DENGAN langkah gontai Bambang Sumantri pulang ke pertapan Ardisekar dengan naik bis Rosalia Indah jurusan Magada-Maespati. Biasanya perjalanan itu ditempuh dalam waktu 8 jam, tapi setelah ada tol bisa dipercepat tinggal 5 jam saja. Maka diperkirakan pukul 03:00 dinihari sudah sampai kampung halamannya, sebab tidak lagi pakai istirahat di Indramayu.
Bedug Subuh Sumantri tiba di pertapan Ardisekar. Suara adzan menyambutnya. Di sini mesjid tak begitu banyak, sehingga pengeras suaranya belum perlu diatur oleh DMI dan Menteri Agama. Meski kadar suaranya di atas 100 decibel sekalipun, tak ada yang protes, sebab tidak sampai terdengar bersahut-sahutan. Penduduk juga saling memaklumi, karena toleransi keagamaan di Ardisekar cukup tinggi.
“Ee, akang Atli pulang, mana oleh-olehnya,” tegur Sokrasana senang sekali, karena kakak yang selalu dirindukan telah kembali.
“Ada nih, sekedar kue simping.” Jawab Bambang Sumantri.
Hallah……jauh-jauh dari Magada oleh-olehnya kok kue jadul tahun 1960-an. Kue begituan sih di Ardisekar juga banyak, buat suguhan tempat orang kesripahan. Namun demikian agar tak bikin kecewa sang kakak, Sokrasana mengucapkan banyak terima kasih juga. Dia langsung membukanya dan memakannya sedikit demi sedikit.
Tetapi sambil ngemil Sokrasana memperhatikan, kakaknya terlihat murung. Sebentar-sebentar mengambil napas dalam-dalam, sepertinya sedang ada masalah besar berkutat dalam pikirannya. Sokrasana lalu mempertanyakan, kenapa gerangan? Tapi hanya dijawab: nggak papa! Presis gaya Presiden Jokowi ketika dibully kaum oposan dan para kadrun.
“Angan diutup-utupi akang Atli. Amu kan akakku cendili, usahmu uga usahku uga. Ayo elus elang, ciapa tau aku bisa antu. Cegala eculitan alo dipikil belsama adi lingan…”,. kata Sokrasana dengan bahasa yang pelo.
“Bener dimas Sukasrana, kamu memang adikku yang hebat,” ujar Bambang Sumantri sambil merangkul tubuh sang adik. Air mata kembali bercucuran, seperti air hujan masuk sumur resapan di DKI Jakarta.
Bambang Sumantri pun bercerita bla bla bla….., kisah tentang pasang giri di Magada, tapi panitia pelaksananya tak profesional. Aturan bisa berubah-ubah semaunya sesuai selera penguasa, ketika acara sudah berlangsung. Tentu saja bikin repot peserta. Dirinya yang sudah memenangkan pertandingan, tak bisa langsung memboyong Dewi Citrawati sebagai piala, gara-gara persyaratan baru harus mampu memindahkan atau memutar Taman Sriwedari ke Maespati dalam waktu semalam.
Sebenarnya Sokrasana juga sedikit banyak tahu pasang giri di Magada itu, karena mengikuti lewat media online. Awalnya dia bangga kakak kandungnya berhasil memenangkan sayembara. Tapi ketika ada persyaratan tambahan harus memutar Taman Sriwedari dari Magada ke Maespati dalam semalam, Sukrasana menduga bahwa Dewi Citrawati menolak secara halus. Bagaimana mungkin memindahkan taman begitu luas hanya dalam semalam. Proyek sirkuit Formula-E di Ancol saja diragukan 3 bulan bisa kelar. Kok ini ditargetkan dalam semalam, memindahkan gethuk apa?
“Akang Atli angan sedih anti saya bantu.” Kata Sokasrana kemudian.
“Memangnya dimas Sokrasana bisa?” Sumantri bertanya, kesannya meragukan.
“Coba saja, tapi saya nggak janji lho ya…” kata Sokrasana lagi.
“Terima kasih adikku….,” tambah Bambang Sumantri. Kembali adiknya didekap kuat-kuat. Titik terang rupanya telah ditemukan.
Jelek-jelek begini Sokrasana ini memang wayang sakti banyak koneksi, termasuk para dewa di kahyangan Jonggring Salaka. Jelek ketemu jelek, maka sohibnya di sana adalah Betara Tembara, dewa yang bertampang mirip Sokrasana juga. Tapi karena persahabatan itu, Betara Tembara suka membantu segala kesulitan yang dialami Sokrasana. Termasuk jika ada kesulitan keuangan.
Sementara Bambang Sumantri ketemu sang ayah Begawan Suwandagni, diam-diam Sokrasana blass……pergi ke kahyangan ketemu sohibnya. Betara Tembara ini dewa yang pinter melucu seperti Cak Lontong, sehingga sering jadi pengocok perut dalam setiap perhelatan di Jonggring Salaka. Cuma selama pandemi Corona dia kehilangan job, makanya sering di rumah saja.
“Masih tanggal muda kok ke sini, memangnya sudah babis-habisan?” ledek Betara Tembara.
“Bisa saja ente! Memangnya setiap gue ke sini mau minta duit?” jawab Sokrasana sambil tertawa lebar, memamerkan 32 giginya yang gingsul semua.
Bayangin, dewa kahyangan hanya diente-ente saja, tanpa panggilan standar untuk para dewa: pukulun. Tapi faktanya Betara Tembara juga tetap nyaman saja, tidak merasa tersinggung diente-entekan wayang ngercapada. Padahal biasanya, wayang bumi berani sama dewa bisa kuwalat. Tahukah apa itu kuwalat? Konon kepalanya terbalik di bawah sementara kaki di atas, jadi kalau minum balik terus!
Sokrasana kemudian mengungkapkan tujuannya ke Sela Mangumpeng siang ini, yakni karena ditangisi oleh kakaknya, Bambang Sumantri. Sang kakak ditugaskan memindahkan Taman Sriwedari dari Magada ke Maespati dalam tempo semalam saja. Tapi dia merasa tidak mampu. Padahal jika gagal, batal memboyong Dewi Citrawati dan batal pula menjadi pejabat di Maespati.
“Maka tolong ente bantu kakak saya, ketimbang stress dan masuk RSJ Kramat, Magelang.” Mohon Sokrasana serius.
“Memindahkan Taman Sriwedari dalam beberapa menit juga bisa, tapi dampak lingkungannya diantisipasi belum? Ini yang lebih penting,” nasihat Betara Tembara.
Bagi Betara Tembara, memindahkan Taman Sriwedari tak ubahnya memindahkan pohon besar saja. Bekas bongkaran Taman Sriwedari akan menciptakan lobang besar dan dalam, sementara di tempat baru juga harus dipersiapkan lobang yang dalam dan lebar dengan ukuran sangat presisi. Konsekuensinya harus ada pembebasan lahan di Maespati, lalu bagaimana pula kompensasi untuk rakyat yang tergusur. Jaman sekarang rakyat ogah jika hanya diberi ganti rugi. Apa mau jadi kasus Wadas kedua? (Ki Guna Watoncarita)



