BANGKOK—Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHVR) merilis sebuah laporan terbaru terkait dengan orang Rohingya. Dalam lima tahun terakhir, sedikitnya 168 ribu orang Rohingya harus meninggalkan rumah mereka akibat kekerasan.
Laporan yang dihimpun hingga tahun 2016 itu menyoroti dinamika yang kompleks di balik pergerakan dan eksodus warga Rohingya yang terus berlanjut. Laporan ini melibatkan lebih dari 1000 narasumber, termasuk warga etnis Rohingya, organisasi masyarakat sipil, dan laporan dari berbagai media.
Kejadian terakhir yang menyorot perhatian dunia adalah operasi militer di Rakhine pada Oktober tahun lalu yang membuat 43 ribu lebih orang mengungsi ke Bangladesh. Data terakhir di bulan Februari tahun ini menyebutkan angka tersebut sudah melewati 74 ribu.
Dalam laporannya, UNHCR juga mengemukakan kekerasan yang dialami pengungsi Rohingya di Bangladesh. Dalam pengakuannya mereka menyebutkan pembakaran, penjarahan, penembakan, pemerkosaan dan penangkapan keada mereka yang melarikan diri dari kamp di Rakhine.
“Anak-anak, wanita dan pria di sini sangat rentan. Mereka berisiko menjadi korban kembali, bahkan di pengasingan,” kata Shinji Kubo, Perwakilan UNHCR di Bangladesh, yang dikutip dari ReliefWeb, Kamis (4/5/2017).
Kubo menambahkan, para pengungsi ini membutuhkan tempat berlindung yang memadai sebelum musim hujan datang. Kondisi mereka, terutama anak-anak dan wanita, juga sangat rentan menjadi objek kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia.
Sebelum insiden kekerasan akhir tahun lalu, Malaysia telah menjadi tempat berlindung warga Rohingya. Antara tahun 2012 hingga tahun 2015, ada 112.500 yang mengungsi di Malaysia. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka di kapal penyelundup di Teluk Benggala dan Laut Andaman dengan harapan bisa mencapai Malaysia.





