Pembantai Khashoggi Urung Dihukum Mati

Banyak yang kecewa, para pelaku pembunuh wartawan The Washington Post Khashoggi berkebangsaan Arab Saudi urung dihukum mati oleh pengadilan Kerajaan Arab Saudi karena ayah almarhum sudah memaafkan para pelakunya.

ARWAH wartawan the Washington Post berkebangsaan Arab Saudi, Djamal Khashoggi yang dibantai dan dimutilasi agen-agen rahasia mungkin penasaran menyaksikan, para pelakunya tidak satu pun yang dihukum mati, paling tinggi dipenjara 20 tahun.

Kantor Berita pemerintah Saudi (SPA) melaporkan (7/9), tiga pelaku dihukum antara tujuh hingga 10 tahun, delapan pelaku antara 10 sampai 20 tahun dan lima pelaku dikenai hukuman 20 tahun.

Sementara pemerintah Turki yang menjadi locus delicti atau tempat kejadian perkara (TKP), menilai,  pembatalan hukuman mati terhadap  lima tersangka pembunuh Jamal Khashoggi tidak memenuhi harapan dunia.

Turki sendiri juga menggelar persidangan in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) terhadap 20 warga negara Saudi atas pembunuhan tersebut termasuk dua mantan ajudan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhamad bin Salman (MBS).

Diberitakan AFP, putusan itu dikeluarkan setelah putra Khashoggi “mengampuni” para pembunuh ayahnya pada Mei lalu sehingga  membuka jalan bagi pemberian sanksi hukuman yang lebih ringan.

Sementara Pelapor PBB yang juga pengacara HAM terkemuka Agnes Calamard mengemukakan, walau ia tidak memiliki bukti-bukti , Pangeran MBS seharusnya diajukan sebagai tersangka utama.

“Terkait urusan pemberi perintah dan penghasutan pembunuhan, saya kira MBS adalah tersangka utamanya walau saya tidak memiliki bukti-bukti , “ ujarnya.

Semula, pengadilan Saudi menjatuhkan hukuman mati pada lima pelaku yang tidak disebut namanya, sedangkan tiga pelaku lainnya dikenakan hukuman penjara 24 tahun karena peran mereka menutup- nutupi aksi kejahatan itu.

Khashoggi raib saat berada di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki saat mengurus surat pernikahan dengan tunangannya, wanita Turki, Hatiche Chengiz  pada 2 Okt. 2018.

Chengiz yang menanti di luar gedung, kehilangan jejak, namun dari arloji “smart” milik Khashoggi yang dititipkan padanya sebelum korban memasuki konsulat,  terekam sejumlah bukti tentang apa yang terjadi.

Sejumlah bukti lain juga memperkuat dugaan adanya pembantaian, seperti ditemukannya sisa-sisa cairan kimia di saluran air di lingkup gedung konsulat Arab dan juga “candaan” orang-orang yang diduga pelaku dari rekaman CCTV

Dinas rahasia Turki juga berhasil mengindentifikasi belasan orang, diduga “tim jagal” dari Saudi yang didatangkan dengan pesawat khusus dan pulang pada hari yang sama saat Khashoggi berada di gedung konsulat.

“Sampai saat ini, fakta-fakta tentang pembunuhan Khashoggi masih misteri, entah sampai kapan, karena “sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti tercium juga”               (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menguak Misteri Kematian Khashoggi

ARWAH wartawan senior berkebangsaan Arab Saudi, Jamal Khashoggi mungkin sudah tenang berada di alam sana, namun pelaku mutilasi terhadap dirinya, sampai ini hari tetap menjadi misteri.

Padahal, laporan setebal 100 halaman hasil investigasi Pelapor Khusus PBB, Agnes Callamard (19/6) lalu mengungkapkan bukti-bukti kredibel keterlibatan Putera Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) dan sejumlah pejabat senior dalam kasus pembunuhan itu.

Lebih jelasnya, tercatat adanya alur komunikasi berupa laporan  langsung sejumlah orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut kepada Mohammed bin Salman.

Callamard menyebutkan, tim investigasi bersama pakar hukum pidana dan hukum internasional yang telah bekerja selama enam bulan a.l lain menyelidiki kantor konsulat Saudi di Istanbul yang diduga sebagai lokus mutilasi terhadap Khashoggi.

Pemerintah Turki mengalihkan kasus itu ke ranah penyelidikan internasional (di bawah PBB) pada Desember 2018 setelah gagal melakukan pengusutan bersama pemerintah Saudi terkait kasus pembunuhan itu.

Selanjutnya, Callamard menyarankan agar pengadilan kasus pembunuhan terhadap Khashoggi oleh pengadilan Saudi dihentikan, karena berlangsung tertutup dan tidak fair, dan merekomendasikan pembentukan tim penyidik internasional.

Sebaliknya,  Menteri Negara Urusan LN Saudi Adel al-Jubeir menolak keras hasil laporan investigasi PBB itu dan balik menuding Callamard

tidak netral  dan hasil investigasinya tidak konstruktif dan tidak komprehensif.

Tidak diberitakan

Media arus utama Saudi berbahasa Arab seperti al-Hayat yang terbit di London,Kamis lalu (20/6) sama sekali juga tidak menurunkan laporan hasil investigasi tersebut, sedangkan harian Asharq Al Awsat yang terbit di Jeddah, hanya memuat bantahan al-Jubeir di halaman dalam.

Kantor Berita Saudi, SPA juga hanya memuat pernyataan al-Jubeir yang menyebutkan, pemerintah Saudi telah menyampaikan secara rinci kepada Komisioner HAM PBB jalannya proses peradilan di negerinya terkait kasus kematian Khashoggi pada 2 Oktober 2018.

Khashoggi, wartawan the Washington Post berwarganegaraan Saudi yang sering bersikap kritis terhadap Kerajaan Saudi, raib saat berada di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki untuk mengurus surat pernikahan dengan seorang wanita Turki.

Tunangannya, Hatiche Chengiz yang menanti di luar gedung, kehilangan jejak, namun dari arloji “smart” milik Khashoggi yang dititipkan padanya sebelum korban memasuki gedung, terekam sejumlah bukti tentang apa yang terjadi.

Agen-agen rahasia Turki juga berhasil mengindentifikasi belasan orang, diduga “tim jagal” yang didatangkan dari Saudi dengan pesawat khusus dan pulang pada hari yang sama saat Khashoggi berada di gedung konsulat.

Jejak pembantaan terhadap Khashoggi tidak terlacak, kecuali ditemukannya sisa-sisa cairan kimia yang bisa melumatkan tulang atau daging di lingkungan gedung konsulat tersebut. Khashoggi kemungkinan dimutilasi dan jasadnya dibuang di hutan-hutan di luar kota Istanbul.

Walau pelaku pembunuhan ini belum terkuak, pemerintah Saudi agaknya sudah terkena sanksi sosial yang menyudutkan dan menurunkan kredibilitasnya dari berbagai penjuru dunia.

“Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, lambat laun pasti tercium juga, “ kata pepatah lama. Tunggu saja! (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

Saudi Telan Risiko Pembantaian Khashoggi

SIAPA menabur angin, bakal menuai badai” . Pemerintah Arab Saudi agaknya harus menelan risiko terkena sanksi sejumlah negara dan kecaman internasional akibat keterlibatan aparatnya dalam kasus pembantaian wartawan senior dan kritikus, Jamal Khashoggi.

Semula rezim Riyadh menampik tudingan telah menghabisi  Khashoggi yang masih warganegara Saudi tersebut namun menyingkir dan bermukim di AS karena pertentangannya dengan kalangan istana.

Konsulat Saudi di Istanbul bersikeras, korban yang hendak mengurus surat nikah dengan pacarnya, wanita Turki bernama Hatice Chengiz pada 2 Okober lalu sudah meninggalkan kantor tersebut sebelum “menghilang” berhari-hari, tidak tentu rimbanya .

Berdasarkan laporan Hatice yang menunggu di luar kantor, juga bukti digital dari jam tangan Apple yang dikenakan korban serta sejumlah bukti pendukung lain yang dimiliki pemerintah AS dan Turki, kemungkinan ia dimutilasi oleh belasan algojo yang sengaja didatangkan dari Saudi.

Dalih bahwa Khashoggi tewas akibat perkelahian di dalam gedung konsulat juga terbantahkan berdasarkan bukti-bukti lain, sedangkan perkiraan ia dimutilasi dan potongan jasadnya dikubur di  suatu tempat di wilayah Turki semakin menguat.

Bukti keterlibatan aparat Saudi juga secara implisit akhirnya diakui oleh pemerintah kerajaan itu dengan dipecatnya 18 anggota dinas rahasia yang diduga terlibat pembantaian, walau mereka bersikeras, para tersangka akan diadili di dalam negeri, kemungkinan agar dalangnya tetap terselamatkan, dan hukuman hanya dikenakan terbatas pada eksekutor di lapangan.

Pemerintah Jerman mendesak Uni Eropa untuk menyatukan langkah pengenaan sanksi pembatalan kontrak penjualan senjata milyaran dollar AS terhadap Arab Saudi, walau Perancis masih keberatan jika harus menyetop pengembangan pesawat tempur yang semula ditujukan untuk ekspor, termasuk ke Arab Saudi bernilai 13,8 milyar dollar (sekitar Rp213,9 triliun).

Presiden AS Donald Trump sejauh ini juga masih menolak pembatalan kontrak penjualan alutsista senilai 110 milyar dollar (sekitar Rp1.705 triliun), walau sikapnya bisa saja berubah jika ditekan oleh para pejuang HAM, dari kelompok parlemen, media dan masyarakat luas.

Gelombang protes terhadap pembunuhan Khashoggi juga digelar oleh berbagai kalangan di depan gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul dan oleh kelompok wartawan dan aktivis HAM di sejumlah negara.

Kasus Khashoggi mau tidak mau telah merusak citra Arab Saudi sebagai negara Islam yang kaya karena “bergelimang minyak” dan kedudukan dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinnah. (AFP/Reuters/NS)

 

 

 

Pembantai Khashoggi Urung Dihukum Mati

ARWAH wartawan the Washington Post berkebangsaan Arab Saudi, Djamal Khashoggi yang dibantai dan dimutilasi agen-agen mungkin penasaran menyaksikan, para pelakunya dihukum ringan.

Kantor Berita pemerintah Saudi (SPA) melaporkan (7/9), tiga pelaku dihukum antara tujuh hingga 10 tahun, delapan pelaku antara 10 sampai 20 tahun dan lima pelaku dikenai hukuman 20 tahun.

Pemerintah Turki, lokasi terjadinya peritiwa maut itu menilai,  pembatalkan hukuman mati bagi lima pembunuh jurnalis Jamal Khashoggi, tidak memenuhi harapan dunia.

Turki sendiri menggelar persidangan in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) terhadap 20 warga negara Saudi atas pembunuhan tersebut termasuk dua mantan ajudan Pangeran Muhammd bin Salman (MBS).

Diberitakan AFP, putusan itu dikeluarkan setelah putra Khashoggi “mengampuni” para pembunuh ayahnya pada Mei lalu sehingga  membuka jalan bagi hukuman lebih ringan, sementara pejabat PBB Agnes Calamard, menganggap, Pangeran MBS seharusnya menjadi terdakwa utama.

, Agnes Callamard mengatakan meski dia tidak punya bukti terhadap MBS, namun urusan perintah dan penghasutan pembunuhan, MBS adalah tersangka utamanya. “Begini, saya pikir dia adalah tersangka utama dalam hal menentukan siapa yang memerintahkan atau yang menghasut pembunuhan. Dia ada dalam skema. Secara pribadi, saya (memang) tidak memiliki bukti yang menunjuk kepadanya sebagai (orang) yang telah memerintahkan kejahatan,” kata Callamard, yang juga seorang pengacara hak asasi manusia yang terkenal. Baca juga: Pembunuhan Khashoggi, Staf

Semula, pengadilan Saudi menjatuhkan hukuman mati pada lima pelaku yang tidak disebut namanya, sedangkan tiga pelaku lainnya dikenakan hukuman penjara 24 tahun karena peran mereka dalam menutupi kejahatan itu.

Khashoggi raib saat berada di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki untuk mengurus surat pernikahan dengan seorang wanita Turki pada 2 Okt. 2018, dan sampai sekarang belum ditemukan jasadnya.

Tunangannya, Hatiche Chengiz yang menanti di luar gedung, kehilangan jejak, namun dari arloji “smart” milik Khashoggi yang dititipkan padanya sebelum korban memasuki gedung, terekam sejumlah bukti tentang apa yang terjadi.

Sejumlah bukti lain juga memperkuat dugaan adanya pembantaian, seperti ditemukannya sisa-sisa cairan kimia di saluran air di lingkup gedung konsulat Arab dan juga “candaan” orang-orang yang diduga pelaku dari rekaman CCTV

Dinas rahasia Turki juga berhasil mengindentifikasi belasan orang, diduga “tim jagal” dari Saudi yang didatangkan dengan pesawat khusus dan pulang pada hari yang sama saat Khashoggi berada di gedung konsulat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khashoggi (59) yang merupakan kritikus Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), dicekik dan dimutilasi oleh sekelompok orang Arab Saudi yang terdiri dari 15 orang, menurut para pejabat Turki. Hingga kini jenazahnya belum ditemukan. Baca juga: Batal Dihukum Mati, 5 Pembunuh Jamal Khashoggi Dipenjara 20 Tahun “Putusan final yang dikeluarkan pengadilan Saudi hari ini mengenai eksekusi jurnalis Jamal Khashoggi di dalam Konsulat Kerajaan di Istanbul tidak memenuhi harapan Turki dan masyarakat internasional,” tulis Fahrettin Altun direktur komunikasi kepresidenan Turki, di Twitter. Total 8 terdakwa yang tidak disebut namanya dijatuhi hukuman penjara 7-20 tahun. “Lima dari terpidana dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dan tiga lainnya dipenjara 7-10 tahun,” kata media pemerintah Saudi Press Agency (SPA) mengutip juru bicara jaksa penuntut umum.

Dengan demikian, para pelaku yang terlibat dalam pembunuhan berencana ( Khashoggi) akan menghadapi hukuman penjara 5 tahun… sebagai akibat dari tindak kejahatan ini,” tambahnya dikutip dari Arab News Jumat (22/5/2020). Baca juga: Turki Tuntut 20 Warga Saudi Atas Pembunuhan Jurnalis Jamal Khashoggi Jamal Khasoggi, jurnalis yang kerap mengkritik pemerintah Arab Saudi, dibunuh di dalam konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2018. Para pejabat Saudi mengatakan, pembunuhan itu adalah “operasi jahat” yang tidak didalangi oleh negara. Namun, klaim ini diragukan banyak pihak di seluruh dunia. Beberapa yang meragukannya adalah agen-agen intelijen dan PBB, sebagaimana diberitakan oleh BBC. Baca juga: Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi Mencuat di Tengah Kabar Pembelian Newcastle Khashoggi sempat menulis untuk surat kabar The Washington Post dan tinggal di Amerika Serikat (AS) sebelum nyawanya terenggut secara keji di Istanbul. Buntut dari kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, pada 2019 pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada lima pelaku yang tidak disebut namanya. Kemudian tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara selama 24 tahun “karena peran mereka dalam menutupi kejahatan ini telah melanggar hukum.” Namun pelapor khusus PBB, Agnes Callamard, menyebut persidangan Saudi sebagai “antitesis keadilan” dan mendesak penyelidikan independen. Baca juga: Regu Pembunuh Jurnalis Saudi Jamal Khashoggi Bercanda Cara Memutilasi Tubuhnya

 

Diberitakan AFP, putusan itu dikeluarkan setelah putra Khashoggi “mengampuni” para pembunuh ayahnya pada Mei, yang membuka jalan bagi hukuman lebih ringan. “Kami masih belum tahu apa yang terjadi dengan jasad Khashoggi, siapa yang ingin dia mati atau apakah ada kolaborator lokal – yang menimbulkan keraguan atas kredibilitas proses hukum di KSA (Kerajaan Arab Saudi),” kicau Altun dalam utasnya di Twitter. Dia juga mendesak otoritas Arab Saudi bekerja sama dengan penyelidikan yang Turki lakukan sendiri atas pembunuhan itu. Baca juga: Pejabat PBB: Putra Mahkota Saudi Tersangka Utama Pembunuhan Khashoggi Pada Juli Turki membuka persidangan in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) untuk 20 warga negara Arab Saudi atas pembunuhan tersebut. Para terdakwa termasuk dua mantan ajudan Pangeran MBS menyangkal keterlibatannya. “Ini adalah kewajiban hukum untuk menhelaskan pembunuhan Jamal Khashoggi, yang dilakukan di dalam perbatasan Turki, dan untuk memberikan keadilan,” kicau Altun. “Itulah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa kekejaman serupa dapat dicegah di masa depan.”

i

Seorang pejabat PBB, Agnes Callamard mengatakan bahwa putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman ( MBS) adalah tersangka utama dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki, 2018. Melansir Kantor Berita Anadolu, pelapor khusus PBB untuk urusan arbitrer, Agnes Callamard mengatakan meski dia tidak punya bukti terhadap MBS, namun urusan perintah dan penghasutan pembunuhan, MBS adalah tersangka utamanya. “Begini, saya pikir dia adalah tersangka utama dalam hal menentukan siapa yang memerintahkan atau yang menghasut pembunuhan. Dia ada dalam skema. Secara pribadi, saya (memang) tidak memiliki bukti yang menunjuk kepadanya sebagai (orang) yang telah memerintahkan kejahatan,” kata Callamard, yang juga seorang pengacara hak asasi manusia yang terkenal. Baca juga: Pembunuhan Khashoggi, Staf Kedutaan Saudi Ungkap Adanya Tusuk Daging Menurut wanita itu, bukti tidak langsung menunjukkan bahwa kejahatan seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi MBS. “Saya yakin menurut informasi yang diberikan lebih dari setahun lalu, CIA (badan intelijen pusat) telah memiliki informasi ini,” ujar Callamard. Dia mencatat bahwa persidangan Turki diadakan secara ‘in absentia’ karena semua orang tahu bahwa Arab Saudi tak akan membiarkan para terdakwa menghadapi persidangan langsung di Turki. Baca juga: Pembunuhan Khashoggi, 2 Mantan Pembantu Setia MBS Dituntut Pengadilan Turki Halaman Selanjutnya Callamard menggambarkan persidangan di Turki… Halaman: 1 2

Callamard menggambarkan persidangan di Turki lebih adil daripada di Arab Saudi. Pada 3 Juli lalu, Turki mengadakan persidangan kasus pembunuhan Khashoggi, dengan mendaftar 20 warga Saudi yang dituduh terlibat dalam pembunuhan. Jamal Khashoggi sendiri adalah jurnalis Arab Saudi yang diasingkan di Amerika Serikat pada 2017. Dia pergi ke konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober 2018 untuk mengurus dokumen agar dapat menikah dengan tunangannya, Hatice Cengiz. Tim penyelidik percaya bahwa Khashoggi dibunuh dan dimutilasi saat tunangannya menunggu di luar, tetapi jenazahnya belum pernah ditemukan. Baca juga: Tunangan Jamal Khashoggi Tidak Terima Keluarga Maafkan Para Pembunuh Para pejabat Saudi awalnya mengklaim bahwa dia telah meninggalkan gedung itu dalam keadaan hidup dan catatan peristiwa mereka berubah beberapa kali dalam beberapa pekan pasca ketidakmunculan Khashoggi. Rincian pembunuhannya yang mengerikan mengejutkan dunia, dan laporan PBB berikutnya mengatakan ada bukti yang dapat dipercaya bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman ( MBS) dan pejabat tinggi Saudi lainnya bertanggung jawab secara individual. Pangeran MBS kemudian membantah telah terlibat dalam pembunuhan itu, tetapi mengatakan dia “bertanggung jawab penuh sebagai pemimpin di Arab Saudi, terutama karena itu dilakukan oleh orang-orang yang bekerja untuk pemerintah Saudi”. Baca juga: Usai Dimaafkan, Pembunuh Jamal Khashoggi Bisa Dapat Untung Halaman: 1 2 Show All Baca berikutnya Paus Fransiskus Sedih karena Hagia… Sumber Anadolu Agency Tag: Arab Saudi Saudi mohammed bin salman MBS pembunuhan jamal khashoggi Berita Terkait Putra dari Jurnalis Jamal Khashoggi Maafkan Para Pembunuh Ayahnya Usai Dimaafkan, Pembunuh Jamal Khashoggi Bisa Dapat Untung Tunangan Jamal Khashoggi Tidak Terima Keluarga Maafkan Para Pembunuh Pembunuhan Khashoggi, 2 Mantan Pembantu Setia MBS Dituntut Pengadilan Turki Pembunuhan Khashoggi, Staf Kedutaan Saudi Ungkap Adanya “Tusuk Daging”

unangan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, tidak setuju dengan pemberian maaf dari keluarga Jamal untuk para pembunuh. Hatice mengatakan, “Tidak ada yang berhak mengampuni pembunuhnya.” Ucapan ini sekaligus menanggapi pemberian maaf yang dilakukan oleh putra sulung Jamal, Salah Khashoggi, pada Jumat (22/5/2020). Baca juga: Putra dari Jurnalis Jamal Khashoggi Maafkan Para Pembunuh Ayahnya Hatice Cengiz yang merupakan warga negara Turki menulis di Twitter, bahwa “pembunuhan keji tidak bisa dimaafkan.” Di Twitter-nya pada Jumat (22/5/2020) Hatice menuliskan Jamal Khashoggi telah menjadi “simbol internasional yang lebih besar dari kita, dikagumi, dan dicintai.” Hatice menambahkan, “Jamal terbunuh di dalam konsulat negaranya saat mengambil dokumen untuk menyelesaikan pernikahan kami.” Jamal Khashoggi has become an international symbol bigger than any of us, admired and loved. His ambush and heinous murder does not have a statue of limitations and no one has the right to pardon his killers. I and others will not stop until we get #JusticeForJamal (1/2) pic.twitter.com/hX0kFRPNvr — Hatice Cengiz / ????? (@mercan_resifi) May 22, 2020 “Para pembunuh datang dari Saudi dengan rencana untuk memancing, menyergap, (dan) membunuhnya.” Dengan dimaafkannya para pembunuh Jamal Khashoggi, para pelaku kini bisa mendapat untung. Baca juga: Usai Dimaafkan, Pembunuh Jamal Khashoggi Bisa Dapat Untung Sesuai dengan hukum Arab Saudi, pengampunan yang diberikan keluarga Khashoggi tidak menghapus hukuman dari para terpidana. Namun, itu memungkinkan terpidana yang divonis hukuman mati dapat diringankan hukumannya. Penasihat hukum Dr Mohammed Mahmoud mengatakan, di sebuah dekrit Kerajaan Arab Saudi tercantum hukuman bagi terpidana yang diampuni oleh keluarga korban adalah 5 tahun penjara jika pembunuhan itu disengaja, dan 2,5 tahun jika tidak disengaja.

 

Dengan demikian, para pelaku yang terlibat dalam pembunuhan berencana ( Khashoggi) akan menghadapi hukuman penjara 5 tahun… sebagai akibat dari tindak kejahatan ini,” tambahnya dikutip dari Arab News Jumat (22/5/2020). Baca juga: Turki Tuntut 20 Warga Saudi Atas Pembunuhan Jurnalis Jamal Khashoggi Jamal Khasoggi, jurnalis yang kerap mengkritik pemerintah Arab Saudi, dibunuh di dalam konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2018. Para pejabat Saudi mengatakan, pembunuhan itu adalah “operasi jahat” yang tidak didalangi oleh negara. Namun, klaim ini diragukan banyak pihak di seluruh dunia. Beberapa yang meragukannya adalah agen-agen intelijen dan PBB, sebagaimana diberitakan oleh BBC. Baca juga: Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi Mencuat di Tengah Kabar Pembelian Newcastle Khashoggi sempat menulis untuk surat kabar The Washington Post dan tinggal di Amerika Serikat (AS) sebelum nyawanya terenggut secara keji di Istanbul. Buntut dari kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, pada 2019 pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada lima pelaku yang tidak disebut namanya. Kemudian tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara selama 24 tahun “karena peran mereka dalam menutupi kejahatan ini telah melanggar hukum.” Namun pelapor khusus PBB, Agnes Callamard, menyebut persidangan Saudi sebagai “antitesis keadilan” dan mendesak penyelidikan independen. Baca juga: Regu Pembunuh Jurnalis Saudi Jamal Khashoggi Bercanda Cara Memutilasi Tubuhnya

Advertisement