JAKARTA – Gubuk berukuran 4 meter x 5 meter di Lingkungan Sandi, Kelurahan Pattalassang Pattalassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, ini tampak reot. Bagian belakangnnya nyaris ambruk, hanya lemari kayu yang praktis menggantikan pondasi rumah.
Kardus bekas minuman kemasan pun tampak rapat menutup gubuk menggantikan bilik anyaman bambu yang telah berlubang dimakan usia. Meski bentuknya sudah tak seperti rumah tinggal, namun didalamnya terdapat Tio Daeng Te’ne (80) bersama putranya yang mengalami gangguan jiwa, yaitu Tata (40) dan Sampara (37).
Sepeninggal sang suami dua tahun silam praktis membuat Tio tak mampu berbuat apa-apa. Kondisi fisiknya yang harus ditemani sebuah tongkat membuat dirinya tak mampu lagi bekerja sebagai pengumpil kayu bakar.
“Dulu kalau beras sudah habis, saya kumpulkan kayu bakar dan saya bawa ke pasar, tapi sekarang saya sudah tidak mampu jalan kaki ke pasar, apalagi angkat kayu,” kata Tio seperti dilansir dari kompas (23/2).
Kondisi fisik Tio diperparah dengan dua putranya yang mengalami gangguan jiwa. Praktis segala pekerjaan harus dia lakoni seiring dengan usianya yang semakin senja. Beruntung, masih ada relawan dan sejumlah tetangga berbaik hati dengan memberikan makanan kepada Tio.
“Biar bagaimana kami selaku tetangga di sini tidak mungkin tinggal diam karena pemerintah di sini tidak bisa diharapkan kasih bantuan,” ujar Sambara, tetangga Tio.
Kini Tio hanya berharap jika kelak dirinya meninggal dunia, ada pihak yang ingin merawat kedua putranya yang mengalami gangguan mental. Tio juga berpesan kepada generasi muda agar menggunakan fisiknya untuk bekerja supaya tidak bernasib seperti dirinya.
“Saya sadar usiaku hanya menunggu waktu. Mudah-mudahan nanti ada yang mau merawat anakku yang sakit gila dan untuk anak-anak muda sekarang ini, pergunakan kekuatan fisikmu selagi masih bisa untuk bekerja. Jangan sampai sama seperti saya ini,” ucap Tio.





