Venezuela: Drone Maut untuk Maduro

Presiden Venezuela Nicolas Maduro lolos dari maut saat drone memuat bahan peledak meledak di tengah parade a HUT ke-81 Garda Nasional di Caracas, sabtu (4/8). tujuh tentara terluka

DRONE atau pesawat nirawak bermuatan bahan peledak menyebabkan tujuh korban luka-luka, sedangkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang sedang memimpin upacara pada parade HUT ke-81 pasukan Garda Nasional (Sabtu, 4/8) lolos dari dugaan upaya pembunuhan terhadapnya.

Maduro dalam pernyataannya setelah insiden tersebut menyatakan akan mengenakan hukuman maksimal bagi para pelakunya dan berjanji akan lebih mempertebal tekadnya untuk meneruskan revolusi. “Saya baik-baik saja. Saya masih hidup dan kejadian ini malah menguatkan tekad saya meneruskan revolusi, “ tandasnya.

Menurut Maduro yang terpilih kembali dalam piplres di tengah krisis ekonomi akut yang digelar Mei lalu, aksi tersebut dilakukan oleh anasir ekstrim kanan yang didukung negara tetangganya, Kolombia dan juga AS. Sejauh ini dilaporkan sudah enam orang ditangkap terkait dugaan pelakunya.

Bahkan Maduro secara terang-terangan menuduh Presiden Kolombia Juan Manuel Santos berada di balik komplotan yang ingin membunuhnya, sebaliknya, pemerintah AS menyebutkan, aksi tersebut merupakan rekayasa yang dirancang oleh rezim Maduro sendiri.

Pemerintah Kolombia juga membantah tudingan Maduro, dengan menyebutkan, Presiden Juan Manuel Santos saat kejadian sedang menyaksikan pembaptisan cucunya, sehingga tidak terpikir sama sekali melakukan itu, apalagi ikut campur tangan urusan dalam negeri negara lain.

Sekitar 95 pesen pendapatan ekspor Venezuela bersumber dari ekspor minyak sehingga saat harga minyak dunia anjlok Venezuela kekurangan devisa, sementara inflasi tahunan mencapai ratusan persen dan nilai mata uang bolivar anjlok sampai ratusan persen di tahun-tahun terakhir ini.

Pemerintah Maduro merespons kesulitan ekonomi dengan memangkas impor bahan kebutuhan pokok seperti sayuran dan kebutuhan medis demi menghindari kebangkrutan akibat utang luar negeri, serta mencetak uang lebih banyak sehingga menyebabkan inflasi semakin parah, terjun bebas yang pada gilirannya ikut memperburuk kondisi sosial di negara itu.

Menang Telak dalam Pemilu

Maduro menang telak atas pesaingnya, Henry Falcon dalam Pemilu yang digelar Mei lalu untuk kepemimpinan enam tahun berikutnya (sampai 2024) dan sebelumnya ia yang menjabat wakil presiden mengambil alih kekuasaan dari Presiden Hugo Chaves yang meninggal akbat kanker pada 2013.

Komentar miring tentang kemenangan Maduro Mei lalu juga dilontarkan pimpinan negara tetangga, Presiden Chili Sebastian Pinera yang menyebutkan, pemilu Venezuela tidak memenuhi persyaratan minimal suatu negara demokratis, sementara ungkapan senada juga disampaikan pemerintah Panama, namun dua negara di Amerika Selatan yang sama-sama berhaluan sosialis, Kuba dan Salvador mengirim ucapan selamat pada Maduro.

Rezim Maduro bertindak keras terhadap aksi-aksi publik yang menentangnya seperti yang dilakukan menghadapi demo bear-besaran pada 27 Juni 2017 yang mengakibatkan 127 orang tewas, sebaliknya aksi perlawanan terhadap pemerintahnya juga bukan hanya kali ini terjadi.

Seorang pilot, Oscar Perez mencuri helikopter dari kantor polisi dan menjatuhkan empat butir granat dari atas gedung Mahkamah Agung. Perez yang kemudian menyebarkan tayangan video yang memuat desakan agar Maduro lengser ditembak mati bersama enam rekannya di pinggir kota Caracas Januari lalu.

Entah sampai kapan kekuasaan Maduro bisa bertahan di tengah krisis ekonomi, pembangkangan rakyat dan juga isolasi oleh masyarakat internasional terutama AS dan negara-negara Uni Eropa. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement