Saudaraku, dari “falling in love”—jatuh dalam cinta—kita mesti beringsut menuju “growing in love”—bertumbuh dalam cinta. Jatuh cinta membawa gema hasrat memiliki, seolah cinta adalah jerat yang menaklukkan, mengubah dua jiwa menjadi medan tarik-menarik kekuasaan. Namun bertumbuh dalam cinta adalah menapaki jalan menjadi: suatu tarian resiprokal antara dua jiwa yang saling peduli, saling belajar, saling berbagi, dan saling menumbuhkan—seperti dua pohon yang akar-akarnya saling bersentuhan dalam tanah kasih yang sama.
Seperti aku dan bunga-bunga di tamanku, tumbuh bersama dengan semangat saling memberi. Aku belajar memahami tabiatnya dan penuh gairah merawatnya. Makin baik pemahaman dan pemeliharaanku, makin sehat dan subur bunga itu bersitumbuh. Makin sehat dan subur tanamanku, makin sehat dan indah ruang hidupku. Hubungan kami bukan sekadar tentang memberi dan menerima, tetapi tentang saling menghidupi.
Dalam cinta yang tumbuh, tak ada pengorbanan yang menjadi sia-sia. Karena semakin banyak kau memberi, semakin limpah yang kembali. Semakin kau peduli, semakin hangat cinta bersemi. Dan dari sana, kebahagiaan tumbuh seperti matahari yang tak pernah jemu menyinari bumi.
Karena itu, lawan sejati dari cinta bukanlah benci, melainkan masa bodoh. Sebab cinta dan benci masih tersambung oleh biokimiawi perasaan yang sama dengan hasil yang berbeda. Membenci bisa merupakan efek dari mencintai. Namun, masa bodoh adalah ladang hampa, tempat rasa tak tumbuh, tak peduli, tak menghargai—karena ketiadaan rasa cinta.



