
AJUDAN Utama Kremlin Yury Ushakov , Kamis (7/8) mengatakan kesepakatan telah dicapai untuk mngadakan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kedua belah, ungkap Ushakov kepada CNN, sudah mulai mempersiapkan pertemuan tersebut, yang akan digelar “dalam beberapa hari mendatang.
“Sulit untuk mengatakan” berapa lama persiapan ini akan berlangsung, lanjut Ushakov, seperti yang dikutip dari CNN pada Kamis (7/8), namun, pertemuan tersebut diharapkan bisa digelar pekan depan, menurut laporan media negara Rusia, RIA Novosti.
Sebaliknya, Presiden Trump Rabu )6/8) mengatakan, ada “peluang bagus” bahwa dirinya bisa bertemu “segera” dengan Putin untuk membahas kemungkinan akhir perang di Ukraina.
Menurut RIA, Ushakov tidak mengonfirmasi di mana pertemuan kedua pimpinan tersebut akan dilaksanakan, tetapi mengatakan lokasi pertemuan sudah disepakati dan akan “diumumkan nanti,”
Ushakov menambahkan bahwa Moskwa belum menanggapi proposal yang diajukan oleh utusan khusus AS Steve Witkoff pada Rabu (6/8), untuk pertemuan trilateral antara Putin, Trump, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Pertemuan Witkoff dan Putin di Moskwa Rabu kemarin membahas penghentian perang Rusia, dikatakan Trump tidak ada “terobosan” antara keduanya.
Trump berhati-hati juga ketika ditanya tentang jadwal kesepakatan dengan Putin, dengan mengatakan bahwa dia “telah kecewa sebelumnya dengan hal ini (respons Rusia-red”).
Trump yang agaknya frustasi memberikan batas waktu Putin hingga Jumat (8/8) untuk menyetujui gencatan senjata guna mengakhiri perang di Ukraina.
Dikenakan Tarif lebih tinggi
Pengabaian terhadap ultimatum AS bakal dikenakan sanksi tarif Bea Masuk lebih berat terhadap produk ekspor negara Beruang Merah itu ke AS (sampai 100 persen) dan juga sanksi sekunder lebih berat yakni sanksi tarif yang dikenakan Trump (sampai 100 persen) kepada negara-negara yang membeli minyak Rusia seperti India dan China.
Sebelumnya Trump berang karena ancamannya untuk mengenakan sanksi dianggap angin lalu oleh mantan presiden Rusia yang sat ini menjadi wakil dewan kamanan negara itu. Dmitri Medvedev
Medvedev bahkan mengancam balik dengan menyebutkan, Rusia akan meluncurkan “serangan nuklir yang membuat dunia kiamat” sebagai pilihan akhir dan menganggap ancaman Trump Cuma sandiwara yang tidak perlu digubris.
Trumppun makin meradang atas respons Medvedev yang dianggapnya provokati dan langsung memerintahkan dua kapal selam nuklirnya mendekati kawasan Rusia.
Reaksi Trump itupun juga direspons balik misalnya oleh anggota parlemen Rusia, Viktor Vodolatsky, dengan nada “meremehkan”.
“Rusia telah lebih dulu menyebarkan kapal selam nuklirnya di seluruh lautan sejagat,” kata Vodolatsky.
Misi Witkoff
Sementara aitu, Utusan Gedung Putih Steve Witkoff yang telah mengunjungi Rusia lima kali pada 2025, terakhir bertemu Presiden Putin, Rabu (7/8) dan selang beberapa jam setelah pertemuan itu, AS mengenakan tarif tambahan 25 persen pada India, sebagai hukuman atas impor minyak Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang berbicara dengan Trump setelah pertemuan Witkoff-Putin, mengatakan pada Rabu bahwa “sepertinya Rusia kini lebih cenderung untuk “menerima gencatan senjata)”.
“Tekanan terhadap Rusia bekerja. Tapi, hal terpenting jika mereka tidak menipu kami dalam detailnya. Tidak (terhadap -red) kami, juga pada Amerika Serikat,” kata pemimpin Ukraina itu dalam pidato kepada rakyatnya melalui video.
Untuk sementara, Trump agaknya berada di atas angin, gertakannya kepada Rusia untuk segera menghentikan perang di Ukraina dalam waktu 12 hari(dimajukan dari 50 hari pada ultimatum sebelumnya) akhirnya mampu memaksa Putin berunding.
Dunia menanti hasil pertemuan kedua pemimpin negara dikuasa itu (CNN/ns)




