JAKARTA – Perang besar-besaran terhadap narkoba di Filipina, menjadi inspirasi bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berencana untuk meningkatkan perlawanan atas narkoba secara agresif dengan melengkapi pasukan polisi dengan lebih banyak personel dan persenjataan berat.
Dua negara tetangga ini telah mendeklarasikan “perang terhadap narkoba,” di mana Indonesia meningkatkan eksekusi terpidana kasus narkoba, sementara Filipina meluncurkan pemberantasan brutal yang membunuh ratusan tersangka pengedar narkoba dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso mengatakan, bahwa BNN sedang dalam proses menambah senjata, penyelidik, teknologi dan anjing pelacak untuk pasukannya, selain meningkatkan upaya penegakan hukum di salah satu pasar narkoba terbesar di wilayah ini.
“Ya, saya yakin. Itu dapat terjadi karena (masalah narkoba) di Indonesia sama parahnya dengan di Filipina,” ungkapnya, dikutip dari VOA Indonesia.
Menurutnya negara tidak perlu menghormati para pengedar narkoba, “Nyawa pengedar tidak berarti karena ia melakukan pembunuhan massal. Bagaimana kita bisa menghormatinya?” tambahnya.
Namun juru bicara BNN mengatakan Indonesia tidak akan seagresif negara tetangga. “Hukuman yang diberlakukan harus sesuai dengan hukum dan standar-standar nasional dan internasional,” ujar juru bicara bNN, Slamet Pribadi.
Diketahui, sejak Presiden Rodrigo Duterte menjadi presiden bulan Juni, 2.400 orang pengedar telah dibunuh. Kampanye berdarah itu telah memicu kecaman dari organisasi-organisasi seperti PBB, yang menyebut pembunuhan tersebut melanggar hukum.
Namun Duterte telah menolak mundur, menjanjikan bahwa banyak orang akan dibunuh sebelum mencapai tujuannya sebagai negara bebas narkoba.





