JUBA—Sebuah laporan kelompok hak asasi manusia yang memantau konflik di Sudan Selatan sangat mengejutkan. Pasukan penjaga perdamaian PBB lebih memilih diam di pangkalan militer dari pada turun ke lapangan untuk membantu warga yang teraniaya. Alasannya, karena tak mau ambil risiko.
Padahal, menurut laporan itu, banyak warga sipil yang teraniaya, juga pekerja kemanusiaan. Pasukan penjaga perdamaian asal China “kabur” dari pos mereka, di mana terdapat ribuan warga sipil yang meminta perlindungan. Laporan ini dikeluarkan oleh Center for Civilians in Conflict (Civic) yang berpusat di Washington.
Dilansir Guardian, pasukan PBB lainnya yang berasal dari Ethiopia masih membantu warga ketika evakuasi. Mereka juga sesekali membalas tembakan yang dilancarkan milisi ke kamp pengungsi. Namun, di banyak tempat, pos-pos yang semestiya ditempati pasukan PBB justru kosong.
Pada tanggal 11 Juli lalu, sekitar 80 hingga 100 tentara pemberontak menyerang sebuah kompleks di Juba. Mereka melakukan kekerasan fisik, pelecehan seksual dan memerkosa pekerja kemanusiaan. Mereka juga mengeksekusi wartawan asal Sudan Selatan hanya karena memiliki latar belakang etnis yang berbeda.
“Pasukan penjaga perdamaian PBB memang menghadapi lingkungan yang menantang selama kekerasan di Juba bulan Juli lalu. Tapi mereka underperformed dalam melindungi warga sipil di dalam dan di luar pangkalan,” kata Federico Borello, direktur eksekutif Civic.





