PADI semakin tua semakin merunduk, karena itu tanda makin berisi. Manusia hidup mestinya juga seperti itu. Jangan seperti Tomy Saputro Ong (59) dari Kalideres, Jakarta Barat; hanya karena istrinya, Nita Jong (55) ngomel melulu dibungkamlah dengan cekikan. Ya tewaslah. Akhirnya dia bingung sendiri, mayat dibawa puter kayun, dari Jakarta – Surabaya – Indramayu – Bandung, dan baru dibuang ke kebun karet milik PTPN VIII, Kabupaten Subang. Berakhirlah sudah petualangan sang pembunuh, dan Tomy Saputro Ong yang tuwa tuwas dan sepuh sepah inipun ditahan polisi.
Ditilik dari fotonya, Tomy Ong rupanya tekor dalam penampilan. Usia belum kepala enam, tapi raut wajahnya seperti sudah berusia 70-an tahun. Agaknya di tekor pula dalam perekonomian sehari-hari. Buktinya, dia sampai terbelit utang, dan istrinya pun, Nita Jong, jadi ngomel melulu. Bagaimana tidak ngomel, dia yang jadi tulang punggung keluarga, mengumpulkan uang serupiah demi serupiah, eh…..suaminya malah menghambur-hamburkannya, sehingga banyak utang di luaran.
Padahal yang namanya perempuan, urusan omel-mengomel sudah menjadi pakar dan ahlinya. Persis kaum oposisi dalam dunia politik. Apapun kebijakan negara dinyinyiri melulu. Rupanya Ny. Nita Jong juga seperti itu. Tomy Ong yang suka berutang di luar sering diomeli. Bahkan ada masalah apapun, pastilah diantemke (ditembakkan) ke suami. Lama-lama Tomy Ong merasa berisik.
Mungkin dia berpikir, negara saja biasa berutang, kenapa rakyat seperti dirinya tak boleh? Kenapa suami berutang dinyinyiri istri melulu? Toh rasio utangnya masih aman dibanding dengan PDB (Product Domestic Bruto), meskipun nanti yang bayar istrinya juga. Ini kan sama saja kriminalisasi terhadap suami. Maka bila jaman Orba yang nyinyir diculik, maka karena yang nyinyir istri, ya dicekik!
Dan Tomy Ong benar-benar melakukannya. Di kala istri ngomel terus, langsung saja dicekik. Tidak lama, cuma 15 menit. Tadi maksudnya sekedar menghentikan omelannya. Tapi dia lupa bahwa manusia cap apapun tak bisa menahan napas sampai 15 menit. Maka ketika Tomy Ong merenggangkan cekikannya 15 menit kemudian, Anita Jong sudah meninggal. Saking paniknya, dimulailah tour Jakarta – Surabaya – Indramayu – Bandung dan Subang.
Dalam usia oversek (lebih dari 50 tahun), mestinya orang menjadi lebih tahan emosi, banyak bersabar. Meski masih merasa rosa-rosa macam Mbah Marijan, tapi denyut jantung sudah tak seperti dulu lagi. Makin melemah. Jika terlalu dibawa emosi, detak jantung menjadi lebih cepat, sehingga salah-salah jantung dol alias bisa bikin mati pemiliknya!
Apa pemicu jantung berdetak cepat? Salah satunya ya banyak utang! Lebih-lebih jika rasio bayar tak memadai alias belum ada dananya. Baru ketemu si pemberi utang, dada sudah berdesir dan detak makin cepat. Padahal bisa si pemberi utang tak bermaksud menagih, tapi kita-kita sudah jadi baper (dibawa perasaan).
Ketika usia makin meninggi, harus meredam hawa nafsu, termasuk nafsu utang! Utang di bank mana dibolehkan dalam usia segitu. Jika dipaksakan, akan menjadi beban keluarganya. Contohnya si Tomy Ong di atas, dia dalam usia semakin tua malah diomeli istri melulu. Dia mustinya sadar bahwa Tomy Ong bukanlah Tommy Soeharto yang banyak duit.
Semakin tua mestinya semakin sadar bahwa hidup itu sekedar mampir ngombe (numpang minum), karena kenyang atau tidak saat minum, pada saatnya harus kembali pada Sang Pencipta. Karenanya perbanyak amal, jangan malah rajin ke mal. Jika mal (harta) masih cukup tak masalah, jika tidak malah malu-maluin!
Orang Jawa punya ungkapan, tuwa tuwas (tua yang sia-sia) dan sepuh sepah (tua hampa). Menjadi orangtua yang sudah banyak makan garam, mestinya menjadi panutan anak cucu, ditunggu segala nasihatnya. Karenanya perilaku orang yang sudah tua harus santun, bijak, bermanfaat bagi sekitarnya. Jika sudah tua malah tuwa tuwas dan sepuh sepah, sampai matipun akan dikenang kejelekannya. Jika merujuk cerita wayang, jadilah Begawan Abiyara, jangan menjadi Begawan Durna. (Cantrik Metaram)





