PIHAK-PIHAK berkepentingan dan mata dunia tertuju dan menanti hasil investigasi tim kepolisian Malaysia terkait dugaan penggunaan racun pada kasus kematian misterius Kim Jong Nam, kakak tiri Presiden Korea Utara Kim Jong Un di negeri jiran itu.
Namun, uji toksikologi untuk mengetahui zat racun yang digunakan memerlukan waktu lama karena kemungkinan harus dikirim ke Jepang atau dinas rahasia AS, FBI yang memiliki peralatan dan fasilitas lebih lengkap dan canggih ketimbang Malaysia.
Jong Nam berdasarkan rekaman CCTV, tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah sebelumnya ia didekati dua perempuan yang mengusapkan sesuatu ke wajahnya di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) saat sedang menanti penerbangan ke Makau (13/2).
Selain WN Indonesia Siti Aisyah, tiga orang lainnya yang berhasil diciduk polisi Malaysia atas dugaan keterlibatan mereka dalam pembunuhan politik tersebut yakni perempuan WN Vietnam, Doan Thi Huong (28), pria WN Malaysia Muh. Farid (26) dan pria WN Korut Ri Jong Chol (46).
Empat terduga pelaku WN Korut lainnya yang juga berhasil diindentifikasi yakni Ri Ji Hyon, Hong Song Hak dan Ri Jae Nam yang tiba di Malaysia beberapa hari menjelang peristiwa dan berangkat menuju Dubai di hari sama saat terjadinya peristiwa itu.
Namun mengenali zat yang digunakan dalam kasus pembunuhan politik bukan soal mudah, karena konspirasinya terstruktur jika melibatkan dinas rahasia, juga bisa melalui rekayasa atau menggunakan tangan-tangan pihak lain sehingga aktor utamanya sukar ditelusuri.
Jika pembunuhan dengan racun, zat yang digunakan tentu juga hasil racikan ahli toksikologi tingkat tinggi karena harus mematikan dalam sekejap dan karena dilakukan di tengah orang berlalu-lalang, aksi pembunuhan dilakukan sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian.
Di antara jenis racun yang sering digunakan antara lain arsenik yang menewaskan sejumlah tokoh terkenal seperti Napoleon Bonaparte dari Perancis, Raja Inggeris George III dan pejuang Amerika Latin Simon Bolivar.
Sedangkan sianida dalam bentuk gas digunakan oleh Nazi Jerman untuk membunuh etnis Jahudi secara massal di kamar-kamar gas atau dalam bentuk kapsul, dikalungkan di leher dan digunakan bunuh diri oleh gerilyawan Tamil atau juga oleh agen-agen dinas rahasia jika tertangkap musuh.
Ada lagi racun strychnine untuk menyerang sistem syaraf yang menyebabkan korbannya bereflek reaksi secara berlebihan dan mati antara 10 atau 20 menit setelah terpapar, sedangka racun risin terbuat dari ekstrak biji jarak (astor bean) juga mematikan.
Kasus pembunuhan politik dialami wartawan Bulgaria Georgi Markov yang membelot ke Inggeris di era Perang Dingin pada pada 1978. Ia tewas tiga hari setelah seseorang menghampiri dan menusuknya dengan ujung payung di sebuah halte di kota London. Berdasarkan investigasi, Markov terpapar racunn risin.
Pelakunya tidak terungkap sampai kini, namun diduga polisi Bulgaria dibantu Dinas Rahasia Uni Soviet, KGB.
Sementara itu, alibi Siti Aisyah bepergian ke Malaysia juga mengarah dugaan keterlibatannya pada kasus pembunuhan Jong Nam, apalagi berdasarkan pengakuan ibunya (Baenah) pada Reuters. Aisyah mengatakan akan shooting acara komedi, melakukan adegan surprise dengan menyemprotkan parfum pada wajah seseorang.
Jika tidak terlalu lugu, mestinya Aisyah curiga dan menolak untuk melakukan adegan tidak lazim tersebut, karena cairan apa pun yang disemprotkan ke wajah orang, air mineral sekalipun, pasti akan membuat orang terganggu.
Korban konspirasi
Namun jika keterlibatan Aisyah benar sekali pun, seperti yang diduga oleh Wapres Jusuf Kalla, Aisyah hanya lah korban tipu daya konspirasi yang merekayasa rencana pembunuhan Jong Nam.
Misteri kematian Jong Nam membuat hubungan diplomatik antara Korut dan Malaysia memburuk, bahkan Malaysia dilaporkan sudah menarik dubesnya dari Pyongyang.
Penyebabnya, Korut menghendaki agar jasad Jong Nam dipulangkan dan keberatan diotopsi oleh otoritas Malaysia. Sebaliknya, Malaysia berpendirian, otopsi perlu guna memastikan penyebab kematian Jong Nam sesuai dengan hukum di negara itu.
Lagipula, peristiwa pembunuhan itu berada di wilayah jurisdiksinya.
“Malaysia tidak memiliki alasan menempatkan Korut dalam cara pandang yang buruk. Kami hanya menerapkan aturan hukum di Malaysia, “ tegas PM Malaysia Najib Razak seraya menambahkan, dokter yang melakukan investigasi bertindak sangat obyektif.
Sebaliknya, Dubes Korut untuk Malaysia Kang Chol menganggap investigasi yang dilakukan otoritas Malaysia terhadap kasus ini bermotif politik guna membangun kecurigaan pada Korut da ada sesuatu yang disembunyikan.
Bahkan Kang Chol juga menuduh Malaysia bekerjasama dengan musuh-musuh Korut yang putus asa dan ingin membalas dendam. “Korsel yang berupaya menutup-nutupi kasus korupsi berada di balik semua ini , “ ujarnya.
Dilindungi Tiongkok
Jong Nam selama di pengasingan dilindungi oleh pemerintah Tiongkok dan menetap bersama isteri dan anaknya di Beijing, namun ia juga sering berada di Hongkong atau di Makau bersama isteri keduanya.
Demi keamanan dirinya, Jong Nam juga sering menggunakan paspor palsu. Termasuk saat menjelang kematiannya, menurut polisi Diraja Malaysia, di paspornya tertera nama Kim Chol.
Almarhum saat hayatnya dikenal sangat kritis atas sepak-terjang rezim Korut dinasti keluarganya di bawah Kim Jong Un, bahkan menyatakan rezim adik tirinya itu akan ambruk jika tidak segera mereformasi diri.
Jong Nam lahir dari hubungan cinta di luar nikah antara Presiden Kim Jong Il dengan artis asal Korsel Son Har-rim atau kakak tiri Presiden saat ini Kim Jong Un yang merupakan anak bungsu Jong Il.
Jika terbukti dihabisi dengan racun, zat yang digunakan kemungkinan racikan yang dibuat oleh ahli racun berkemampuan tinggi, mengingat racun mematikan itu cuma diusapkan ke wajah korban.
Berbeda dengan kasus Wayan Mirna Salihin yang tewas akibat racun sianida yang diseruput korban disedu dengan racikan kopi Vietnam, sementara aktivis HAM Munir yang meninggal akibat racun sianida yang dicampur pada makanan yang disantapnya di pesawat.
Walaupun rumit dan sulit, kasus kematian Jong Nam harus diselidiki sampai tuntas, agar dunia bisa menyaksikan siapa pelaku dan aktor sebenarnya di balik peristiwa itu dan juga memastikan, jika terlibat pun, Siti Aisyah hanyalah korban tipu daya. (AFP/Reuters/NS)
Sementara Kim Jong Nam, tokoh yang hidup di pengasingan akibat menentang rezim otoriter Kim Jong Un, menghembuskan nafas di tengah jalan menuju RS karena kolaps setelah seseorang menepuk wajahnya – diduga menyemprotkan racun mematikan – saat ia akan mengejar penerbangan ke Macau.
PM Korsel Hwang Kyo-ahn menilai, jika Jong Nam terbukti dibunuh oleh agen-agen Korut, hal ini semakin menegaskan kebrutalan yang dilakukan oleh rezim Kim Jong Un. Menurut catatan, sejak berkuasa sepeninggal ayahnya, Kim Jong Il pada 2011, Jong Un telah mengeksekusi 400 orang termasuk pamannya, Jang Song Thaek yang dianggap penghianat, tidak loyal terhadap negara
Jong Nam selama ini dilindungi oleh pemerintah Tiongkok dan menetap bersama isteri dan anaknya di Beijing, namun ia juga sering berada di Hongkong atau di Macau bersama isteri keduanya.
Demi keamanan dirinya, Jong Nam juga sering menggunakan paspor palsu. Termasuk saat menjelang kematiannya, menurut polisi Diraja Malaysia, di paspornya tertera nama Kim Chol.
Warga Negara Indonesia
Yang mengherankan, seorang WNI asal Tangerang, Banten berinisial SA termasuk yang ditahan polisi Malaysia atas dugaan terlibat pembunuhan Jong Nam selain seorang perempuan lain asal Vietnam, Doan Thi Huong dan seorang pria Malaysia yang tidak disebutkan identitasnya.
Sejauh ini tim Kementerian Luar Negeri RI yang dikirim guna memastikan identitas SA sebagai WNI, dan jika terbukti, untuk memberikan pendampingan pada yang bersangkutan, belum diizinkan oleh otoritas Malaysia untuk menemuinya.
Seorang anggota parlemen Korsel, mengutip keterangan intelijen negaranya, hampir memastikan, kedua perempuan yang ditangkap aparat keamanan Malaysia berdasarkan citra CCTV tersebut adalah agen rahasia Korut.
Jong Nam selama ini dikenal sangat kritis atas sepak-terjang rezim Korut dinasti keluarganya di bawah Kim Jong Un sehingga kemungkinan ia dihabisi.
Serangan Jong Nam bertambah keras sepeninggal ayahnya dan menyatakan Korut bagaikan buah si malakama. Bakalan ambruk jika tidak mereformasi diri, sebaliknya, jika mereformasi diri, yang ambruk adalah rezim dinasti Kim.
SA sendiri, berdasarkan identitas diri di paspor yang dibeberkan imigrasi Malaysia, berasal dari Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, 15 KM dari pusat kota Tangerang.
Menurut penuturan ibunya, Baenah (50) pada harian Kompas (18/2), SA berjualan pakaian di Pulau Batam, sedangkan menurut seorang tetangganya, SA sebelumnya pernah tinggal dan bekerja di perusahan konveksi di kawasan Tambora, Jakarta Barat.
Ketua RT Sindangsari, Sukria menuturkan, SA pernah pulang beberapa hari ke desanya saat liburan imlek akhir Januari lalu.
Sementara Wapres Jusuf Kalla sendiri meragukan dugaan bahwa SA adalah agen rahasia Korut dan mengira ia malah menjadi korban rekayasa oleh komplotan pembunuh Jong Nam.
Publikasi tentang kematian Jong Nam juga tidak tampak di tengah euforia pesta kembang api untuk memperingati HUT Kim Jong Il, ayah Jong Nam dan juga ayah Presiden Jong Un, Kamis, 17 Februari. Warga berbondong-bondong meletakkan karangan bunga di bawah patung raksasa Kim Jong Il dan bapak bangsa Korut Kim Il Sung di Bukit Mansu.
Ketegangan terjadi antara Pemerintah Malaysia yang meminta sampel DNA keluarga Jong Nam guna menyelidiki jenis racun yang digunakan untuk menghabisinya, namun Korut mendesak agar Malaysia tidak melakukan otopsi, dan segera memulangkan zenasah Jong Nam.
Hasil peradilan di Malaysia juga nanti yang akan menguak siapa dan apa motif pembunuhan terhadap Jong Nam, racun yang digunakan serta peran yang dimainkan oleh AS.





