Turki Peringati Kudeta 1980

Turki memperingati perstiwa kudeta militer oleh Jenderal Kenan Evren pada 12 September 1980 yang merupakan aksi kudeta ketiga setelah 1960 dan 1971.

RAKYAT Turki memperingati kudeta berdarah diwarnai aksi penyiksaan dan eksekusi serta penahanan ratusan ribu orang yang dilancarkan leh Jenderal Kenan Evren, 12 September 1980.

Pada hari itu, Evren muncul di TV mengumumkan kudeta dan darurat militer didukung sejumlah komandan satuan AD,AL, AU dan gendarmerie (polisi militer) dengan dalih pengambil alihan kekuasaan perlu dilakukan demi mengembalikan ketertiban di negara itu.

Kudeta 1980 tersebut adalah aksi ketiga di Turki setelah peristiwa sama pada 1960 dan 1971. Pemicunya, konflik bersenjata antara kubu sayap kanan  dan sayap kiri akibat imbas perang proksi (perpanjangan tangan) antara Amerika Serikat dan Uni Soviet di tengah era Perang Dingin saat itu.

Evren membatalkan konstitusi, membubarkan parlemen, mengumumkan situasi darurat militer dan membubarkan partai politik, sedangkan tokoh-tokohnya diasingkan.

Dilaporkan 299 orang penentang kudeta  tewas akibat penyiksaan dan  perlakuan buruk di penjara terhadap, sementara saksi mata yang selamat menuturkan, mereka mengalami penyiksaan fisik, mental, dan spiritual selama bertahun-tahun.

Sebanyak 50 orang dieksekusi pada 9 Okt. 1980, lebih 650.000 orang ditahan dan 230.000 divonis karena alasan politik, 14.000 orang dicabut  kewarganegaraan mereka dan 30.000 dipecat dari jabatannya, termasuk 4.000 guru dan akademisi.

Tidak hanya itu, sektor budaya dan seni turut menderita dengan dilarangnya 1.000 judul film dan kegiatan lain yang dianggap tidak sejalan dengan rezim junta militer.

Evren menjadi presiden Turki dari 1980 hingga 1989 dan hasil referendum baru yang digelar pada 12 September 2010, membuka jalan bagi persidangan terhadap para pelaku kudeta termasuk dirinya.

Jaksa Tinggi Turki yang menggelar penyelidikan kriminal terhadap Evren dan mantan KSAU Tahsin Sahinkaya memvonis mereka bersalah telah membatalkan konstitusi dan membubarkan parlemen.

Keduanya dijebloskan ke dalam bui karena dituduh telah mengubah pasal-pasal konstitusi Turki dan membubarkan parlemen demi  ambisi kekuasaan,  walau mereka tidak hadir selama persidangan dengan alasan sakit.

Di benua Asia dan Eropa

Wilayah Republik Turki berada di kawasan Eurasia, terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya ke Balkan di Eropa Tenggara, berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah utara, Bulgaria di barat laut, Yunani dan Laut Aegea di barat, Georgia di timur laut, Armenia,  Azerbaijan dan Iran di timur, Irak, Suriah di tenggara dan Laut Mediterania di selatan.

Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental.

Setelah kesultanan Utsmaniyah runtuh pasca  kalah pada Perang Dunia I, sebagian wilayahnya diduduki oleh kubu pasukan Sekutu yang memenangi Perang Dunia I.

Tokoh kemerdekaan Turki, Mustafa Kemal Atatürk kemudian mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan Sekutu dan berhasil mendirikan Republik Turki modern dengan Atatürk sebagai presiden pertamanya pada 1923.

Pemerintahan Turki yang berbentuk republik  konstitusional  demokratis dan berazas sekuler bergabung dengan Barat dalam NATO dan kini menjadi salah satu anggota G20, namun belum diterima sebagai anggota Uni Eropa (UE) karena terganjal persoalan HAM.

Turki beruntung berada di lingkungan negara-negara dimokrasi Uni Eropa, sehingga kini aksi-aksi kudeta militer semacam itu agaknya tinggal kenangan sebagai bahan dongengan bagi anak-cucu. (AP/Reuters/ns)

Advertisement