Wahyu Cakraningrat

Samba dan Sarjokesuma menolak tanda tangan, karena menuduh Abimanyu curang.

 

HINGGA usia 40 tahun hari ini,  Sarjokesuma alias Lesmana Mandrakumara belum pernah merasakan “surga dunia”. Semua rekan seangkatannya sudah menikah, sedangkan dia tetap menjadi perjaka tua. Naksir Siti Sendari, kalah sama Abimanyu. Mengincar  Pregiwa, yang dapat justru Gatutkaca. Kasmaran pada Pregiwati, disalip Pancawala. Juga pernah mengimpikan Antiwati putri Patih Sengkuni, kalah dengan Patih Udawa. Paling celaka, hanya ingin mengawini anak penjual bakso saja, kalah set sama anak agen gas melon!

Dari 200-an wayang yang berada di  kotak kidalang, paling sial memang hanya Sarjokesuma putra Prabu Duryudana ini. Raja ke-6 Ngastina itu sering prihatin memikirkan hal ini. Dalam medsos beliaunya rajin ngetwit, kenapa punya anak lelaki satu saja ora kalap (tak berguna). Sekolah tidak maju, pacaran tidak becus. Bagaimana sang prabu tidaklah bermuram durja, anak lelaki semata wayang tapi tak punya kebanggaan.  Ijasah tidak punya, ijabsah juga tidak memiliki.

“Ketimbang tak laku terus di pasaran, seyogyanya kamu ikut perebutan Wahyu Cakraningrat saja. Siapa tahu dengan wahyu tersebut, kamu jadi punya nilai tambah dan perawan-perawan di dunia wayang langsung kepincut,” saran Prabu Duryudana diamini oleh ibu Dewi Banowati.

“Tapi nanti gelar saya menjadi Sarjokesuma WC (Wahyu Cakraningrat)? Malu dong!” Sarjokesuma sepertinya kurang sreg dengan jabatan itu.

Prabu Duryudana menjamin, dengan nama besarnya sebagai raja Ngastina, jika ngetwit terus pasti jumlah folouwers-nya selangit. Dengan rating yang demikian tinggi, dijamin kahyangan Jonggringsalaka akan lebih tertarik mengirim  Wahyu Cakraningrat pada Sarjokesuma, yang identik penerus dinasti Ngastina.

“Katanya nominator Wahyu Cakraningrat harus siap debat di TV, rama.”

“Nggak papa. Nanti saya kasih teks, kamu hafal buat modal debat.” Jamin Prabu Duryudana.

Dewasa ini kahyangan memang tengah menerbitkan paket wahyu untuk wayang ngercapada. Namanya Cakraningrat, jenis wahyu wiji ratu. Artinya, siapapun wayangnya bila menerima wahyu itu bakal menurunkan calon ratu di bumi. Betapapun hanya penjual jamu gendong, asal dinikahi satriya pemegang wahyu Cakraningrat, anak keturunannya kelak bakal menjadi raja atau ratu. Bisa menjadi ratu di jagad perwayangan, bisa juga menjadi ratu Ketoprak Mataram di RRI Yogyakarta. Dikelilingi tledek cantik, kerjanya setiap malam gandrung-gandrungan terus.

Pemegang  wahyu pada akhirnya akan berdampak pada nasib rakyat, sehingga seleksi dan persyaratannya diperketat. Tidak saja memiliki e-KTP, membayar TA (Tax Amnesty), ijazah minimal SMP, ada SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), dan tidak pernah menjadi terpidana minimal 2 tahun penjara. Dan paling berat, tidak mudah tergiur rayuan wanita.

“Sebetulnya untuk apa sih,  Wahyu Cakraningrat? Tanpa wahyu itupun aku kelak bakal menjadi raja Dwarawati.” ujar Raden Samba, konsul kepada patih Dwarawati.

“Belum tentu! Contoh Indonesia taun 1999, yang menang Pemilu PDI-P, kok yang jadi presiden bukan Megawati tapi malah Gus Dur?”

Samba Wisnubrata manggut-manggut, membenarkan analisa politik Patih Udawa. Dengan demikian dia menjadi makin mantap mengikuti pesta demokrasi berebut Wahyu Cakraningrat 2017. Dengan wahyu ini posisi sebagai pengganti Prabu Bathara Kresna, semakin legitimid (lebih kuat).

Ternyata bukan para prabu anom (pewaris tahta) saja yang berambisi Wahyu Cakraningrat. Abimanyu anak Harjuna, juga berkeinginan meski dia tak punya kapling penerus kerajaan Amarta. Mengapa putra Prabu Puntadewa yang bernama Pancawala tak berminat, karena dia lebih fokus bisnis perhotelan bersama pengusaha Panca Sutowo.

“Jadi raja itu ribet, sudah APBN kecil, disorot KPK terus. Mendingan jadi pengusaha, tak perlu isi LHKPN, dan tak perlu tergoda korupsi uang negara,” kata Pancawala saat ditanya pers.

Paling kasihan adalah Raden Burisrawa, dia tak bisa ikut memperebutkan Wahyu Cakraningrat karena double problem. Pertama, dia pernah jadi terpidana dalam kasus “Sembadra Larung”. Kedua, dia terlibat dinasti politik paling parah. Bayangkan, ayah dan ketiga kakak iparnya semua raja. Baladewa raja di Mandura, Duryudana raja di Ngastina, Adipati Karno raja di Ngawangga. Karenanya Burisrawa sempat berpikir mau imigrasi ke Indonesia saja, karena di sini politik dinasti tidak dilarang MK.

Menurut kabar yang dijamin bukan hoax, Wahyu Cakraningrat bakal didrop dari Kahyangan Jonggring Salaka 15 Februari 2017, di lokasi seputar hutan Krendawahana, Solo. Yang menarik, sebelum hari H tiba, baik Sarjokesuma, Abimanyu maupun Samba bergantian sowan Begawan Abiyasa raja ke-3 Ngastina di Candi Saptoharga.

“Semua saya dukung. Yang penting ketika jadi raja di negeri masing-masing, jangan lupa high technologi, sebab hanya dengan cara itu negeri kalian bisa maju.” Kata Begawan Abiyasa yang sekarang naik busway digratiskan itu.

“Saya sendiri tehbotol (teknokrat bodoh dan tolol) Eyang….” jawab Sarjokesuma di dalam hati.

Ksatria bertiga: Sarjokesuma, Samba Wisnubrata dan Abimanyu; kini adhang-adhang (mencegat) wahyu di hutan tersebut. Mereka mendirikan saung, bolehnya beli murah dari LP Sukamiskin, bekas milik para napi koruptor. Para pendukungnya juga berbondong-bondong, bahkan sempat lewat di depan Istana Gajahoya. Prabu Duryudana yang sedang ngetwit terus menggalang dukungan bagi Sarjokesuma, tiba-tiba merasa terancam dan datang ke kahyangan, sowan Betara Guru. Dia mengadu kenapa para pendukung Samba dan Abimanyu menggerudug Istana Gajahoya.

“Kenapa ente tidak telepon saja?” tegur Betara Guru.

“Saya takut disadap, pukulun….”, jawab Prabu Duryudana lugu.

Rasa panik raja Ngastina itu tak urung jadi bahan olok-olok di jagad medsos. Tapi itu tidak lama, lantaran publik dunia perwayangan kemudian fokus  dan terpaku menonton debat di TV antara Sarjokesuma, Abimanyu dan Raden Samba. Hasil survei mengatakan, elektabilitas Sarjokesuma turun drastis karena pendukungnya banyak lari ke Samba dan Abimanyu.

Sesuai dengan aturan KPU (Komisi Perwahyuan Umum), saung para pemburu wahyu dilarang berdekatan. Minimal berjarak 5 Km, jauh dari tempat peribadatan dan pendidikan. Pelanggar aturan itu bisa ditegor Panwasyu (Panitia Pengawas Wahyu).

“Jika saya gagal memboyong Wahyu Cakraningrat, bagaimana nasib saya Paman Sengkuni?” keluh Sarjokesuma yang merasa kurang PD.

“Ngelamar kerja di bengkel Cakra Bersaudara saja. Jadi tukang bubut kamu!” jawab Patih Sengkuni sinis.

Menurut ramalan Dinas Meteorologi dan Geofisika, Wahyu Cakraningrat akan turun tengah malam, dalam kondisi awan gelap, kecepatan angin 100 Km/jam atau 10 Km/jam di depan pos polisi. Dan ternyata, sungguh tak dinyana, Sarjokesuma yang pesimis mendapat wahyu itu justru mendapat singgahan pertama. Tahu-tahu ada benda bulat bercahaya putih macam lampu LED masuk ke tubuhnya.

“Aha, ternyata Cakraningrat memilih diriku. Hai Samba dan Abimanyu, mending kalian pulang saja, ketimbang dimakan nyamuk!” kata Sarjokesume lewat group WA dengan penuh jumawa.

Rupanya Wahyu Cakraningrat anti wayang takabur. Baru saja Sarjokesuma selesai ngomong,  tahu-tahu wahyu pergi dan merasuk ke tubuh Raden Samba. Ksatria Parang Garuda yang tinggal di Tegalparang itu sami mawon, dia juga sangat jumawa menerima anugerah tersebut. Soalnya, “anu”-nya langsung gerah begitu melihat cewek cantik melintas. Tanpa malu-malu dia dijadikan sasaran pelecehan seksual. Gadis cantik itu kabur ngomel-ngomel, sementara Wahyu Cakraningrat juga ikutan kabur.

“Celaka, wahyu kok numpang lewat doang, kayak gaji PNS,” keluh Samba.

Wahyu Cakraningrat kembali melesat ke angkasa, dan kemudian mendarat ke dalam tubuh Raden Abimanyu. Ee, di sini ternyata dia betah banget, tak mau pergi, anget kali ya? Tapi Abimanyu tetap diam saja, tidak bekoar ke mana-mana. Maka KPU Kahyangan pimpinan Bethara Narada segera menetapkan Abimanyu sebagai penerima Wahyu Cakraningrat. Sayangnya Sarjokesuma dan Samba tak mau tandha tangan. Katanya Abimanyu main curang, sehingga keduanya mengajukan gugatan ke Mahkamah Kuwayangan. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement