
PERANG terbuka diwarnai bombardemen melalui udara, rudal jelajah, roket multi laras dan artileri berat serta serbuan tank-tank yang mengawali invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Feb. lalu, kini memasuki tahap perang kota.
Pemerintah Ukraina mendorong warga sipil meninggalkan zona perang, namun upaya evakuasi terhadap mereka terhalang perang yang berkecamuk di wilayah perkotaan di sejumlah titik di Ukraina.
Evakuasi warga Mariupol yang sudah terkepung oleh pasukan Rusia didukung milisi separatis Ukrania di Luhansk dan Donetsk menurut Wakil PM Ukraina Iryna Vereshchuck, sedang terus diupayakan.
Hampir tidak ada bangunan tersisa di kota pelabuhan Mariupol, termasuk theater dan bangunan publik sehingga diperkirakan ratusan ribu warganya masih terjebak di ruang-ruang bawah tanah, tanpa air, makanan dan fasilitas kesehatan.
“Tidak ada yang tersisa di Mariupol, “ kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sementara Wakil Walikota Sergei Orlov menghitung, sekitar 50 sampai 100 bom dijatuhkan oleh pesawat-pesawat Rusia tiap hari.
“Banyak tangisan, kematian dan kejahatan perang di sini, “ tuturnya, sementara seorang warga mengemukakan, tampaknya Rusia menginginkan agar Mariupol rata dengan tanah. Mariupol, kota di selatan Ukraina sebelumnya berpenduduk sekitar 500-ribu orang.
Selain bombardemen dari darat, laut dan udara, warga sipil Ukraina juga mencemaskan banyaknya ranjau darat yang ditebar, sebaliknya  Rusia menuduh, Ukraina telah menyebar ranjau di sekitar Laut Azov dan Laut Hitam sehingga jika terbawa arus bisa sampai ke Turki atau negara-negara di Eropa Barat lainnya.
Saling tuding terus terjadi antara kedua belah pihak yang berperang. Rusia menuduh lawannya sengaja berlindung di balik bangunan permukiman  sebaliknya Ukaina menuduh Rusia lah yang menyasar  target-target sipil.
Siap Berunding
Sementara Presiden Ukraina Zelensky dari tempat persembunyian   mengatakan ia siap berunding dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang soal apa saja asal pertempuran bisa dihentikan.
Menurut dia, Ukraina siap berunding termasuk terkait wacana negaranya untuk menjadi anggota NATO yang menjadi justikasi Rusia menyerang negaranya.
Zelensky juga menekankan, perlu digelar referendum di Ukraina terkait-isu-isu utama, selain terkait keinginan Ukraina bergabung ke dalam NATO, kelompok separatis di Luhansk dan Donetsk serta wilayah Krimea yang dicaplok Rusia sejak 2014.
Selain kerusakan prasarana dan sarana publik dan bangunan umum di Ukraina makin parah jika perang terus berlangsung, korban manusia pun terus bertambah banyak (sampai saat ini hampir 900 orang tewas dan 1.400-an terluka), sementara pengungsi lebih 3,2 juta orang.
Perang, selain menimbulkan malapetaka dan tragedi umat manusia, juga tidak menyelesaikan persoalan. (AP/AFP/Reuters)




