halamannya, Kampung.Cikoneng RT003/03, Kelurahan Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Si nenek pun tak tega melihat kondisi cucunya, ia pun selama 3 tahun bolak -balik ke RSCM untuk mengobati cucunya seorang diri. Nur Syabilah dirawat di RSCM, neneknya dengan setia menunggu.
Jumat lalu, (28/7/2017) Nur Syabilah disarankan untuk pulang oleh dokter, karena dokter sudah angkat tangan dengan penyakitnya.
Untunglah ada orang yang membantu untuk mengontak Tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) LKC Dompet Dhuafa Jakarta-Banten, sehingga tim RDK segera turun untuk memfasilitasi kendaraan ambulans untuk memulangkan pasien.
Mamat Ismanto dan Perawat Lini dari Tim RDK turun ke RSCM untuk memastikan kondisi pasien ke RSCM.
“Kami berangkat dengan ambulans,” kata Mamat kepada KBK.
Namu, malang tidak dapat ditolak dan mujur tidak dapat diraih, baru saja sampai di fly over Matraman, Tim RDK mendapat telpon dari rumah sakit bahwa Nur Syabilah telah wafat.
“Innalillahi wa inna ilaihi roojiun,” ucap Nenek Sabila di ujung telpon. Tim RDK mencoba menenangkan, dan mengatakan sebentar lagi mereka akan sampai, telat karena jalan macet total.
Sesampainya di UGD RSCM, Ayah Syabila langsung menemui Tim RDK, dan akhirnya ambulans langsung parkir di ruang jenazah.
Sekitar Pukul 4 sore ambulans meluncur menuju Kampung Cikoneng dan sampai di sana Pukul 20.30 WIB. Setelah jenazah diserahkan kepada keluarga dan bertakziah sesaat, tim RDK pamit kembali ke markas. Selamat jalan Nur Syabilah Azzahra, jadilah penghias surga.





