SEMPAT memicu polemik karena maju-mundurnya jadwal kedatangan vaksin Covid-19 yang ditunggu-tunggu publik, pengiriman pertama 1.200 dosis vaksin buatan Sinovac – Biotech, China tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu malam (6/12).
Perusahaan farmasi Sinovac sendiri masih merampungkan uji klinis tahap tiga bekerjasama dengan PT Bio Farma dan Brazil. Pada tahap berikutnya, pemerintah berhadap mendatangkan lagi 1,8 juta dosis vaksin Sinovac, awal Januari 2021.
Selain vaksin yang sudah jadi, akan didatangkan pula 45 juta dosis vaksin (15 juta dosis akan didatangkan Desember tahun ini dan 30 juta sisanya Januari 2021) berupa bahan baku curah yang akan diproses oleh PT Bio Farma.
Berdasarkan ketetapan Badan Kesehatan Dunia (WHO), vaksin yang sudah lulus uji lab tahap tiga tidak langsung bisa digunakan secara massal tetapi harus memperoleh izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization-EUA) atau otoritas badan pengawas obat setempat (di Indonesia BPOM).
Dalam upaya mendapat kesempatan pertama jika vaksin tersedia, pemerintah juga telah menggalang kerjasama dengan AstraZeneca-Oxford University, Inggeris, Pfizer-BioNTech (AS dan Jerman) serta Moderna (AS).
Presiden Joko Widodo sendiri mensyukuri kedatangan gelombang pertama vaksin Sinovac tersebut. “Syukur vaksin telah tersedia, berarti kita bisa mencegah meluasnya wabah Covid-19, “ ujarnya.
Peralatan pendukung, SDM dan tata kelola Yang juga perlu disiapkan sebelum vaksin didistribusikan ke daerah, dan selanjutnya demi memperlancar program vaksinasi, akan dilakukan simulasi di sejumlah provinsi.
“Kedatangan vaksin menjadi angin segar upaya menekan penyebaran Covid-19, walau sebelum paling tidak 70 persen penduduk divaksinasi, kepatuhan terhadap program 3M tetap harus dilakukan.





