
MAKANLAH Sarjokesuma dengan lahapnya, bat bet…….macam tukang macul! Meski anak raja, anak muda ini sama sekali tidak mriyayeni. Makannya banyak, sepertinya dia punya turunan ajian Gedong Menga milik Kumbakarno dari Ngalengka. Selesai makan bekas nasi ke mana-mana, macam anak balita. Lalu disusul dia bersendawa, heeeekkkk…… bagaikan guntur menggelegar di musim kesanga. Kemudian bellll……aroma bekas lalapan pete menyeruak ke segala penjuru ruangan.
Untung Durmagati pakai masker, sehingga polusi CO-2 dari Sarjokesuma bisa dinetralisir. Sambil main tusuk gigi dia lalu melayani Oom-nya menggelar testimoni atau semacam curhat. Benar-benar tidak sopan dan jijik, menerima tamu tokoh yang mestinya Sarjokesuma hormati kok sambil main slumbat mini. Jelek-jelek begitu dia kan adik daripada ayahnya.
“Lupanya kamu selius benel mau ikut KWK-2024 ya?” tembakan pertama Durmagati.
“Nggak hanya serius Oom, justru seribu rius. Ini kan cara generasi muda membangun masa depannnya.” Jawab Sarjokesuma sambil terus main tusuk gigi, bila ketemu sisa daging nyangkut langsung ditelannya. Lumayan.
“Mestinya kamu ngalah, membeli jalan pada Oom-mu yang masa depannya belum jelas ini. Kamu meski hanya duduk manis, nantinya dijamin bakal jadi laja Ngastina, dan itu peluang kau jadi konglomelat. Sedangkan Oom ini, hanya lewat KWK-2024 bisa melaih masa depannya meski agak tellambat.” Kata Durmagati mulai meninggi.
Sangat mengherankan, tempo hari Sarjokesuma angin-anginan soal KWK-2024, tapi kini mendadak jadi militan. Apa karena dicuci otak oleh Patih Sengkuni? Bisa jadi! Dia sama sekali tak mau mundur, sehingga Durmagati terpaksa keluar dari Warteg dengan wajah kecewa. Ponakan satu ini kenapa sekarang mendadak tak bisa diajak kompromi.
Ternyata, ada info di luar nalar sehat. Diam-diam Betara Kala tengah malam juga mendatangi Sarjokesuma. Misinya mirip-mirip ketika jualan di depan Durmagati. Katanya dia juga siap memenangkan putra mahkota Ngastina ini sebagai peraih KWK-2024 nanti. Bedanya, karena Sarjokesuma dinilai “bergizi” Betara Kala minta imbalan 10 persen saja dari dana investor yang masuk kelak.
“Sebagai DP 1 persen saja dari persyaratan investasi, yang 9 persen lagi nanti jika sudah menang konvensi.” Kata Betara Kala sambil tengok kanan kiri, takut ketahuan.
“Kalau kalah, bagaimana pukulun?” kata Sarjokesuma menyelidik.
“Kalau kalah dana itu hangus dong.”
“O, gitu! Ya sudah, saya ngomong dulu sama kanjeng rama. Kan saya penyandang dananya Prabu Duryudana ya ayahku.”
Demikianlah, ternyata diam-diam dan saling tidak tahu menahu, Betara Kala “jualan” ke mana-mana. Bukan saja Durmagati dan Sarjokesuma, tapi Samba Wisnubrata dari Dwarawati dan Abimanyu dari Ngamarta kena kompas juga. Bak kerbau dicocok hidung, mereka mengiyakan semua. Satu-satunya yang bebas pungutan hanya Durmagati, tapi itu pun dia diminta menebus segepok kupon dana PMI.
Kenapa Betara Kala menjadi ngrekes sedemikian rupa? Karena sejak deregulasi wayang sukerta, dianya jadi jarang makan wayang. Masalahnya dengan KPK Jonggring Salaka versi baru, wayang korupsi jadi jarang. Paling korbannya anggota DPRD atau Kepala Daerah. Itupun ada usulan dari Bupati Banyumas, agar Kepala Daerah yang ada indikasi korupsi diperingatkan saja, jika terus nekad baru di –OTT.
“Apa saya menyasar ke lurah yang makan Dana Desa saja ya? Tapi juga nggak boleh, karena ternyata tak diatur dalam UU KPK Jonggring Salaka.” Keluh Betara Kala.
“Mending pelototi balapan Formula-E di Jakarta saja, di situ ada peluang banyak makanan. Siapa tahu ada yang nyangkut.” Kata hati nurani memberikan saran.
KWK-2024 masih lama, tapi sudah banyak pendukung Sarjokesuma, Samba, Abimanyu dan Durmagati kasuk-kusuk membangun dukungan rakyat sekaligus kebulatan tekad. Kata para pendukung Sarjokesuma misalnya, sosok putra Prabu Jokopit ini paling diterima pasar, misalnya Pasar Beringharjo, Pasar Gede, Pasar Johar, Pasar Senen dan Pasar Mbaledono. Sarjokesuma juga tebar baliho di mana-mana.
Sebaliknya pendukung Abimanyu, mereka kerepotan menangkal isyu bahwa dia anak Harjuna si tukang kawin. Dikhawatirkan, jika dia berhasil menerima Wahyu Konglomerat, istrinya juga akan nambah meniru ayahnya. Kata lawan politiknya, buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Padahal realitasnya, buah benalu dan beringin bisa jatuh ratusan meter dari asalnya karena dibawa burung.
“Paling top Samba Wisnubrata dah, dia tokoh bersih tiada duanya, kayak dirinso.” Kata kelompok pendukung putra Dwarawati itu.
“Siapa bilang? Dia punya skandal dengan kakak iparnya, Dewi Hagnyanawati. Gila, bini kakak ditimpe juga….” serang kelompok anti Samba.
Paling sial mungkin hanyalah Sarjokesuma. Ketika dia hendak minta dukungan financial dari Prabu Jakopit ayahnya, dia tak mau ngomong langsung, tapi hanya kirim WA saja. Katanya, “Rama, siapkan dana secukupnya buat DP ke Betara Kala, dia menjamin aku yang dimenangkan!” Padahal karena kurang telitinya, chat itu bukan ke Prabu Duryudana, tapi malah nyasar ke Prabu Baladewa sekaligus Pakdenya.
Padahal siapapun tahu, Prabu Baladewa pastilah mendukung prunan sendiri, Samba. Beliaunya lalu melapor kepada Prabu Kresna. Karena Prabu Kresna titisan Wisnu, skandal Betara Kala-Sarjokesuma diteruskan ke Betara Wisnu di kahyangan Ngutara Segara. Gegerlah kahyangan Jonggring Salaka, karena kasus Betara Kala – Sarjokesuma jadi masuk agenda sidang di Bale Marcakunda. Bahkan Betara Kala dihadirkan pula sebagai terdakwa.
“Hai Kala, sudah dapat duit berapa kamu dari Sarjokesuma?” ujar Betara Guru tembak langsung.
“Ah belum terima sepeserpun, baru wacana.” Jawab Betara Kala blingsatan.
“Lalu dari Durmagati, Samba dan Abimanyu? Wah, banyak duit kamu sekarang, traktir makan bakso dong! “ ledek Patih Narada.
Merah padam muka Betara Kala. Kumis tipisnya rontok satu-persatu saking malunya. Baru mau ngobyek sudah ketahuan semuanya. Padahal Betara Guru atau SBG, jika marah hukumannya amat berat. Tak peduli anak kandung, Betara Kala bisa terancam diceburkan ke Kawah Candradimuka, dan bakal jadi dodol karenanya.
“Bayu, Indra, seret Betara Kala dan masukkan ke kawah Candradimuka.” Perintah SBG dengan lantang dan muka masam.
“Ampun rama, ampun rama……!” ratap Betara Kala sambil meronta-ronta saat ditangkap oleh Betara Bayu dan Indro. Betara Kasino dan Dono tidak ikut.
Meskipun dewa itu luputing pati (terbebas dari kematian), tapi dipanggang bara api tanpa batas waktu sungguh siksaan tiada tara. Mending bisa mati sekalian, tak lagi merasakan pedihnya rasa panas. Maka di dalam api kawah Candradimuka Betara Kala hanya bisa meraung-raung, tanpa ada yang menolong. Entah sampai kapan, paling tidak sampai pukul 04:00 saat pertunjukan wayang selesai dan dalangnya pulang untuk subuhan.
Gara-gara permainan kotor Betara Kala tersebut, Betara Guru langsung memutuskan KWK-2024 ditunda tanpa batas waktu. Wahyu Konglomerat batal diturunkan ke bumi. Mendengar keputusan kahyangan, Durmagati hanya bisa mengeluh, “Pala dewa saja nggak jujul, apa lagi lakyatnya. Betala Kala memang bajindul…!” (Ki Guna Watoncarita – Tamat)


