Salah satu jalur tercepat naik pangkat dan meniti karir militer di jaman Orde Baru adalah dengan menjadi ajudan Presiden Soeharto. Tentu, terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto tidaklah mudah. Serangkaian tes harus dilalui, mulai dari postur, penampilan, sopan-santun, kecerdasan sampai dengan kemampuan dan keterampilan lainnya. Biasanya, perwira menengah terbaik dari keempat angkatan, TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan Polri, yang diajukan.
Ada dua contoh sukses mantan ajudan Pak Harto yang kariernya melesat, meroket ke puncak dan menjadi tokoh nasional. Pertama, Try Sutrisno, dari ajudan dengan pangkat kolonel, naik terus hingga berpangkat jendral bintang empat. Ia pernah menjadi KASAD, Panglima ABRI dan kemudianWakil Presiden RI. Kini Pak Try menjadi sesepuh dan pansihat Gerakan Pemantapan Pancasila.
Contoh kedua adalah Wiranto. Ia meniti karir hampir sama dengan Try Sutrisno dengan pangkat kolonel sebagai ajudan Presiden Soeharto. Wiranto meroket sampai di posisi Menkopolkam. Ia pernah pula menjadi KASAD dan Panglima TNI/ABRI. Kini Wiranto aktif sebagai politisi dan menjabat sebagai ketua umum Partai Hanura.
Ada dua contoh ajudan presiden lain yang sukses mencapai posisi kepala staf dan Kapolri. Mereka adalah Tanto Kuswanto yang menjadi KASAL dan Kunarto yang kemudian menjadi Kapolri.
Lho kok mereka bisa begitu? Ya, bisa saja begitu. Alasannya, ajudan adalah di antara sedikit orang terdekat presiden, pemegang puncak kekuasaan. Ibarat presiden itu sumber air mancur, maka orang terdekat pasti kecipratan pengaruhnya. Itu bisa rejeki dan atau pangkat. Minimal basah. Jika presiden itu dianggap sumber api, orang terdekat pasti mendapat kehangatan. Maksimal, kalau kurang beruntung, ikut terbakar duluan. Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan ada resikonya.
Tapi keempat orang itu masih kalah cepat naik pangkat dibanding ajudan Presiden Soekarno di masa awal kemerdekaan. Alkisah, tersebutlah dalam otobiografi Bung Karno “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, terbit 1965, terjadi beberapa masalah protokol menggelikan di istana presiden Yogyakarta.
Bung Karno sebagai presiden, menurut aturan protokol, harus didampingi seorang ajudan. Seorang pejuang sipil diangkat menjadi ajudan presiden. Telah diputuskan untuk memberi pangkat militer kepada sang ajudan sebagai perwira.
“Dengan ini aku mengangkatmu menjadi seorang letnan,” kata Bung Karno. “Terima kasih banyak, Pak,” jawabnya berseri-seri, menunjukkan kegembiraan yang amat sangat dengan promosi dari seorang yang bukan apa-apa menjadi perwira. Tapi, ini bukan akhir dari kisah dan nasib baiknya.
Salah seorang penasihat presiden kemudian mengatakan, ajudan untuk Presiden Republik Indonesia yang memerintah lebih dari 80 juta orang (waktu itu) tidak boleh hanya berpangkat letnan. Alasannya, Ratu Juliana dari Negeri Belanda yang memerintah hanya 10 juta orang memiliki ajudan pribadi seorang kolonel.
Bung Karno menyetujui alasan itu dan memanggil ajudan yang baru dilantik tersebut. “Sudah berapa lama engkau menjadi letnan?,” tanya presiden. “Satu setengah jam, Pak,” jawab ajudan sambil menghormat kaku.
“Nah, kita merupakan negara baru yang tumbuh cepat. Mulai sore ini engkau menjadi mayor,” perintah Presiden Soekarno.




