
BANGLADESH – Agen pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan pada Jumat (8/9/2017) diperkirakan 270.000 orang Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh selama dua minggu terakhir.
Komisaris Tinggi Urusan Pengungsi PBB mengatakan perkiraan jumlah orang Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan meletus di Myanmar pada 25 Agustus telah meningkat dari 164.000 pada hari Kamis, setelah pekerja bantuan menemukan kelompok besar di daerah perbatasan.
“Kami telah mengidentifikasi lebih banyak orang di berbagai area yang tidak kami sadari,” kata Vivian Tan, juru bicara UNHCR, sambil menambahkan bahwa mungkin ada penghitungan ganda.
“Angka-angka tersebut sangat mengkhawatirkan, ini benar-benar berarti bahwa kita harus meningkatkan respons kita dan situasi di Myanmar harus segera ditangani.” tambahnya, dilansir Reuters.
Amerika Serikat, pendukung utama pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi yang mulai berkuasa di Myanmar tahun lalu, mengatakan ada kekurangan dari pihak pasukan keamanan Myanmar dan pemerintah dalam menangani situasi tersebut.
Patrick Murphy, deputi asisten menteri luar negeri AS untuk Asia Timur, mengatakan Washington menyerukan pembicaraan dengan para pemimpin militer dan sipil Myanmar untuk segera memulihkan akses ke Negara Bagian Rakhine atas bantuan kemanusiaan dan wartawan.
Dia mengatakan bahwa pasukan keamanan harus menanggapi secara bertanggung jawab atas serangan yang memulai krisis tersebut, mengatakan kepada wartawan. “Mereka memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kegiatan tersebut sesuai dengan peraturan hukum dan hak asasi manusia internasional” ujarnya.
Sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara dengan Suu Kyi melalui telepon pada hari Rabu dan mengulangi keprihatinannya tentang situasi di Negara Bagian Rakhine.
Duta Besar A.S. untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Nikki Haley mengatakan bahwa Amerika Serikat sangat terganggu oleh laporan serangan terhadap warga sipil tak berdosa lainnya dan akan terus mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk menghormati warga sipil tersebut karena mereka melakukan operasi keamanan.




