“Tentang Kematian”

Ilustrasi jenazah

Setiap mendengar berita kematian hati saya tersentak. Apalagi yang berpulang itu adalaho rang dekat atau kita kenal baik.

Seperti minggu ini, ada tiga orang sahabat di tempat berbeda meninggal dalam usia muda. Seolah tak percaya tapi nyata.

Bahwa kematian bukan soal usia muda atau pun tua. Bukan juga akibat sakit atau bukan.

Tentang kematian tidak seorang pun yang tahu kapan datangnya. Tak juga dokter dengan ilmu dan teknologi tinggi bisa memvonis usia seseorang.

Ajal mutlak kewenangan Allah. Hanya saja kita mesti sadar bahwa setiap helaan nafas dan detik jam sesungguhnya mengantar kita dekat ke pintu kubur.

Pada akhirnya semua kita akan mati. Tidak ada yang bisa mengelak. Sekalipun kita dibentengi tembok yang kokoh.

“Maka jika datang waktu kematian, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun (QS. An-Nahl: 61).

Kematian disebut kiamat kecil. Maka kita yang mendapat beritanya, diminta ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun, yang artinya bahwa sesungguhnya semua itu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Kematian orang lain adalah nasihat penting bagi kita yang masih hidup. Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.

Tak ubahnya seperti guru yang
baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Zikrul maut adalah cara agar kita bisa menyiapkan kematian terbaik, husnul khotimah. Kita berdoa agar terhindar dari kematian yang buruk, suul khotimah. Pilihan akhir hayat hanya dua itu saja.

Ketika ‘Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, “Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bisa lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari”.

Jika kematian adalah kepastian, bagaimana bekal kita menjalaninya? Sholat yang lalai dan tak khusuk, infak masih pelit, zakat kadang terlupa, baca Qur’an sekedarnya, ibadah sunnah tak tertunai, lisan tak terjaga, mata banyak maksiat, sering berprasangka dan berputus
asa, tak peduli penderitaan orang lain dan masih abai atas atas banyak larangan.

Hidup di dunia hanya sesaat. Alam akhirat kekal abadi. 1 hari di akhirat sama dengan 1.000 tahun di dunia. Artinya satu jam di akhirat sama dengan 41,7 tahun di dunia. Masyaa Allah!

Mengapa kita terus berlomba-lomba mengejar dunia, kadang akhirat sampai terlupa?

Astaghfirullah, mohon ampun ya Allah. (*)

Advertisement