STOCKHOLM International Peace Research Institute (SIPRI) mencacat, walau dunia sedang bergulat melawan pandemi Covid-19, belanja militer masih tetap tinggi.
Menurut laporan AFP, produsen alutsista atau alat pembunuh Amerika Serikat dan China mendominasi pasar senjata global pada 2019, masing-masing 61 persen dan 15,7 persen
Omzet penjualan “Top 25” produsen senjata dunia naik 8,5 persen menjadi 361 milyar dollar AS atay setara Rp5,097 kuardriliun, atau setara dengan 50 kali lipat anggaran tahunan pasukan penjaga perdamaian PBB.
Industri senjata AS menyumbang 61 persen dari penjualan senjata dunia pada 2019, di atas China 15,7 persen, menurut Stockholm International Peace Research Institute.
Direktur Program pembelanjaaan militer SIPRI Lucie Beraud-Sudreau menyebutkan, AS telah mendominasi pasar selama beberapa dekade, tetapi omzet penjualan perusahaan-perusahaan China naik hampir lima persen pada 2019.
Peningkatan (China) tersebut sesuai dengan implementasi reformasi untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat yang sedang berlangsung sejak 2015,” kata Beraud-Sudreau.
Perusahaan AS, yaitu Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon dan General Dynamics menempati lima posisi teratas dalam peringkat produsen senjata terbesar dunia.
Sementara AVIC, CETC dan Norinco asal China memegang posisi 6, 8, dan 9. Grup AS L3Harris Technologies berada di posisi ke-10.
Daripada buat beli senjata atau alat pembunuh, dana global yang tersedia lebih baik diperuntukkan untuk memerangi Covid-19 yang telah menewaskan 1.541.165 orang dan memapar 67.359.840 orang (sampai 7/12).





