Tinggal di Pengungsian, Fani Tetap Ceria dan Semangat Belajar

PALU – Arfani, seorang bocah di pengungsian Masjid Agung Darussalam, Palu, menjadi salah satu potret keceriaan anak yang tidak luntur akan trauma yang pernah dialaminya akibat gempa.

Di tenda berukuran tak lebih dari 3 kali 4 meter, Fani bersama 14 keluarganya beristirahat. Terik ketika siang dan dingin menusuk ketika malam, tidak masalah  bagi mereka selama masih bersama.

Fani merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Di tenda tersebut, Fani tinggal bersama keluarga besarnya. Awalnya, Fani tinggal di Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat, Palu. Namun saat terjadinya gempa disusul tsunami, rumahnya roboh, lalu hilang disapu tsunami.

“Itu tanah turun, rumah saya ikut turun. Saya cari anak saya, karena tsunami menerjang setelah itu, dan mereka bermain di pantai,” terang Fatmawati (41), ibu dari Fani,  menceritakan kronologi gempa disusul tsunami, pada tim. Dompet Dhuafa.

Fani ditemukan beberapa waktu kemudian. Namun, sayang ketiga keponakanya baru bisa ditemukan tiga hari kemudian. Walau dalam kondisi masih hidup, namun salah satu keponakanya mengalami luka berat di bagian kepala.

“Saat kejadian, tiga keponakan ikut main di pantai, dan terseret tsunami. Baru hari ketiga ketemu, harus dirawat dokter. Karena kepalanya sudah keluar ulat,” terang Fatmawati.

Fani sendiri merasa senang ketika di pengungsian. Walau hidup dengan keterbatasan, Fani masih bisa belajar dan bermain melalaui kegiatan belajar megajar dari relawan.  “Senang kakak, bisa sekolah di sini,” celetuk Fani polos.

Mengingat banyak saudaranya yang sakit di pengungsian, Fani bercita-cita menjadi dokter saat dewasa nanti.

“Pengen jadi dokter, biar bisa sembuhkan adek (sepupu) yang sakit kepalanya,” tambah Fani Polos.

Advertisement