
RAJA Salman bin Abdulazis sudah tinggalkan Jakarta, menuju ke Bali. Di depan Presiden Jokowi, DPR, ulama dan tokoh lintas agama, baginda raja banyak memuji prestasi Indonesia. Dan ini bukan hanya dari raja Salman saja, pihak Kedubesnya, persnya, selama ini juga banyak memuji Indonesia. Tapi hadits Nabi mengingatkan: taburilah mulut orang yang suka memuji.
Hari ini rombongan raja Salman masih berlibur di Bali. Selama baginda di Jakarta, Indonesia banjir pujian dari negeri Arab. Saat minggalkan Jakarta menuju ke Brunai dan terus ke Bali, raja Salman sempat kirim telegram pada presiden Jokowi. Begini pujian itu di alinea pertama, “Kami sangat senang seiring kami meninggalkan negara Anda yang sudah seperti saudara untuk mengirimkan kepada Yang Mulia, terima kasih dan apresiasi kami atas penerimaan yang hangat dan keramahan yang dermawan kepada kami dan menemani delegasi kami saat berkunjung ke Indonesia.”
Pers Arab Saudi juga sikap bangsa Indonesia ketika mengelu-elukan raja mereka. Meski hujan lebat mengguyur, rakyat tak bergeming melihat iring-iringan mobil ke Istana Bogor. Bahkan Presiden Jokowi rela berbasah-basah memayungi sendiri raja Salman dari guyuran hujan. Presiden lain mana ada seperti itu? Jangankan presiden, walikota saja pasti ngandelin ajudannya.
Orang Arab juga mengagumi dan memuji tertibnya jemaah haji Indonesia. Segala aturan yang berkaitan dengan prosesi haji, dipatuhi dengan tertib. Bahkan orang Arab juga memuji rakyat Indonesia, karena ribuan orang berhasil menjadi hafidz (penghafal Qur’an). Tapi pasti mereka gantian akan terkaget-kaget, ketika pengadaan kitab Qur’an itu menjadi proyek di Kementrian Agama, ada juga anggota DPR yang mencatutnya untuk berbuat korupsi.
Mengapa orang Arab gemar sekali memuji-muji Indonesia, terutama rombongan raja Salman ini? Padahal hadits Nabi mengatakan, “Taburilah mulut orang yang suka memuji.” Jelas ini sekedar kata kiasan, tak mungkin benar-benar orang yang demen memuji tersebut langsung ditaburi pasir mulutnya. Apa nggak gaber-gaber dia?
Taburi mulut dengan pasir memang sekedar kiasan, agar orang tidak terlalu berlebihan memuji orang. Sebab pujian yang menina-bobukkan, membuat orang jadi jumawa, takabur. Pada gilirannya nanti dia akan menjadi lupa diri. Akhirnya, gara-gara pujian nina bobok, bikin orang jadi mabok.
Sekitar tahun 1984, Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Harto berhasil swasembada beras. Sukses besar Orde Baru itu banyak menerima sanjungan. Ini sungguh luar biasa. Dua puluh tahun sebelumnya rakyat Indonesia banyak yang antri beras, kok sekarang (1984) sudah tidak lagi? Jaman presiden Sukarno ada yang sampai makan tikus. Jaman Pak Harto tak ada lagi yang makan daging tikus, tapi jadi tikus (negara) memang banyak. Itu terjadi hingga sekarang.
Gara-gara sanjungan itulah, pemerintah Orde Baru jadi terlena, sehingga lambat laun tak bisa lagi swasembada beras, justru sebaliknya, jadi pengimpor beras. Klimaksnya terjadi di tahun 1997, terjadilah krismon, sehingga akhirnya Orde Baru harus tumbang dan Pak Harto lengser di 21 Mei 1998.
Ada yang bilang, sanjungan itu ibarat racun, dan kritikan itu merupakan obat. Yang jelas, tak semua orang bisa memberikan sanjungan secara tulus. Kebanyakan ada pamrihnya. Paling tidak, menyanjung itu sekedar cari aman, sedangkan mengkritik itu cari penyakit. Jaman Orde Baru berani mengkritik terlalu tajam, bisa lewat. Koran bisa ditutup, anggota DPR bisa direcal, pejabat bisa didubeskan.
Makanya, waspadalah menerima sanjungan, dan bijaklah menerima kritik. Sebab bila bisa menyikapi kritik dengan baik, akan membuat orang berintrosepeksi, memperbaiki diri. Sebaliknya yang disanjung bisa bisa jadi takabur, akhirnya malah sekedar jadi tukang bubur. (Cantrik Metaram).




