VIETNAM – Tujuh orang pasien ginjal di Vietnam meninggal saat melakukan cek darah, dan korban selamat menceritakan kisah-kisah horor dari bencana medis terburuk di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelas orang dirawat setelah kejadian tersebut, termasuk satu dalam kondisi kritis. Korban diduga mengalami syok anafilaksis, seperti dilaporkan media pemerintah.
“Saya ingin meminta maaf kepada keluarga dan seluruh masyarakat, kami sangat terkejut dengan kejadian langka ini,” kata Truong Quy Duong, direktur Rumah Sakit Umum Provinsi Hoa Binh dimana kejadian tersebut terjadi pada hari Senin (29/5/2017). .
Semua peralatan medis dan obat-obatan di departemen perawatan ginjal telah ditutup di rumah sakit pemerintah dan pejabat polisi juga petugas kesehatan mengatakan pada hari Selasa (30/5/2017) bahwa sebuah penyelidikan kriminal telah dilakukan.
Le Tien Dung, suami dari guru sekolah Nguyen Thi Bich Nguyen, yang menjadi salah satu korban yang kini dirawat, akibat kejadian tersebut mengatakan kepada AFP jika istrinya tiba-tiba menjadi gatal di sekujur tubuhnya, sakit perut dan muntah.
Nguyen yang berusia 47 tahun kini dalam kondisi kritis, setelah pasien lain dalam perawatan kritis meninggal. “Harapan terbesar saya adalah istri saya akan mengatasinya,” kata Dung.
Pejabat mengatakan 10 orang yang selamat telah dipindahkan ke rumah sakit di Hanoi, dan Rumah Sakit Umum Provinsi Hoa Binh mengatakan bahwa mereka tidak lagi menerima pasien ginjal sementara penyelidikan sedang dilakukan.
Komplikasi medis di rumah sakit sering dilaporkan di Vietnam, sering melibatkan satu atau dua korban.
Pada bulan Desember, seorang gadis berusia tujuh tahun meninggal di provinsi Ca Mau selatan setelah disuntik dengan antibiotik untuk mengobati penyakit pernafasan. Pada bulan yang sama, dua pasien tewas setelah menerima anestesi di sebuah rumah sakit swasta di Hanoi.





