
Jakarta, KBKNews.id – Langkah ekspansi langsung ditunjukkan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) setelah masuknya Grup Bakrie sebagai pemegang saham baru. Perseroan menjajaki kerja sama penyaluran gas bumi dari Blok Kangean, Jawa Timur, untuk memperkuat bisnis liquefied natural gas (LNG).
Penjajakan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BIPI dan PT Indogas Kriya Dwiguna pada Selasa, 24 Februari 2026.
Corporate Secretary BIPI, Kurniawati Budiman, menyampaikan kerja sama ini merupakan tahap awal eksplorasi potensi penyaluran gas bumi dari Blok Kangean.
“MoU berlaku selama 1 (satu) tahun sejak tanggal penandatanganan,” tulis Kurniawati dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip Sabtu (28/2).
Skema Penyaluran Lewat Anak Usaha LNG
Dalam skema yang dirancang, pasokan gas dari Indogas akan disalurkan ke BIPI melalui entitas anak tidak langsungnya, PT Para Amartha LNG. Gas tersebut nantinya menjadi bahan baku fasilitas Mini LNG Plant yang tengah dikembangkan perseroan.
Indogas sendiri memiliki perjanjian kerja sama dengan PT Kangean Energy Indonesia Ltd., anak usaha dari Grup Bakrie melalui PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Kurniawati menegaskan, kesepahaman ini menjadi fondasi awal sebelum masuk ke tahap komersial lebih lanjut.
“MoU ini merupakan kesepahaman awal untuk kerja sama penyaluran gas bumi dari IKD kepada Perseroan melalui entitas anak tidak langsung, PT Para Amartha LNG, guna mendukung pengolahan gas alam cair (LNG) melalui fasilitas Mini LNG Plant,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut belum berdampak langsung terhadap kondisi keuangan BIPI. Namun, perusahaan melihat peluang strategis dalam memperluas portofolio energi, khususnya di segmen LNG.
Bakrie Kuasai 6% Saham, Saham BIPI Melonjak
Langkah korporasi ini terjadi bersamaan dengan masuknya Grup Bakrie melalui PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) sebagai pemegang saham BIPI.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham, BCI memborong 3,82 miliar saham BIPI di harga Rp248 per lembar pada 24 Februari 2026 dengan tujuan investasi. Dengan transaksi tersebut, Bakrie kini menguasai sekitar 6% saham BIPI.
Seiring aksi tersebut, harga saham BIPI melonjak tajam. Pada penutupan perdagangan Rabu (25/2/2026), sahamnya melesat 17,78% ke level Rp322 per saham. Kapitalisasi pasar perusahaan pun menembus Rp20,51 triliun.
Adapun sejumlah emiten yang berada di bawah kendali langsung BCI antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
Masuknya Bakrie dinilai memperkuat sinergi sektor energi, mengingat perusahaan ini memiliki rekam jejak panjang di industri migas dan sumber daya alam.
Diversifikasi ke LNG dan Waste to Energy
BIPI selama ini dikenal sebagai emiten yang bergerak di sektor minyak dan gas serta infrastruktur batu bara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan memperluas arah bisnisnya.
Selain proyek Mini LNG Plant, BIPI juga membidik proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE). Proyek ini diluncurkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, sebelumnya menyampaikan perseroan telah mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) selama lebih dari tiga tahun.
Namun dinamika regulasi, baik di tingkat pusat maupun daerah, membuat proyek tersebut harus menyesuaikan kembali perencanaannya. Kini, setelah studi kelayakan rampung, BIPI tengah berfokus mencari pendanaan.
Perusahaan memperkirakan kebutuhan investasi proyek WtE itu berkisar 300 juta USD hingga 350 juta USD. Berdasarkan paparan publik, proyek tersebut direncanakan berada di Pulau Jawa, meski detail lokasi dan mitra strategisnya belum diumumkan.
Arah Baru Portofolio Energi
Penjajakan pasokan gas Blok Kangean menjadi bagian dari strategi memperkuat fondasi bisnis LNG BIPI. Dengan pasokan bahan baku yang terjamin, fasilitas Mini LNG Plant diharapkan mampu mendorong pertumbuhan operasional ke depan.
Walau MoU belum berdampak langsung pada laporan keuangan, langkah ini mencerminkan konsolidasi dan reposisi bisnis BIPI pasca-masuknya investor strategis. Sinergi hulu migas dan hilir LNG menjadi salah satu fokus utama.
Dengan dukungan pemegang saham baru dan ekspansi lintas sektor energi, BIPI kini berada pada fase transformasi—dari pemain infrastruktur energi konvensional menuju portofolio yang lebih terdiversifikasi dan terintegrasi.




