Tarique Rahman, dari Pengasingan ke PM Bangladesh

Tarique Rahman (60) dari Partai Nasionalis Bagladesh (BNP) hampir dipastikan menang dalam pemilu Bangladesh yang digelar Minggu ini (15/2) untuk menduduki perdana menteri.

TARIQUE Rahman (60) yang bertahun-tahun tinggal di pengasingan (exil) di luar negeriĀ  dipastikan akan menjadi Perdana Menteri Bangladesh berikutnya, menandai babak baru di kancah politik negara di belahan Asia Selatan itu.

Kembalinya Rahman dinilai dramatis, seperti dilansir the Independent, mengingat ia hampir dua dekade hidup dalam pengasingan (assylum) sukarela di London.

Kemenangannya dalam Pemilu Bangladesh yang krusial ini membuatnya mengikuti jejak pasangan orang tuanya: Pesiden ke-7 Bangladesh Ziaur Rahman dan ibunya PM perempuan pertama negeri itu, Khalida Zia.

Kemenangan dalam pemilu ini menjadi titik balik penting bagi Rahman yang meninggalkan Bangladesh pada 2008 lalu kembali untuk menjadi calon terkuat PM Bangladesh baru.

Saat itu, ia menyatakan harus menjalani perawatan medis usai dibebaskan dari penahanan oleh pemerintahan sementara yang didukung militer, di tengah operasi pemberantasan korupsi.

Ia akhirnya kembali ke tanah air dan disambut bak pahlawan pada perayaan Natal lalu. Kepulangannya terjadi setelah gelombang pemberontakan yang dipimpin kaum muda menggulingkan rival utama Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), mantan perdana menteri Sheikh Hasina dari Liga Awami, pada Agustus 2024.

BNP yang dipimpin oleh Rahman, telah mengumumkan kemenangan telak dalam pemilu pertama negara tersebut sejak pemberontakan mahasiswa pada 2024 yang menyebabkan penggulingan Sheikh Hasina.

Pada Jumat (13/2/2026), unit media BNP menegaskan telah memperoleh cukup kursi parlemen untuk membentuk pemerintahan secara mandiri. Meskipun Komisi Pemilihan Umum (EC) belum mengumumkan hasil akhir, sejumlah media lokal telah mengonfirmasi kemenangan partainya.

Rahman, yang kerap tampil dengan kacamata, lahir di Dhaka pada 20 November 1965 sebagai putra mantan pasangan suami-isteri PM Khaleda Zia dan mantan Presiden Ziaur Rahman, pendiri BNP.

Ia sempat menempuh studi hubungan internasional di Universitas Dhaka dan sempat putus kuliah. Rahman lalu terjun ke dunia usaha dengan membangun bisnis di sektor tekstil dan komoditas pertanian.

Sekembalinya ke Bangladesh, Rahman berupaya membentuk citra baru sebagai negarawan yang mampu melampaui persoalan panjang keluarganya di bawah pemerintahan Sheikh Hasina.

Label lama sebagai sosok agresif pada era pemerintahan BNP 2001–2006 perlahan ditinggalkan. Meski tak pernah menduduki jabatan resmi, ia kerap dituding mengendalikan pusat kekuasaan bayangan saat ibunya menjabat perdana menteri.

Namun, tuduhan tersebut selalu ia bantah. ā€œApa manfaat balas dendam bagi seseorang? Orang-orang harus meninggalkan negara ini karena balas dendam. Ini tidak membawa kebaikan apa pun,ā€ ujarnya.

ā€œYang kita butuhkan saat ini di negara ini adalah perdamaian dan stabilitas,ā€ tambahnya.

Incaran penguasa

Rahman pernah menjadi incaran di era rezim Seikh Hasina, bersama demonstran lainnya, saat protes menentang seruan lockdown oleh Liga Awami Bangladesh di Dhaka, pada 13 November 2025.(Al Jazeera)

Di era Hasina, Rahman menjadi target sejumlah kasus korupsi dan dijatuhi vonis secara in absentia.

Pada 2018, ia juga divonis penjara seumur hidup terkait serangan granat 2004 dalam sebuah rapat umum yang dihadiri Hasina.

Ia menolak seluruh tudingan itu dan menyebutnya bermotif politik. Setelah Hasina terguling, seluruh kasus tersebut dibatalkan.

Dari London, ia sebelumnya hanya bisa menyaksikan partainya terus terdesak dalam pemilu demi pemilu, dengan para elite dipenjara, kader menghilang, dan kantor partai ditutup.

Kini, Rahman tampil lebih tenang dan menghindari retorika konfrontatif. Ia memilih menyerukan rekonsiliasi, pengendalian diri, serta pemulihan kepemilikan negara oleh rakyat dan penguatan kembali institusi.

Pesan ini membangkitkan optimisme di kalangan pendukung BNP yang menginginkan babak baru.

Di kalangan internal BNP, pengaruh Rahman disebut sangat dominan, bahkan dikabarkan mengawasi langsung seleksi kandidat, strategi politik, hingga pembicaraan koalisi.

Peran yang sebelumnya ia jalankan dari luar negeri. Meski lahir dari dinasti politik, Rahman menegaskan komitmennya pada demokrasi sebagai agenda utama.

ā€œHanya dengan mempraktikkan demokrasi kita dapat makmur dan membangun kembali negara kita. Jika kita mempraktikkan demokrasi, kita dapat menegakkan akuntabilitas,ā€ katanya.

ā€œJadi kita ingin mempraktikkan demokrasi, kita ingin membangun kembali negara kita,ā€ tandasnya.

Pemimpin baru selalu menciptakan harapan baru bagi rakyat Bangladesh. Waktu lah yang akan membuktikannya. (the Independent/the Guardian, Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here