PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, saat ini cuma “membuang-buang waktu” untuk mengirimkan pasukan darat ke Iran.
“Membuang-buang waktu. Mereka (Iran-red) telah kehilanga segala-galanya, kekuatan laut dan semua yang mereka miliki, “ ujar Trump kepada NBC per telpon, seperti dikutip AFP, Jumat (6/3).
Sebaliknya Menlu Iran Abbas Araghchi menganggap langkah itu jika berani dilakukan oleh pasukan AS , bakal membawa bencana bagi mereka.
Sementara Trump merespons pernyataan Menlu Iran tersebut yang mengatakan, Iran siap menangkal invasi darat AS atau Israel adalah “komentar yang sia-sia.”
Trump juga mengindikasikan bahwa ia ingin melihat struktur kepemimpinan Iran disingkirkan dan ingin masuk untuk membersihkan semuanya dengan cepat.
“Kita tidak menginginkan seseorang yang akan membangun Iran, kembali ke periode 10 tahun,” katanya.
Presiden AS itu menyebutkan, ia memiliki usulan untuk pemimpin baru Iran, tetapi menolak untuk menyebutkan nama-namanya.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia “harus terlibat” dalam penunjukan pemimpin Iran berikutnya setelah serangan AS-Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, ketika konflik dimulai pada hari Sabtu.
Serangan besar ke Teheran
Sementara itu, serangan besar-besaran dilaporkan dilncrkan ke Teheran, Iran, Jumat (6/3). Israel mengakui pihaknya menyerang “infrastruktur rezim” Iran dalam “fase baru” perang yang dilancarkan bersama AS.
Sebelumnya, Menlu Iran Araghchi mengirimkan pesan tegas kepada AS dan Israel di tengah agresi tanpa henti dari musuh-musuh Republik Islam tersebut.
Berbicara dalam wawancara eksklusif dengan NBC News dari Teheran, Iran, Kamis (5/3) waktu setempat, Araghchi dengan tegas menolak anggapan, pihaknya takut pada invasi darat AS dan yakin, kesiapan dan keyakinan Iran mempertahankan kedaulatannya.
“Kami tunggu mereka,” katanya ketika ditanya apakah ia takut akan kemungkinan invasi darat AS.
“Kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” tambahnya, dilansir media Iran, Press TV, Jumat (6/3)
Araghchi menggarisbawahi bahwa angkatan bersenjata Iran telah mempersiapkan diri untuk setiap skenario.
Komentar tersebut muncul di tengah meluasnya perang melawan Iran yang dimulai dengan agresi besar-besaran AS dan Israel sejak Sabtu (28/2) lalu.
Iran emoh gencatan senjata
Pada bagian lain pernyataanya, Araghchi menegaskan bahwa Iran belum meminta gencatan senjata dan tetap berkomitmen untuk melawan agresi AS dan Israel.
Menlu Iran itu pun menyinggung tentang pada perang 12 hari pada Juni tahun lalu, ketika Israel dan AS menargetkan fasilitas nuklir Iran.
“Kami bahkan tidak meminta gencatan senjata pada saat itu, sebaliknya, Israel yang meminta gencatan senjata setelah 12 hari kami melawan agresi mereka,” tandasnya.
Retorika perang dan pertempuran nyata sampai hari ke-7, Kamis (6/3) , serangan gabungan AS dan Israel kei Iran, perang masih berlangsung dengan sengit.
Kekuatan gabungan AS dan Israel menggunakan rudal-rudal jelajah Tomahawak yang diluncurkan armada AL AS yang berada di perairan Timur Tengah dan jet-jet tempur keduanya, menyasar 2.000 an target di Iran berupa situs-situs militer terutama pelucur rudal Iran.
Pusat Komando AS (Centcom) mengeklaim telah menenggelamkan hampir seluruhnya 30 kapal perang utama milik AL Iran dan kekuatan udara serta 300-an situs peluncur rudal Iran, sebaliknya Iran masih terus meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah Israel dan kepentingan AS di berbagai negara Teluk.
Yang dikhawatirkan akan terjadi eskalasi perang jika Arab Saudi dan negara-negara di kawasan Teluk lainnya yang mengalami serangan rudal Iran (walau pun untuk menarget pangkalan AS) ikut-ikutan mengeroyok Iran. (AFP/NBC/ns)





