
TUNISIA – Kelompok bersenjata Negara Islam di Irak dan Syam/Suriah (ISIL/ISIS) pada Senin (8/9/2020) waktu setempat mengaku bertanggung jawab atas serangan penikaman di Tunisia sehari sebelumnya.
Pengakuan itu, dikutip kantor berita Al Jazeera dari Agence France-Presse (AFP) disampaikan melalui pernyataan di media propaganda “Amaq”, di jaringan media sosial (medsos). Akibat serangan itu, satu tentara Tunisia tewas.
Sementara tiga anggota pasukan keamanan juga terluka saat berupaya melakukan penangkapan. Serangan terjadi di kawasan wisata di kota pesisir Sousse, dengan menikam tentara nasional Tunisia yang sedang melakukan patroli.
Tiga penyerang akhirnya tewas setelah terlibat baku tembak dengan petugas. “Foto-foto menunjukkan, salah satu penyerang mengenakan T-shirt dengan tulisan khas Daesh [ISIL],” kata Mokhtar Ben Nasr, mantan Kepala Komisi Kontra-Terorisme Nasional.
Sejak revolusi pada 2011, Tunisia dilanda serangkaian serangan yang menewaskan puluhan personel keamanan, warga sipil, dan turis asing.
Insiden penikaman Minggu lalu ini terjadi di dekat lokasi serangan paling mematikan pada 2015. Saat itu, 38 orang tewas dalam insiden penembakan di tepi pantai. Dari jumlah tersebut, kebanyakan merupakan turis asal Inggris.
Maret lalu, serangan bom bunuh diri juga menargetkan pasukan keamanan yang berjaga di Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Tunisia. Seorang polisi Tunisia tewas, sementara beberapa lainnya terluka.
Anggota Pasukan Garda Nasional yang tewas pada kejadian Minggu lalu, Sami Mrabet (ayah dua anak berusia 38 tahun), dimakamkan pada Senin di kampung halamannya di Moknine, selatan Sousse, dihadiri lebih dari 1.000 pelayat. Sejumlah pejabat pemerintah juga hadir di pemakaman.
Sumber: RMOL



