Trump Prediksi Perang Segera Usai, Pengamat dan Publik Yakin Iran Menang

Presiiden AS Donald Trump mengatakan perang akan segera selesai degan kemenangan di pihaknya, sebaliknya, para pemgamat lokal dan publik di Indonesia menganggap Iran pasti memang..

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan keyakinannya, perang melawan Iran “sudah  tuntas”, sebaliknya mayoritas pengamat dan publik di Indonesia berpendapat, Iran bakal keluar sebagai pemenangnya.

Pernyataan terbaru Trump, seperti dilansir Reuters, Selasa (10/3), dilontarkannya dalam wawancara telepon dengan CBS News, Senin (9/3) sore waktu setempat.

Menurut Trump, perang bakal rampung jauh lebih cepat dari perkiraannya semula yakni selama empat hingga lima pekan.

AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar atau masif terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, yang memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, menyeret negara-ngara di Teluk dan juga Arab Saudi yang menjadi target rudal-rudal balistik Iran.

“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya (usai) ” kata Trump, berbicara kepada CBS News dalam wawancara telepon dari klub golfnya di Doral, Florida.

“Mereka (Iran-red) tidak memiliki angkatan laut lagi (sudah dihancurkan), sistem komunikasi sudah diputus, dan mereka tidak memiliki angkatan udara akibat bombardmen masif yang dilancarkan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.

“Rudal-rudal dan sarang peluncur rudal mereka tinggal sedikit. Drone-drone  dihancurkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone,” klaim Trump dalam wawancara tersebut.

Serang 3.000 titik di Iran
Militer AS sebelumnya mengatakan pasukannya telah menyasar lebih dari 3.000 titik di wilayah Iran pada minggu pertama operasi militer berjudul “Operation Epic Fury” .

“Anda lihat, mereka tidak memiliki apa pun yang tersisa. Tidak ada yang tersisa dalam artian militer,” ucap Trump saat berbicara kepada wartawan CBS News, Weijia Jiang, dalam wawancara telepon itu.

Lebih lanjut, Trump menyebut, kemampuan AS “sangat jauh” melebihi perkiraan awal,  yang sebelumnya memperkirakan, perang akan berlangsung selama 4-5 minggu. “Kita (akan menuntaskannya) sangat jauh lebih cepat dari jadwal semula,” sebutnya.

 Pengamat dan publik memihak Iran

Sebaliknya, hampir seluruh pengamat politik Indonesia yang mengamati masalah perang antara Iran melawan koalisi AS dan Israel serta mayoritas publik menganggap Iran akan menang.

Argumennya, AS dan Israel bakal kewalahan menghadang guyuran ribuan rudal balistik Iran yang dilaporkan sebagian berkemampuan jelajah dan berkecepatan hipersonik sehingga bakal lolos dari sistem pertahanan berlapis armada laut dan sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah atau sistem “Iron Dome”, David’s Sling dan Arrow milik Israel.

Keyakinan para pengamat lokal tentang kemenangan Iran, mungkin saja terjadi karena keterbatasan pengetahuan tentang lika-liku dan seluk-beluk militer, tetapi mungkin juga karena mereka tidak berani menampilkan pandangan berbeda dengan publik di akar rumput.

Faktanya, rudal-rudal dan drone Iran sebagian memang berhasil menimbulkan kerusakan di wilayah Israel, termasuk kawasan permukiman di Tel Aviv, dan kilang minyak di Bahrain dan Arab Saudi.

Namun kerusakan yang ditimbulkannya, tidak cukup parah, bahkan serangan Iran menciptakan ancaman baru bagi Iran sendiri, jika negara-negara Teluk seperti Bahrain, UEA, Oman dan Qatar, juga Arab Saudi ikut terjun ke medan perang, membalas serangan Iran.

Menurut catatan, keempat negara kecil di Teluk itu tidak bisa dipandang sebelah mata, memiliki pesawat-pesawat tempur cangih seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon (AS), Rafale (Perancis) dan Eurofighter Typhoon (konsorsium Eropa).

Bahkan menurut Global Firepower 2026, anggaran militer Arab Saudi sebesar 64 miliar dollar AS (menempati ranking ke-8 dunia),  memiliki pesawat tempur canggih a.l  71 unit Eurofifgter Typhoon, 81 unit Tornado (buatan konsorsium Jerman, Inggeris dan Italia) serta 21 unit F-15.

Sementara menurut catatan penulis, tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei bersama puluhan pejabat tinggi negara itu di menit-menit awal serangan AS dan Israel, menunjukkan indikasi supremasi lawan, sebaliknya  rapuhya sistem pertahanan Iran.

Di pihak lain, juga tak terbantahkan,  betapa presisinya perecanaan, canggihnya sistem persenjataan dan akuratnya dukungan intelijen pihak lawan.

Ke mana pesawat-pesawat tempur Iran? Kenapa tidak ada yang menyongsong musuh? , radar dan sistem komunikasi tidak berfungsi (mungkin sudah dijammed lawan), juga sistem rudal pertahanan udara,   padahal Iran mengoperasikan  S-300 Triumph eks-Rusia yang katanya cukup ampuh untuk menjatuhkan pesawat, drone atau rudal musuh.

Di laut, Iran tak berdaya, hampir seluruh armadanya (30 kapal perang), dihancurkan, termasuk fregat Iris Dena yang baru pulang dari latgab di India (4/3).

Skadron AU Iran didukung sekitar 100-an pesawat tempur lawas buatan AS tahun -70’an seperti (F-4 Phantom, F-5 Tiger dan A-4 Skyhawk), MiG-29 (eks Soviet) dan J-7 Chengdu (China) agaknya juga tidak sempat mengudara atau keburu dihancurkan lawan di landasan.

Hari ke-11 perang, Selasa (10/3), Iran masih mampu unjuk gigi, memanfaatkan keunggulannya yakni menebar ketakutan di seluruh kawasan yang dianggap sebagai pihak lawan atau yang berafiliasi dengan lawan dengan menghujani Israel dan negara-negara yang berkolaborasi dengan AS dengan rudal dan drone-drone kamikaze Shaded-136.

Iran juga harus berperang sendirian, karena mitra strategisnya, China dan Rusia idak punya nyali menghadapi AS. Ini yang membuat Trump “PD abis”, merasa leluasa mengatur dunia semaunya.

Pertanyaannya, jika AS dan Israel melancarkan serangan darat, dengan sistem komunikasi dan komando dan situs-situs peluncur rudal yang babak belur dibombardir secara intensif, juga tanpa “payung udara” (pesawat tempur), apakah Iran masih mampu bertahan.

Pelajaran yang perlu kita petik adalah: retorika perang dan perang adalah dua hal yang berbeda.

Prediksi atau prakiraan tentang hasil perang tidak cukup hanya menggunakan kacamata kuda, keberpihakan atau retorika-retorika tanpa pemahaman persoalan militer.

Bagaimana ending perang ini, mari kita tunggu bersama. Time will tell!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here