Ukraina, Lahan Baru Penyabung Nyawa

Perang Rusia vs Ukraina bakal diramaikan oleh kehadiran para kombatan pendatang khususnya dari Suriah. Mereka berihak ke mana saja, yang penting membela yang berani membayar.

SUDAH lebih dua pekan sejak 24 Februari, perang terbuka antara Rusia dan tetangganya, Ukraina mengakibatkan ribuan tentara kedua belah pihak, juga warga sipil tewas dan mengalami luka-luka, medan laga pun bakal diramaikan para kombatan pendatang .

Diperkirakan sekitar 2,5 juta warga Ukraina mengungsi ke negara tetangganya, Polandia, Modova, Rumania, Ceko, bahkan lebih jauh lagi, sampai Jerman dan Itali untuk menyematkan diri.

Sebaliknya, kelompok-kelompok kombatan di wilayah Suriah yang saat ini setengah nganggur, mulai melihat peluang lahan baru,  bakal bergabung dengan salah satu pihak yang bertikai, Rusia atau Ukraina.

Lebih seratus ribu tentara Rusia didukung ratusan tank yang menyerang UKraina dari tiga arah, dari Utara melalui wilayah sekutunya, Belarus dan saat ini sudah berada “sepelemparan batu dari ibukota, Kiev.

Dari arah timur Ukraina, Rusia memanfaatkan kelompok separatis di wilayah Donbass, sementara dari arah selatan Rusia menyerang dari  wilayah Krimea yang sudah didudukinya sejak 2014.

Dengan mesin perang raksasa yang dimilikinya Rusia berada di atas angin, unggul dalam jumlah dan persenjataan dibandingkan pasukan Ukraina.

Namun pasukan Ukraina sejauh ini masih bertahan berkat pasokan senjata seperti anti rudal-rudal anti tank Javelin, rudal anti pesawat Stinger (AS) dan rudal anti tank terbaru NLAW buatan Inggeris-Swedia (NLAW) yang paling tidak, sementara berhasil menahan gerak maju tentara Rusia.

Menhan Rusia Sergei Soighu dalam rapat Jumat lalu (11/3) menyampaikan idenya merekrut kombatan asing untuk menjaga titik-titik yang sudah dikuasai di Ukraina, sehingga pasukannya bisa leluasa menyerang target berikutnya.

Kombatan Suriah

Seperti diungkapkan harian berbahasa Arab Asharq al Awsat (5/3) yang dikutip Kompas, sekitar 230.000 kombatan mendaftarkan diri di 12 lokasi pendaftaran di negara itu untuk bertempur di Ukraina di pihak Rusia.

Para pialang kombatan tersebut diberi nama sandi “Pangkalan Udara Khemeimin” di wilayah Lathakia, Suriah Barat yang dikontrol oleh Rusia sejak lama untuk membantu rezim Presiden Bashar al Assad.

Rusia sebelumnya juga sudah memanfaatkan jasa kombatan tersebut untuk memerangi milisi NIIS diantaranya milisi battalion Al-Bustam pimpinan Rami Makhluf, sepupu Presiden Bashar dan Satuan Pertahanan Nasional.

Sebaliknya intelijen Rusia menuduh AS telah melatih pemuda di timur dan Utara Suriah yang dikontrolnya untuk dikirim di pihak pasukan Ukraina.

Di pangkalan Al-Tanf dekat tapal batas dengan Yordania dan Irak, AS dilaporkan melatih milisi Unit Perlindungan Rakyat (YPG)  dari etnis Kurdi yang selama ini juga dimanfaatkan untuk memerangi NIIS.

Untk ditugaskan di wilayah Ukraina selama enam bulan, kabarnya para calon kombatan itu diiming-imingi gaji sekitar 7.000 dollar AS atau sekitar Rp100-juta.

Ideologi Tidak Penting                                                         

Bagi kombatan sendiri, siapa atau apa ideologi pihak yang akan dibelanya, tidak lah penting, karena tujuannya memang untuk memperoleh uang. Dukung Rusia “ok”, Bantu Ukraina juga “tidak masalah”. Prinsip “membela yang berani membayar” benar-benar dilakoni mereka.

Padahal orang juga tau, mayoritas anggota kombatan tersebut adalah pemeluk Islam, baik dari aliran Sunni atau Syiah, sementara Rusia yang akan dibelanya jelas-jelas komunis, mayoritas atheis,  sementara Ukraina mayoritas Katholik Ortodoks.

Jika pulang ke tanah airnya dengan selamat, para kombatan bakal mengantongi uang cukup banyak bagi rata-rata penduduk Suriah yang dilanda perang berkepanjangan, lain halnya jika pulang tinggal nama di medan pertempuran atau cacat permanen.

Jangan membayangkan, jika tewas di medan pertempuran, jasad mereka akan dipulangkan ke negara asalnya, apalagi mendapatkan upacara penghormatan militer.

Mereka akan langsung dikuburkan, karena pihak yang merekrut mereka pun bakal tidak mengakui keberadaan mereka dan jika mereka tewas, berarti putus pula perjanjian kontraknya.

Sungguh mahal yang dipertaruhkan oleh para kombatan tersebut. Pilihannya cuma “uang atau mati” . Hanya untuk itu mereka memiliki nyali mengambil risiko  menyabung nyawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement