JAKARTA, KBKNEWS.id – Tragedi banjir dan longsor yang melanda Sumatera memasuki fase darurat setelah jumlah korban jiwa terus bertambah.
Sorotan terbesar tertuju pada Sumatera Utara, yang mencatat 48 warga meninggal dan 88 orang masih hilang dalam empat hari terakhir. Angka tersebut menjadikan Sumut sebagai wilayah dengan dampak paling mematikan dalam rangkaian bencana yang terjadi serentak di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Sementara itu, Sumatera Barat juga melaporkan sembilan korban meninggal, terdiri dari lima korban banjir di Padang dan empat kejadian di Agam. Di Aceh, BPBD mencatat 30 korban tewas hingga Kamis (27/11/2025). Jika digabungkan, total korban meninggal di tiga provinsi tersebut telah melewati 80 jiwa.
Melihat besarnya korban, pemerintah pusat langsung mengerahkan seluruh kekuatan penanganan bencana. Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa status darurat bencana telah resmi ditetapkan oleh pemerintah provinsi di ketiga wilayah tersebut, membuka jalan bagi mobilisasi penuh seluruh sumber daya negara.
“Dengan status Darurat Bencana Daerah, pemerintah dapat bertindak maksimal sesuai undang-undang,” ujar Pratikno dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta.
Instruksi lanjutan juga dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri, meminta pemerintah daerah menggeser anggaran dari pos lain untuk mempercepat evakuasi, bantuan logistik, dan pembukaan akses yang tertutup material longsor.
Presiden Prabowo Subianto disebut telah memerintahkan tanggap darurat dilakukan secara cepat dan serius. Selain penyelamatan warga, pemerintah juga menyiapkan tahap pemulihan infrastruktur sejak dini agar jalan, jembatan, serta layanan vital segera kembali berfungsi.
Di tengah upaya penyelamatan, perhatian publik tertarik pada sejumlah video yang memperlihatkan tumpukan log kayu besar dan warna air banjir yang sangat keruh. Banyak masyarakat menilai bahwa kerusakan hutan serta aktivitas pembalakan liar berperan memperparah bencana, sehingga cuaca ekstrem bukan satu-satunya faktor pemicu.
Pemerintah menegaskan bahwa langkah cepat, penanganan intensif, dan evaluasi jangka panjang akan terus dilakukan agar tragedi dengan korban sebanyak ini tidak terulang.





