Setiap tanggal 6 Oktober diperingati sebagai sebagai Hari Cerebral Palsy (CP) Sedunia, suatu momen global untuk menyatukan penyandang CP, keluarga, organisasi, dan pendukung sejak inisiasi gerakan oleh jaringan internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran, menghapus stigma, dan mendorong akses hak dan layanan yang setara bagi orang dengan CP.
Tema peringatan tahun 2025 adalah “Unique and United” — kampanye yang merayakan keunikan setiap individu dengan cerebral palsy dan menekankan kekuatan yang muncul ketika komunitas bergabung untuk mendorong inklusi dan perubahan nyata.
Cerebral palsy adalah sekelompok gangguan permanen pada gerakan, postur, dan koordinasi yang disebabkan oleh kerusakan atau perkembangan otak yang tidak normal pada masa janin, persalinan, atau dua tahun pertama kehidupan anak; kondisi ini non progresif tetapi gejala dan dampaknya bervariasi luas antara individu, dan sering disertai masalah lain seperti gangguan kognitif, penglihatan, pendengaran, atau kejang.
Kelompok yang lebih sering terdampak adalah:
• Bayi lahir prematur dan berat lahir rendah: kelahiran sebelum 37 minggu dan bayi dengan berat <2,5 kg memiliki risiko CP jauh lebih tinggi daripada bayi cukup bulan.
• Kehamilan kembar atau multipel: kehamilan ganda meningkatkan risiko, terutama bila salah satu janin mengalami komplikasi perinatal.
• Negara berpendapatan rendah dan menengah: prevalensi CP cenderung lebih tinggi di negara-negara berpendapatan rendah/menengah karena akses kesehatan ibu anak dan layanan neonatal yang terbatas.
• Kondisi kehamilan berisiko: infeksi pada ibu selama hamil, gangguan aliran darah janin, ketidaksesuaian Rh, dan paparan toksin selama kehamilan meningkatkan risiko kerusakan otak janin.
• Komplikasi perinatal dan pascanatal: asfiksia berat saat persalinan, perdarahan intrakranial pada bayi baru lahir, kernikterus (bilirubin tinggi) tanpa penanganan, serta infeksi otak atau cedera kepala pada bayi dapat menyebabkan CP.
• Dampak sosioekonomi: anak dari keluarga dengan akses layanan kesehatan yang buruk, rendahnya layanan pencegahan dan intervensi dini, serta kemiskinan mengalami beban lebih besar dari segi kejadian dan konsekuensi jangka panjang.
Sumber statistik global umumnya melaporkan insidensi sekitar 2–3 kasus per 1.000 kelahiran hidup, dengan variasi regional dan kecenderungan lebih tinggi di beberapa negara berpendapatan rendah atau kelompok sosial rentan. Secara global angka orang dengan cerebral palsy diperkirakan puluhan juta; lembar fakta dan analisis registri menunjukan estimasi sekitar 50 juta penyandang CP di seluruh dunia dan bahwa prevalensi kelahiran hidup di negara berpenghasilan tinggi berada di kisaran 1,5–1,6 per 1000 kelahiran hidup, sementara data dari beberapa wilayah berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan angka yang lebih tinggi hingga sekitar 3,4 per 1000 pada kelompok tertentu.
Di Indonesia angka prevalensi yang dilaporkan bervariasi menurut sumber dan metode survei; Riskesdas 2018 dan survei nasional menunjukkan indikasi prevalensi anak dengan CP dan angka disabilitas fisik terkait yang berada di kisaran puluhan hingga ratusan ribu individu, dengan beberapa estimasi menyebut 0,09% anak usia 2–5 tahun atau sekitar 9 per 1.000 kelahiran dalam sampel tertentu.
Cerebral palsy disebabkan oleh kerusakan atau gangguan perkembangan otak yang terjadi sebelum lahir, saat kelahiran, atau dalam dua tahun pertama kehidupan anak. Kerusakan terjadi ketika jaringan otak yang sedang berkembang mengalami iskemia, hipoksia, peradangan, perdarahan intrakranial, atau gangguan diferensiasi sel saraf sehingga fungsi motorik dan kontrol postur terganggu dengan mekanisme sebagai berikut :
• Iskemia atau hipoksia menyebabkan kematian neuron dan gangguan sambungan saraf.
• Peradangan sistemik atau lokal memperburuk cedera jaringan dan mengganggu pemulihan.
• Perdarahan pada otak prematur menyebabkan lesi putih abu yang mengganggu jalur motorik.
Prematuritas meningkatkan kerentanan jaringan otak terhadap perdarahan dan peradangan sehingga merupakan faktor risiko terbesar secara populasi. Asfiksia perinatal dapat menyebabkan cedera hipoksik iskemik yang jelas dikaitkan dengan beberapa kasus cerebral palsy meskipun asfiksia bukan penyebab mayor di semua konteks.
Kelompok yang berisiko tinggi lainnya adalah:
• Berat lahir rendah di bawah 2,5 kilogram.
• Infeksi ibu selama kehamilan seperti rubella, cytomegalovirus, toksoplasma, dan lain-lain.
• Komplikasi persalinan termasuk asfiksia berat dan persalinan traumatis.
• Kelahiran kembar atau multipel.
• Gangguan genetik atau kelainan perkembangan otak bawaan.
• Kurangnya akses perawatan neonatal termasuk penanganan ikterus berat dan perawatan intensif untuk bayi prematur.
Berikut adalah tanda dan gejala utama CP yang bisa muncul sejak bayi atau masa kanak-kanak, tergantung jenis dan tingkat keparahannya:
Tanda Awal pada Bayi
• Tidak merespon suara atau sentuhan dengan baik
• Tidak bisa mengangkat kepala saat tengkurap
• Tidak menggenggam atau membuka tangan secara normal
• Gerakan asimetris (misalnya satu sisi tubuh lebih aktif)
• Tidak meraih milestone perkembangan sesuai usia
1. Gangguan Gerakan dan Postur
• Kaku atau lemas pada otot (spastisitas atau hipotonia)
• Gerakan tidak terkendali atau menggeliat (athetosis)
• Refleks primitif yang menetap (misalnya refleks Moro atau tonik leher)
• Kesulitan menjaga keseimbangan dan koordinasi (ataxia)
• Keterlambatan dalam pencapaian motorik (seperti duduk, merangkak, berjalan)
2. Kelainan Otot dan Sendi
• Kekakuan sendi atau kontraktur
• Kelainan bentuk tulang belakang (skoliosis)
• Perbedaan panjang kaki atau tangan
• Kesulitan membuka tangan atau menggenggam benda
3. Masalah Bicara dan Komunikasi
• Kesulitan berbicara (dysarthria)
• Gangguan artikulasi atau suara yang tidak jelas
• Keterlambatan perkembangan bahasa
4. Gangguan Makan dan Menelan
• Sulit mengunyah atau menelan (disfagia)
• Air liur berlebihan (drooling)
• Risiko aspirasi makanan ke saluran napas
5. Masalah Penglihatan dan Pendengaran
• Strabismus (mata juling)
• Gangguan penglihatan atau kebutaan sebagian
• Gangguan pendengaran
6. Kejang atau Epilepsi
• Sekitar 30–50% anak dengan CP mengalami kejang
• Kejang bisa muncul sejak bayi atau masa kanak-kanak
7. Gangguan Kognitif dan Perilaku
• Keterlambatan intelektual (tidak selalu terjadi)
• Gangguan perhatian atau hiperaktivitas
• Kesulitan belajar atau berinteraksi sosial
Upaya pencegahan menekankan perbaikan layanan kesehatan ibu dan bayi: pemantauan antenatal berkualitas, pengendalian infeksi selama kehamilan, pencegahan kelahiran prematur, perawatan persalinan yang aman untuk mengurangi risiko kekurangan oksigen, imunisasi yang lengkap, pengelolaan bilirubin neonatal untuk mencegah kernikterus, serta intervensi gizi dan penanganan trauma kepala pada bayi jika terjadi cedera.
Kelompok terdampak meliputi anak-anak dengan CP itu sendiri dan keluarga pengasuhnya; beban sosial-ekonomi dan kesehatan cenderung paling berat bagi keluarga di negara berpendapatan rendah dan menengah karena keterbatasan akses ke rehabilitasi, pendidikan inklusif, alat bantu, dan layanan kesehatan lanjutan — kondisi ini juga berdampak dispropor¬sional pada ibu sebagai pemberi perawatan utama.
Penanganan bersifat multimodal dan bertujuan memaksimalkan fungsi dan kualitas hidup: terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, manajemen kejang jika ada, obat untuk mengurangi spastisitas, injeksi botulinum untuk otot tertentu, tindakan ortopedi atau neurosurgeri selektif bila diperlukan, serta dukungan nutrisi, pernapasan, dan kesehatan mental; intervensi dini dan layanan berkelanjutan meningkatkan hasil jangka panjang.
Peran orang tua sangat penting dalam merawat penderita CP, yaitu:
• Stimulasi dan terapi di rumah: melatih latihan yang direkomendasikan terapis untuk memperkuat motorik dan kemandirian anak.
• Koordinasi layanan: mengatur kunjungan medis, terapi, pendidikan inklusif, dan pengadaan alat bantu.
• Advokasi dan dukungan emosional: menjadi penghubung antara anak, sekolah, dan layanan kesehatan serta memberikan motivasi dan stimulasi psikososial.
• Manajemen kendala praktis: mengatasi hambatan transportasi, biaya, dan ketersediaan alat melalui komunitas, program bantuan, dan strategi lokal yang adaptif.
Pesan Utama kepada Masyarakat tentang Cerebral Palsy
Indonesia menempati posisi menengah ke atas dalam prevalensi CP secara global, dengan tantangan utama bukan hanya jumlah penderita, tetapi akses terhadap layanan rehabilitasi, pendidikan inklusif, dan dukungan keluarga. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia mengalami tekanan sistemik karena meningkatnya jumlah anak dengan disabilitas seiring penurunan angka kematian bayi.
Cerebral palsy bukan penyakit yang selalu bisa disembuhkan tetapi dapat diintervensi untuk meningkatkan fungsi dan kualitas hidup; masyarakat harus berusaha inklusif, menyediakan akses rehabilitasi, pendidikan, dan kesempatan kerja, serta mendukung keluarga sebagai bagian dari solusi. Kesadaran, tindakan kebijakan, dan solidaritas komunitas memungkinkan orang dengan CP untuk hidup bermartabat dan berkontribusi penuh dalam masyarakat. (IP)





