DEWASA ini sedang heboh tentang PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang menyerang ternak sapi. Puluhan ribu sapi jadi kurban bersamaan dengan datangnya Idul Qurban 9 Juli mendatang. Tak urung soal PMK ini juga diteriakkan Puan Maharani yang juga mantan Menko PMK, bahkan juga anggota DPR Dedi Mulyadi. Padahal kita-kita sendiri sebagai sapi berkepala hitam tanpa sadar juga sudah lama menjadi kurban dan pelaku PMK itu sendiri lewat medsos. Justru ini lebih berbahaya, karena bisa merusak keutuhan bangsa (NKRI).
Saat RDP di Komisi IV 22 Mei lalu, Dirjen Peternakan & Kesehatan Hewan Kementan Nasrullah mengatakan, PMK terjadi pada 16 provinsi, dengan jumlah hewan sakit 20.723 ekor (0,38 persen) dari total populasi ternak 5,4 juta ekor di wilayah tersebut. Tapi meskipun terbilang kecil, karena menjelang Idul Qurban, ini menjadi berita besar. Tak urung Ketua DPR Puan Maharani yang berpengalaman jadi Mentri PMK juga, meneriakkan pula hal ini, termasuk anggota DPR Dedi Mulyadi. Uniknya, sosok yang satu ini meski rajin di medsos, Trimedya Panjaitan PDIP tak berani menyebutnya sebagai kemlinthi.
Jangan salah paham dulu, meski akronim sama-sama PMK memang bisa beda makna. Sebagai Ketua DPR Puan Maharani memang selayaknya ikut cawe-cawe soal penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merugikan rakyat petani. Sedangkan beliaunya disebut berpengalaman soal PMK, sebab pada pemerintahan Jokowi periode pertama Puan juga ditunjuk jadi Menteri PMK dalam arti: Pembangunan Manusia & Kebudayaan. Anehnya, meski survei menyebut kinerja dia berapot merah, sama sekali tak tersentuh.
Ketika 20.000 lebih ternak sapi di 16 provinsi terpapar PMK, Ketua DPR Puan mengingatkan, agar pemerintah serius menangani PMK ini. Kita juga harus bisa memastikan stok hewan ternak untuk keperluan kurban pada hari raya Idul Adha tahun ini aman walaupun PMK tengah merebak,” kata politisi PDIP itu. Padahal, tanpa diingatkan oleh Puan pun, Ditjen Peternakan dan Penyakit Menular sudah bergerak cepat dengan sendirinya. Karena mereka sangat paham akan gejala-gejalanya.
Gejala atau ciri-ciri ternak sapi tertular PMK yaitu demam tinggi, hipersalivasi atau keluar air liur banyak dari mulut, melepuh pada gusi, lidah, dan mulut sapi seperti sariawan. Tracak atau kuku kaki terlihat ada nodul dan akan mengalami kepincangan hingga kadang kuku terkelupas dan sapi ambruk (lumpuh), gemetaran atau tremor.
Pada hewan ternak muda bisa mengakibatkan kematian, lantaran tingkat morbiditas atau angka kesakitan mencapai 90-100 persen. Penularan sangat cepat dan masif disebabkan oleh virus serta sapi susah makan dan kondisi cepat kurus hingga drop. Mirip-mirip orang terpapar Covid-19 ya, cuma sapi tak butuh oksigen.
Tetapi kita-kita ini sebenarnya tanpa disadari sudah lama terjangkit penyakit mulut dan kuku tersebut. Lho kok bisa, bagaimana ceritanya? Tentunya Anda tahu, semenjak ada internet dan medsos sebagai turunannya, mulut kita menjadi media paling ampuh untuk mempengaruhi publik. Demikian pula jari-jemari kita yang selalu berhiaskan kuku di ujungnya, sangat membantu kita untuk beropini.
Dulu orang beropini harus melalui koran/majalah, TV dan radio. Sekarang melalui Youtube atau video call, omongan kita ditonton dan didengar di seluruh dunia. Dulu setiap opini disensor demi keamananan nasional, sekarang bebas lepas, tak peduli bermuatan SARA atau bukan. Bahkan sekarang berita-berita ngarang alias hoaks dibiarkan begitu saja, karena tak semua tertangani pihak yang berwajib.
Sekarang orang ngibul di jagad maya sudah dianggap biasa, meski itu sebetulnya kejahatan jurnalistik luar biasa. Konten-konten Youtube yang isi tak sesuai judul, kini ombyokan tanpa ada tindakan. Tapi sepertinya warganet permisif saja. Baru heboh ketika menyangkut SARA dan barulah tim siber polisi bertindak. Setelah pelakunya ditangkap, meweklah dia menyesali perbuatanya.
Sekarang sering terjadi kehobohan juga karena konten-konten medsos yang tidak bertanggungjawab. Mungkin kita tanpa menyadari telah ikut jadi praktisinya. Inilah penyakit mulut dan kuku kita yang bila lepas kendali bisa menjadi wabah yang bisa mengancam NKRI. Kita baru sadar dan menyesal ketika sudah digelandang ke kantor polisi. (Cantrik Metaram)





