Trans Jakarta juga Rawan Kecelakaan

Buruknya disiplin berkendara di Jakarta, tercermin dari kecelakaan bus Trans Jakarta yang melalui jalur khusus saja masih sering terjadi. Selama 2021 sampai Oktober, ada 502 kali kecelakaan melibatkan bus Trans Jakarta.

KEAMANAN  di ruas-ruas jalan di ibukota dari kecelakaan lalu-lintas sungguh memprihatinkan. Bayangkan! bus-bus Trans Jakarta yang berjalan di jalur khusus, sebagian besar ada separatornya saja, masih sering mengalami musibah.

Sepanjang Januari sampai Oktober 2021 saja, dalam rapat kerja antara Komisi B DPRD DKI Jakarta dan Dirut PT Trans Jakarta (TJ), Yana Aditya Senin (6/12), terungkap  502 kali kecelakaan lalu lintas (lakalalin) melibatkan bus Trans Jakarta.

Dalam kasus-kasus lakalalin itu, 12 persen terjadi, bus TJ menjadi korbannya yakni diserempet atau ditabrak kendaraan lain, sebaliknya dari 82 persen kejadian, pengemudi TJ menjadi pelaku atau yang menabrak korban.

Kasus kecelakaan yang paling banyak yang menempatkan bus-bus TJ menjadi korban terjadi di persimpangan jalan, U-turn atau putaran balik serta di ruas-ruas jalan dimana bus-bus TJ dan kendaraan pribadi liwat di lajur sama.

Sebanyak 29 persen kecelakaan dengan awak bus TJ sebagai pelaku melibatkan kendaraan pribadi dan 28 persen melibatkan sepeda motor, sedangkan kecelakaan akibat benda diam seperti separator , median jalan atau bangunan halte berkontribusi pada 20 persen kejadian sedangkan sesama bus TJ 11 persen.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo berjanji, pihaknya akan mengevaluasi seluruh penyebab kecelakaan, mulai dari jam kerja awak bus, tempat istirahat serta pelatihan bagi pengendara untuk penyegaran.

Sementara anggota Komisi B DPRD DKI dari F-Gerindra Adi Kurnia, mengingatkan pengelola TJ harus mementingkan keselamatan dan keamanan penumpang, apalagi mengingat bus-bus tersebut tidak perlu mengejar setoran. Adi juga menyoroti kinerja manajemen TJ yang dinilai  tidak becus dan perlu dibenahi.

Adu mulut sempat terjadi antara Dirut TJ M. Yana dengan Adi, karena agaknya di luar “konteks”, Adi mengancam akan memviralkan tayangan video tentang direksi TJ yang sedang menyaksikan tari perut (“belly dance”) di sebuah pub.

Adi menilai, perilaku manajemen semacam itu ikut memicu terjadinya kecelakaan bus-bus TJ, dan meminta agar Yana tidak tersinggung, sebaliknya Yana meminta Adi menyampaikan barang bukti jika ada.

Terlepas dari persoalan lainnya, kehadiran TJ yang menjadi terobosan perbaikan wajah kusam transportasi umum ibukota sebelumnya, baik dari sisi keamanan, kenyamanan dan keteraturan, perlu terus dibenahi.