Tanam Benih Cabai Berbakteri, Empat Warga Cina Ditangkap di Bogor

Ilustrasi/ Foto: kebunpedia

BOGOR – Empat warga negara China yang ketahuan menanam benih cabai yang positif terinfeksi bakteri berbahaya jenis Erwinia chrysantemi, organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1, sudah ditangkap pihak kepolisian.

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa bakteri perusak tanaman Erwinia chrysanthemi sebelumnya tidak ada di Indonesia. Hal ini baru ditemukan saat Badan Karantina dan Imigrasi mendapati warga Tiongkok menggunakan benih terinfeksi bakteri itu untuk bercocok tanam di Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu.

“Kami menemukan yang kemarin dimusnahkan itu, ada dua kilogram dan tanaman yang sudah ditanam di lahan 4.000 meter,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini, dikutip dari antara.

Atas temuan ini, Anggota Komisi IV DPR, Hermanto, mengingatkan bakteri berbahaya yang terinfeksi dalam benih cabai yang ditanam oleh warga Tiongkok di Bogor bisa mengancam kedaulatan pangan Indonesia.

“Bakteri berbahaya itu bisa menular dan menimbulkan penyakit pada tanaman lainnya, sehingga tanaman yang tertular bakteri itu selanjutnya akan berkurang produktivitasnya. Ini merupakan ancaman yang serius dan bisa mengakibatkan krisis pangan di Indonesia,” katanya,  Selasa (13/12/2016).

Menurut dia bakteri tersebut harus bisa dimusnahkan tanpa bekas karena jika tidak Indonesia yang negara agraris bisa menjadi sangat tergantung pada pangan impor.

“Saya mengapresiasi kinerja karantina pertanian yang bisa mendeteksi masuknya bakteri berbahaya ke Indonesia. Tapi mestinya, benih dari luar tidak boleh dulu ditanam di dalam negeri sebelum dipastikan aman,” ujarnya.

Dia berharap ke depan karantina harus diperketat dan diperkuat dan tidak boleh lagi ada benih dan atau bibit dari luar yang ditanam di dalam negeri sebelum dipastikan aman.

Hermanto juga mendesak pemerintah agar segera menindak warga Tiongkok penanam benih cabe terinfeksi bakteri ganas tersebut.

“Preseden buruk ini mestinya menjadi sinyal bagi pemerintah agar mewaspadai penguasaan lahan pertanian oleh asing,” katanya.

Advertisement