UNICEF: 50 Juta Anak di Seluruh Dunia Terusir dari Rumahnya

Ilustrasi anak-anak pengungsi Hungaria/ thesun.co.uk

NEW YORK – Laporan terbaru UNICEF mengungkapkan hampir 50 juta anak telah terusir dari rumah mereka di seluruh dunia, dan 28 juta di antara mereka terusir akibat konflik yang terjadi bukan karena perbuatan mereka.

Sementara itu jutaan anak lainnya lebih meninggalkan tempat tinggal mereka dengan harapan bisa menemukan kehidupan yang lebih baik dan lebih aman, demikian diungkapkan UNICEF dalam laporan terbarunya yang berjudul “Uprooted: The growing crisis for refugee and migran childran”, di Markas Besar PBB, New York, Rabu (8/9/2016), seperti dilaporkan Antara.

Dalam kasus di negara konflik, anak-anak kerap trauma akibat konflik dan kekerasan terhadap anak kecil saat mereka menyelamatkan diri, dan menghadapi bahaya lain di sepanjang perjalanan, termasuk resiko tewas-tenggelam dan dehidrasi.

Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman penyelundupan, penculikan, perkosaan dan pembunuhan, dan seringkali menghadapi serangan karena kebencian terhadap orang asing dan diskriminasi.

“Gambar yang tak bisa dihapuskan dari ingatan mengenai anak-anak, anak kecil Kurdi Aylan, yang hanyut ke pantai setelah tewas-tenggelam di laut atau Omran Daqneesh dengan wajah bersimbah darah saat ia duduk di dalam ambulans setelah rumahnya hancur, telah mengejutkan dunia,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake.

“Tapi masing-masing gambar, anak lelaki atau perempuan, mewakili berjuta-juta anak-anak yang terancam bahaya dan ini menuntut rasa sayang kita buat anak-anak yang kita lihat dengan diimbangi tindakan buat semua anak,” kata Lake.

Dalam laporan tersebut juga tergambar pada 2015, sebanyak 45 persen pengungsi bocah yang berada dalam perlindungan Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) datang dari Suriah dan Afghanistan.

Dapat disimpulkan, dari 50 juta anak, 28 juta anak telah terusir dari rumah mereka akibat kerusuhan dan konflik di dalam dan di seberang perbatasan. Sedangkan 10 juta pengungsi anak, menjadi pencari suaka yang status pengungsi mereka belum ditetapkan, dan sebanyak 17 juta anak menjadi pengungsi di dalam negeri mereka, dimana anak-anak yang sangat memerlukan bantuan kemanusiaan dan akses ke layanan penting.

Dalam hal pencari suaka, kenyataan miris yang memperlihatkan mbahwa akin banyak anak menyeberangi perbatasan tanpa pendamping. Pada 2015, lebih dari 100.000 anak di bawah umur tanpa pendamping mengajukan permohonan suaka di 78 negara –tiga-kali lipat jumlah pada 2014. Anak-anak tanpa pendamping termasuk di antara orang yang menghadapi resiko tertinggi dieksploitasi dan dilecehkan, termasuk oleh penyelundup.

Menurut laporan baru tersebut, Turki menampung paling banyak pengungsi baru-baru ini, dan sangat mungkin paling banyak pengungsi bocah di dunia. Lebanon juga menampung sangat banyak pengungsi: Rata-rata satu dari lima orang di Lebanon adalah pengungsi.

Advertisement