
DURMAGATI dari kesatrian Kabutulan ini tertawa lebar dan jidat pun langsung jembar macam si Gundul dari Ancol. Kemenangan gugatan ini semoga menjadi batu pijakan baru menuju kesuksesan, setelah sekian lama tenggelam dalam jurang keterpurukan. Dia tempo hari pernah menjadi nindyamantri dalam pemerintahan Prabu Jaka Pitono alias Prabu Duryudana, tapi gara kelebihan menyusun aggaran sampai miliaran langsung dicopot dan kembali sebagai warga negara biasa. Jika mau keren sedikit, Durmagati ini memang masih sentana dalem kerajaan Ngastina.
Demi meningkatkan elektabilitas menjelang KWK-2024, Durmagati kemudian sengaja pasang baliho di sejumlah daerah. Pengin juga sih jadi Youtuber macam Mas Ganjar dari Jateng dan Kang Dedi dari Jabar, tapi tak semua wayang jadi pemain medsos. Akhirnya ya pakai model tradisional saja, pasang baliho gede dengan motto: gebrak kemapanan, Durmagati menuju 2024.
“Model Durmagati mah, percuma pasang baliho segala, kagak ngaruh. Dia kan hanya modal bacot, ahli merangkai kata, tapi nggak bisa kerja.” Kata rakyat akar rumput di warung kopi.
“Paling nasibnya seperti Mbak Puan, elektabilitasnya pada posisi nasakom (nasib satu koma) saja. Biar adik raja sekalipun, jika bisanya hanya petentang-petenteng doang ya nggak bakalan dipilih rakyat.” Tambah pengunjung warung yang lain.
Seiring dengan kemunculan baliho-baliho Durmagati di sejumlah daerah, lembaga survei pun mulai mencermati langkah sentana dalem raja Ngastina tersebut. Tapi seperti “analisa” para pengamat politik warung kopi, elektabilitas Durmagati tetap saja mentok seputar nasakom itu tadi. Padahal kontestan lain sebagaimana Samba, Abimanyu dan Burisrawa berada di kisaran 15-20 persen.
Sedangkan Sarjokesuma dan Durmagati prosentasenya masih muter-muter di bawah dua persen. Maklum, dua wayang ini merupakan TTD (Tokoh Tidak Disukai) di kawasan Ngastina berikut jajarannya. Sarjokesuma tak disukai karena penampilannya yang “melambai” macam penderita LGBT, dan Durmagati yang yang suka omong clometan ini belakangan malah ngomplot sama Rocky Gerung.
“Mungkin Durmagati mau belajar huruf R sama dia,” komentar Patih Sengkuni ketika ditanya pers soal kedekatan Durmagati dengan pakar kedunguan sejagat.
“Bagaimana pula dengan elektabilitas Sarjokesuma yang juga jeblok?” kejar pers.
“Stop, hari ini tak ada pembahasan isyu lain…..!” jawab Sengkuni, berlagak seperti gubernur DKI, takut ditanya soal Formula-E.
Tentu saja Patih Sengkuni memagari pers dengan jawaban seperti itu. Sebab mengomentari Sarjokesuma, sama saja bunuh diri. Soalnya tak ada nilai baiknya sama sekali tentang profil putra mahkota Ngastina ini. Jika segala kelemahan Sarjokesuma dibuka di depan publik, sama saja mempermalukan Prabu Duryudana. Resikonya, Patih Sengkuni bisa dipecat, minimal didubeskan di negara-negara Afrika sana.
Bagi Sarjokesuma, elektabilitas demikian jeblok menjelang KWK-2024, tidak masalah sama sekali. Sebab dia ikut begituan sekedar mau menunjukkan bepartisipasi dalam demokrasi. Rielnya, tanpa ikut-ikutan begitu dia nantinya bakal jadi penguasa Ngastina dan otomatis akan bergelimang harta. Jadi konglomerat tanpa ikut konvensi wahyu Konglomerat.
“Sarjokesuma mah tokoh pelengkap penderita, dia disegani orang karena putra Prabu Duryudana. Ngomong saja pating pecotot…..” kata warganet di medsos.
“Bukan raja bukan presiden, bisa-bisanya bilang: wahai rakyatku…..!” ledek netizen lain.
Demikianlah, Sarjokesuma dan Durmagati bersaing dalam kejeblokan survei. Tapi popularitas Durmagati lebih mendingan, karena ditopang oleh kekompakannya bersama Rocky Gerung. Kini Durmagati sudah mulai mahir mendungu-dungukan orang. Jangankan wayang biasa, patih Sengkuni pun tak luput dari korban pendunguan Durmagati. Tapi Sengkuni mencoba bersabar saja. Andaikan Durmagati wayang biasa bukan sentana dalem, pasti sudah lama dikriminalisasi.
Patih Sengkuni paling gondok ketika dituduh bisnis PCR dan uji emisi kendaraan. Dalam uji emisi kendaraan misalnya, Sengkuni dicap bego gara-gara kendaraan pribadi usia 3 tahun juga harus uji emisi. Kenapa tidak 10 tahun ke atas? Atau Patih Sengkuni sengaja agar yang uji emisi lebih banyak?
“Utamakan uji emisi untuk angkutan umum. Kendalaan plibadi sih, dalam usia 3 tahun pasti masih bagus. Kalena pelawatan lebih teljamin ketimbang kendalaan milik pelusahaan.” Kata Durmagati.
“Kecuali bagi yang lolos uji emisi, ongkos digratiskan. Pasti orang tidak malas-malasan kier kendaraannya.” Tambah Kartomarmo.
Durmagati sendiri, melihat hasil survei agak kecut juga, kenapa elektabilitasnya hanya nasakom melulu. Percuma dong pasang baliho di mana-mana. Bahkan ada yang iseng, balihonya dicorat-coret dengan tulisan kasar: Durmagati Open BO. Artinya kesatria Kabutulan ini cowok panggilan alias gigolo. Memangnya Durmagati ada potongan cowok begituan?
Jika gagal ikut KWK-2024 bagaimana? Alamat seumur-umur jadi politisi tanggung. Jadi anggota partai bukan level atas, cuma bawahan. Padahal dia pengin banget jadi elit politiknya, sukur-sukur jadi tim pemenangan. Disebut Durmagati Pacul nggak papa, yang penting dikenal orang karena prestasi politiknya, bukan karena masih sentana dalem Prabu Duryudana.
“Jangan panik Durmagati! Jika masih ada ulun, semuanya beres!” tiba-tiba terdengar suara misterius. Tanpa wujud tapi suaranya demikian menggelegar penuh wibawa.
“Siapa ya? Kalau pakai “ulun” belalti sampeyan dewa dali kahyangan ya?” Durmagati menebak-nebak.
“Betul dugaanmu! Kamu anak pintar, cuma malas belajar. Coba tebak siapa ulun.”
“Sanghyang Blama, ngkali!” tebak Durmagati asal-asalan.
“Masa Betara Brama suaranya gede dan keras begini.”
“Saya sedang pusing pukulun, janganlah dewa sulalaya menambah kepusingan saya.” Protes Durmagati.
Tiba-tiba mak jleg……di depan Durmagati telah hadir dewa kahyangan Betara Kala, dengan kumisnya yang khas macam Charlie Caplin pelawak dari AS. Tapi dia tinggi dan besar. Dia dewa sangat berpengaruh dan sangat ditakuti, sebab pekerjaannya nguntal atau memakan titah wayang sukerta. Dan karena itu pula Durmagati nyaris pingsan, karena takut dimakan Betara Kala. (Ki Guna Watoncarita)


