MENYAMBUT Hari Bayangkara ke-76 1 JuliĀ lalu Polri menyelenggarakan Hoegeng Awards 2022. Kenapa Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo mengangkat sosok mantan Kapolri (1968-1971) tersebut? Karena beliau memiliki kejujuran luar biasa, sehingga insan bayangkara negara diharapkan bisa meneladaninya. Tapi ironisnya, baru seminggu Hoegeng Awards berlalu, Polri dalam kasus baku tembak di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, langsung diuji kejujurannya. Sebab penjelasan pihak Kepolisian justru menciptakan Teka Teki Silang di tubuh Polri.
Bagaimana tak disebut sebagai āTeka Teki Silangā? Banyak kejanggalan dari penjelasan Polri, sehingga Menko Polhukam Mahfud MD dan sejumlah anggota DPR angkat bicara. Tapi ketika penjelasan versi Mabes Polri itu jatuh di tangan warganet, di mana mereka tak peduli batasan etika beropini di medsos, akhirnya menimbulkan silang pendapat yang menafikan asas praduga tak bersalah. Dan munculah opini liar cenderung radikal, tetapi masuk akal!
Dari penjelasan Polri disebutkan, terjadi tembak menembak antara Brigadir Joshua (J) dan Bharada Eliezer (E), setelah terdengar jeritan istri Irjen Ferdy Sambo bernama Putri Candrawati, dari kamarnya. Bharada E bertanya, āAda apa bang?ā Tapi dijawab dengan tembakan, maka E pun membalas dan terjadilah baku tembak antar sesama insan bayangkara negara. Brigadir Joshua pun tewas, sementara Bharada J tubuhnya tetap mulus tanpa kena sasaran peluru. Kata polisi, Brigadir Joshua menodong senjata pada istri Irjen Ferdy Sambo, berkaitan dengan tindak pelecehan seksual.
Di sinilah kejanggalan demi kejanggalan terjadi. Pertama, peristiwa terjadi Jumat 9 Juli 2022, kenapa baru dibuka Senin3 hari berikutnya?. Dua, saat kejadian di mana Irjen Ferdy Sambo? Katanya sedang test PCR, kenapa Bharada E selaku pengawal tak menyertainya. Tiga, setelah peristiwa tembak menembak itu, kenapa CCTV-nya langsung diganti? Empat, kenapa RT-nya sendiri yang mantan jendral polisi, tak dilapori dan kenapa tak mendengar terjadinya tembak-tembakan itu? Lima, kenapa mulut Bripda Joshua alm giginya jadi berantakan? Enam, kenapa pula Putri Candrawati melaporkan Brigadir J ke polisi, sedang dianya sudah tewas atau wafat istilah wartawan masa kini.
Jika dirunut masih banyak kejanggalan-kejanggalan lain dalam tragedi tembak-menembak di rumah dinas Polri Duren Tiga Jaksel tersebut. Misalnya saja soal penjelasan Kapolres Jaksel tentang kejadian Jumat sore tapi baru diungkap Senin. Katanya, mungkin wartawan sedang fokus ke liputan Idul Qurban. Ini lucu, sebab liputan Idul Adha kan sudah diketahui sebelum hari H, dan itu sudah diliput sesuai bidang tugas masing-masing. Sedangkan insiden Duren Tiga, biasanya wartawan kriminal setiap hari ngglibet di Polres-Polres.
Di media online Ā banyak tulisan mendesak kejujuran polisi, apa lagi ini masih dalam suasana Hoegeng Awards. Paling sadis opini di medsos, sehingga kepercayaan rakyat pada polisi pun tergradasi. Padahal Polri sedang mati-matian menegakkan citranya kembali. Sebagaimana hasil survei Litbang Kompas, kepercayaan publik sempat mencapai 78,7 persen pada April 2021. Tapi pada survei Juni 2022, citra polisi menurun pada 65,7 persen. Jika kasus ini terus ditutupi, bukan tidak mungkin citra Polri akan menurun lebih tajam lagi.
Youtuber Alifurahman di Seword TV merasa cemas jika Polisi kehilangan kepercayaan dari rakyat, sehingga dia berusaha meyakinkan publik bahwa semua alasan polisi itu masuk akal. Soal Bharada E yang mulus tanpa cidera misalnya, itu berkaitan dengan tangan Brigadir J yang terluka, sehingga tembakannya tak lagi akurat. Ibarat kata, tembak kaki kena kepala, tembak kepala kena kaki.
Rakyat memang banyak yang kecewa. Polisi getol kampanye kejujuran lewat Hoegeng Awards, tapi kok dalam kasus insiden di rumah dinas Polri terkesan banyak yang mau ditutupi. Untung Kapolri Listyo Sigit segera menon-aktifkan Irjen Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam. Polisi pun mulai terbuka; tadinya permintaan keluarga untuk visum ulang jenazah Brigadir J ditolak, kini sudah diizinkan.
Tujuan penon-aktifkan Irjen Ferdy Sambo adalah untuk memperlancar penyidikan. Dengan lancarnya penyelidikan, niscaya teka-teki silang yang cukup membingungkan di Polri ini segera terjawab dan selesai. Ini demi menegakkan wibawa Polri, apa lagi masih dalam suasana Hoegeng Awards. (Cantrik Metaram)





