Tukang Parkir Dedikasikan Diri Merawat Anak Penderita HIV/AIDS

Puger Mulyono, Tukang parkir yang merawat anak penderita HIV AIDS/ Jawapos

SOLO –  Puger Mulyono, seorang tukang parkir asal Purwosari, Solo sangat berhati mulia karena ia rela mendedikasikan diri untuk merawat anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang dikucilkan, bahkan oleh keluarga mereka sendiri.

Pria 42 tahun itu bekerja sebagai juru parkir di depan kantor Indosat di kawasan Purwosari, Solo. Sebelumnya dia bekerja sebagai tukang tambal ban di lokasi yang sama. “Tapi, kena gusur karena ada pembuatan taman. Akhirnya, saya beralih profesi jadi tukang parkir di sini,’’ cerita Puger, kepada Jawapos, Rabu (1/2/2017).

Di sela pekerjaannya, dia menyempatkan diri untuk menjemput anak-anak yang tinggal di Rumah Lentera dari sekolah mereka. Dari pekerjaannya sebagai tukang parkir, Puger mengantungi Rp50 ribu setiap hari.

Bukan pendapatan yang besar karena Puger harus menghidupi istri, empat anak kandung, serta anak-anak Rumah Lentera yang berjumlah 11 orang. Belum lagi ditambah tiga pengasuh yang juga tinggal di Rumah Lentera.

Jika dihitung-hitung, pendapatan Puger sebagai tukang parkir hanya Rp1,5 juta sebulan. Itu pun jika setiap hari dia bekerja. Sementara itu, kebutuhan keluarganya dan Rumah Lentera bisa sampai Rp10 juta sebulan. Bahkan, kadang lebih dari itu.

Bahkan Januari lalu, pengeluaran pribadi Puger dan Yayasan Rumah Lentera yang mengurusi anak-anak dengan HIV/AIDS mencapai Rp13 juta. Sebab, ada anak asuhnya yang harus diopname di rumah sakit. Meski begitu, kondisi serba kekurangan tersebut tidak lantas membuat semangat Puger kendur. Dia juga tidak mau menyerah untuk mengurus anak-anak Rumah Lentera.

Ia berserita jika pada 2006 dia sempat menjadi relawan di LSM Mitra Alam yang bertugas mengurus para pecandu narkoba jenis suntik. Dari aktivitas itulah dia berkenalan dengan banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jiwa kemanusiaan Puger pun tersentuh.

’’Apalagi, pada 2010 penderita HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga meningkat. Saat itu kami memprediksi pasti akan banyak anak yang tertulari orang tuanya,’’ tutur Puger. Benar saja, pada 2012 Puger dan kawan-kawan anggota LSM mendapat kabar dari RS Moewardi Solo bahwa ada ADHA di rumah sakit mereka. Anak berusia 1,5 tahun itu sudah tidak punya orang tua dan akhirnya dibawa pulang oleh neneknya setelah 22 hari dirawat di rumah sakit.

Begitu mendapat informasi tersebut, ia langsung meluncur ke rumah nenek yang merawat si anak tersebut. Tujuannya, menampung anak itu jika memang neneknya tidak mampu mengurus lagi.

’’Dan, ternyata benar, kakek-neneknya sudah menawarkan anak itu ke mana-mana, termasuk ke panti-panti. Tapi, tidak ada yang mau karena tahu anak itu sakit,’’ ungkapnya.

Puger akhirnya membawa pulang anak tersebut. Dia lalu mencarikan tempat tinggal. Kala itu masih berupa kamar kos-kosan dengan seorang mantan WPS (wanita pekerja seks) sebagai pengasuhnya. Semakin hari, jumlah ADHA yang ditampung Puger semakin banyak.

Dia pun harus memutar otak untuk mencari tempat tinggal yang layak. Teman seperjuangan Puger di LSM, Yunus Prasetyo, menjual motornya untuk menyewa rumah kontrakan di kawasan Mangkuyudan selama dua tahun.

Tantangan lain yang harus dihadapinya selain biaya adalah cibiran masyarakat sekitar. Pernah sekali waktu dia menemukan kontrakan yang ditinggalinya bersama anak-anak dikosongkan paksa oleh warga sekitar. ’’Barang-barang kami dikeluarkan paksa oleh warga. Di jalanan,’’ kenangnya.

Perhatian ia berikan sepenuh hati, termasuk memberikan obat ARV secara rutin kepada ADHA diberikannya untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan anak-anak. Di rumah kontrakan Puger, terdapat sekotak penuh obat-obatan dan suplemen vitamin.

Untuk tempat tinggal, Puger selama ini memang masih mengontrak dan harus bersiap pindah jika sewaktu-waktu warga kembali mengusir mereka atau mereka yang tidak sanggup membayar ongkos kontraknya.

Padahal, sebenarnya Pemerintah Kota Surakarta sudah memberi Puger tempat yang bisa dimanfaatkan untuk mengurus anak-anak malang tersebut. Pemkot pernah memberi Puger sebuah rumah di kawasan Setabelan. Namun, warga menolak Puger dan anak-anaknya.

’’Pemkot lalu memberi tempat lain. Lokasinya di utara Monumen Pers. Baru selesai seremoni serah terima, kami sudah didatangi warga. Mereka protes dan mengusir kami. Saya bisa apa?’’ ungkap Puger.

Berkat keseriusan dan kegigihannya, juga pengalaman serta pengetahuan Puger soal perawatan homecare untuk pasien HIV/AIDS akhirnya cukup banyak menarik perhatian praktisi medis yang ingin belajar merawat pasien dengan HIV/AIDS. Beberapa kali Puger diundang untuk mengisi seminar dengan tema tersebut.

Apa pun akan dilakukan Puger agar bisa membuat anak-anak itu terus bersemangat menjalani hidup.

’’Anak-anak yang sudah mengerti kondisinya biasanya sudah kehilangan semangat hidup. Mereka sudah tidak percaya kepada siapa pun. Itulah tugas saya untuk menghidupkan kembali semangat mereka,’’ tandasnya.

Advertisement