Jumat sore di tepian pantai Lido yang terletak di ibukota Somalia, Mogadishu, sejumlah pemuda nampak bergerombol. Canda dan tawa terdengar sayup di tengah deburan ombak. Sesekali mereka melakukan swafoto (selfie/wefie). “Ayo lebih dekat, tersenyum. Ini akan muncul di Snapchat,” ujar Zakarite Abdirahman sambil mengarahkan smartphone-nya.
Jumat adalah hari pertama akhir pekan di Somalia. Banyak warga yang menghabiskan waktu dengan berwisata di pantai, menikmati sajian restoran di sekitar pantai yang menghadap Samudera Hindia itu.
Abdirahman dan lima temannya bukan sekedar berwisata hari itu. Ia memiliki misi lain, menunjukkan sisi lain Somalia kepada dunia. Sisi yang menurutnya diabaikan oleh media arus utama. Mereka adalah relawan dan aktivis media sosial, yang kerap pergi ke desa-desa atau tempat menarik lainnya di Somalia, lalu mengunggahnya ke media sosial. Langkah mereka pun diikuti oleh ribuan warga lainnya, membanjiri lini masa akun twitter, facebook, atau media sosial lainnya dengan aktivitas mereka sehari-hari.
Citra negeri “Black Hawk Down” yang selama ini menyeramkan karena konflik senjata berkepanjangan tidak terlihat sama sekali. “Saya mengunggah foto di akun media sosial untuk menunjukkan kepada orang lain realitas yang ada kota ini. Saya mengambil foto tentang perkembangan terbaru di Mogadishu. Banyak orang yang menghubungi, mereka tidak pernah tahu ada tempat indah di Mogadishu seperti (postingan gambar) ini. Bahkan ada yangkemudian mengunjungi kota ini setelah melihat beberapa gambar saya,” Abdirahman mengatakan kepada Al Jazeera. Akhir Oktober lalu.
Memang, puing-puing sisa kehancuran Mogadishu akibat perang antarmilisi selama dua dekade masih ada. Namun, pelan tapi pasti, Somalia mulai menggeliat. Al-Shabab, kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan al-Qaeda telah berhasil didorong keluar dari kota pada tahun 2011. Kelompok ini juga telah kehilangan kendali atas sebagian besar kotadi negara “tanduk Afrika” ini. Serangan-serangan kecil yang masih terjadi tidak terlalu signifikan.
Situasi yang berangsur normal ini telah membuat banyak warga Somalia yang sebelumnya eksodus kembali ke kampung halaman. Investor juga sudah berani menggelontorkan jutaan dollar untuk membangun ekonomi negara yang rapuh.
Sayangnya, media lokal dan internasional sepertinya belum berpihak sepenuhnya. Citra yang ditampilkan masih seperti Somalia yang lama. Itulah yang menjadi motif Abdirrahman dan kawan-kawannya berjuang. “Alasan mengapa saya mengambil gambar-gambar ini karena ketika orang mencari di Google tentang Mogadishu,yang muncul adalah orang yang tewas dalam ledakan, orang-orang yang berdarah, atau orang kelaparan.,” kata Ayan Mohamed. “Saya mengunggah foto (positif) ini untuk melawan citra tersebut. Media menciptakan dan melanggengkan gambar (seram) ini,” katanya.
Upaya yang dilakukan Abdirrahman mendapat dukungan pemerintah. Juru bicara pemerintah, Abdisalam Aato meminta lebih banyak lagi masyarakat yang mengunggah foto-foto “indah” tentang Somalia di media sosial.
“Kami mendorong warga untuk menunjukkan kepada dunia perubahan yang sedang kami alami. Ini bukan hanya tugas pemerintah,” ujarnya. Ia menekankan, media memang lebih tertarik pada berita dan foto “ledakan”.
Musuh Baru bernama El Nino
Somalia memang berhasil bangkit dari keterpurukan karena konflik bersenjata. Namun masalah baru justru datang dari alam. Negara ini kembali menjadi berita utama di media-media internasional karena kasus kelaparan. Akhir bulan lalu, PBB melansir, ada 1,7 juta orang di kawasan utara negara itu terancam mati karena kelaparan sebagai dampak dari El Nino. Angka ini setara dengan 40 persen populasi warga di bagian utara Somalia.
Dalam laporan UNOCHA, sedikitnya terdapat 8.800 kasus diare akut atau kolera yang dilaporkan dari kawasan tersebut pada tahun ini. Setengah dari angka tersebut adalah anak-anak. Penutupan fasilitas kesehatan karena kurangnya sumber daya membuat kondisi semakin parah. Angka gizi buruk juga diprediksi akan meningkat tajam, sementara sumber-sumber mata pencaharian juga terancam. Semuanya karena El Nino.
Memang, kondisi mereka harus didengar dunia sehingga bisa dibantu. Namun, Abdirrahman mengatakan bahwa mereka tidak ingin dunia fokus hanya pada penderitaan rakyat Somalia. Dengan demikian, perekonomian Somalia akan kembali menggeliat dan kehidupan rakyat Somalia akan semakin membaik.
“Kami tidak ingin media hanya menunjukkan sisi negatif, penderitaan. Kami ingin mereka menunjukkan kehidupan kami secara utuh. Ada begitu banyak yang terjadi di Mogadishu dan kota-kota lainnya. Sepertinya mereka tidak tertarik pada apa pun selain penderitaan rakyat kami, “kata Abdirahman.
Saat matahari menghilang di balik gelombang laut yang hangat, mereka tetap asyik di tepian pantai. “Tidak ada yang akan menghentikan untuk menceritakan kisah kami sepenuhnya. Dan kami akan memastikan sisi indah dari Somalia juga terpublis di dunia maya,” tukas Abdirahman.





