WAHYU PARADYA RAJA

Didampingi Semar, Kala Bendana ke kahyangan Jonggring Salaka ketemu SBG.

KEDATON Bethari Durga di Pasetran Gandamayit terkenal keangkerannya, sato mara sato mati, janma mara janma ngemasi, kata kidalang. Tapi jika tahu cara dan strateginya, Pasetran Gandamayit bukanlah tembok berlin untuk memburu cita-cita. Prosedur yang berbelit-belit, asal dikonversi dengan uang berjuta-juta, semua jadi lancar. Rumusnya cukup 1–1–8. Maksudnya, masing-masing Rp 1 juta untuk ajudan Jaramaya-Jarameya, sedangkan Rp 8 juta khusus untuk Sang Bethari. Karenanya serba duit, maka Pasetran Gandamayit sering pula disebut  Pasetran Gandaduwit.

Lantaran punya  link dengan Sanghyang Bethara Guru (SBG), Betari Durga selama ini terkenal jadi makelar jabatan. Kesatria dari mana saja, jika berambisi posisi penting dalam sebuah lembaga, musti minta ke Betari Durga. Prabu Jungkungmardeya, Dewasrani, serta Burisrawa, semua naik daun dalam berkarier, juga karena berkoalisi dengan Betari Durga.

Sesungguhnya, jadi makelar jabatan merupakan profesi lama saat dia bernama Dewi Uma.  Sebagai istri Betara Guru, dia memang punya akses luar biasa dalam lembaga  Wanjabti (Dewan Pejabat Tinggi) yang diketuai suaminya. Gara-gara permainan kotor Dewi Uma, dia pernah kabur ke luar negeri. Maka setelah berhasil diekstradisi dia dikenakan hukuman menjadi Betari Durga yang bertahta di Pasetran Gandamayit. Bagi tokoh lama yang tahu kartunya, suka menyebut Betari Durga sebagai Betari Durgaeti, mengingatkan dengan kasus Nurbaeti.

“Ibu Betari, laporan. Ini ada tamu dari Pringgodani, Brajadenta, kepengin ketemu Ibu,” ujar Jaramaya-Jarameya serentak.

“Sudah tahu aturannya belum? Jika tak memenuhi rumus 1–1–8 suruh pulang saja dia,”  perintah Betari Durga.

“Beres, boss.”

Brajadenta segera menghadap. Intinya hanya melaporkan Gatutkaca sebagai raja Pringgodani kini bekerja kurang efektif. Konsentrasinya terbagi-bagi ke mana saja. Selain mengurus negeri Pringgodani, dia juga menjadi pemangka keamanan (sapukawat) Ngamarta. Apa lagi Gatutkaca juga menjadi Ketua Umum Partai Muda Sejahtera.         “Daripada nganggur, saya juga mau kok ditunjuk jadi raja Pringgodani. Dengan demikian Gatutkaca bisa lebih fokus ke partai dan  Ngamarta,” saran Brajadhenta.

“Tapi menggeser Gatutkaca bukan perkara mudah, kecuali ente siap biayanya. Pokoknya NPWP-lah.” kata Sang Betari tanpa tedeng aling-aling.

Ternyata NPWP itu kepanjangan: Nomer Pira Wani Pira. Akhirnya Brajadenta manggut-manggut, mencoba memahami situasi, bahkan kemudian siap teken pakta integritas sebagai calon raja Pringgodani. Maka sepeninggal Brajadenta, Betari Durga segera berembug dengan Jaramaya – Jarameya, bagaimana cara merekayasa posisi Gatutkaca agar segera lengser. Soalnya status Daerah Istimewa Pringgodani (DIP), sesungguhnya merupakan hadiah Sanghyang Wenang sejak dulu kala. Saat itu Gatutkaca berhasil membunuh Kala Pracona – Patih Sekipu dalam insiden Jonggring Salaka tahun 1945.

Meskpun berat, sebagai makelar jabatan profesional Bethari Durgaeti segera sowan SBG di istana Bale Marcakundha. Semula SBG juga tak mau lagi mengkotak-katik pemerintahan Pringgodani yang sudah demikian eksis itu. Tapi karena Betari Durga sesungguhnya istri pribadi, akhirnya SBG nggak berkutik. Dengan berat hati terpaksa ikut merekayasa agar skandal ini tak tercium.

“Pukulun Betara Guru harus menerbitkan Wahyu Paradya Raja. Dengan wahyu tersebut posisi Gatutkaca menjadi lebih tinggi, tapi sudah bukan lagi raja Pringgodani. Posisi raja diberikan kepada Brajadenta. Kasihan dia, setelah pensiun PNS berekening kerempeng dia lalu masuk PDIP,” kata Betari Durga panjang lebar.

“Apa nggabung ke  Megawati?” SBG mencoba klarifikasi.

“Oo, bukan! PDIP di sini kepanjangan: Penurunan Daya Ingat dan Pendapatan.”

SBG segera memerintahkan Sanghyang Temboro Ketua DPR kahyangan, agar segera menggodhok Wahyu Paradya Raja edisi khusus. Disebut edisi khusus, karena lazimnya wahyu bisa dinikmati publik (umum), sedangkan Wahyu Paradya Raja ini khusus diperuntukkan bagi Gatutkaca. Dan karena edisi khusus pula, meski pihak yang bersangkutan tidak tertarik, harus dipaksa untuk siap menerima!

Kabar bakal turunnya Wahyu Paradya Raja bikin geger wayang ngarcapada, khususnya rakyat Pringgodani. Namanya sih bagus: paradya raja, itu mengandung makna pangayom ratu. Namun jika Gatutkaca dipaksakan menerima wahyu tersebut, dia bakal menjadi macan ompong. Meski  status makin tinggi tapi kekuasaannya justru dipreteli. Sebagai paradya dia tak berhak mengurus anggaran dan pemerintahan lagi, kecuali sekedar penasihat. Jelasnya: tanda tangan  doang, nggak ada duitnya!

“Ananda Gatutkaca, bagaimana ini? Anda dianugerahi Wahyu Paradya Raja, sama saja didongkel secara halus,” ujar Setyaki sapukawat Dwarawati.

“Jangan tanya saya dong. Tanyakan saja pada rakyat Pringgodani,” jawab Gatutkaca sembari terbang kleper, kleper…., menghindari pertanyaan sensitip. Maklum, Gatutkaca tak mau diadu-adu dengan SBG.

Gatutkaca sesungguhnya tidaklah haus kekuasaan. Meski ada isyu bahwa dia bakal dicekoki Wahyu Paradya Raja, dianggap enteng saja. Biarkan saja banyak kalangan menggugat status rangkap jabatan di  Pringgodani dan Ketum partai,  toh semuanya lancar-lancar saja. Tapi rakyat Pringgodani tidak bisa menerima. Seandainya Gatutkaca didongkel dari istana Pringgodani, rakyat siap referandum: pilih Gatutkaca apa Brajadenta!

Kondisi Pringgodani benar-benar memanas. Massa pro Gatutkaca mulai buka front dengan massa pro Brajadenta, Kala Bendana adik Brajadenta sekaligus paman Gatutkaca, hatinya menjadi demikian miris. Andaikan terjadi perang saudara atas kawula Pringgodani, yang merugi bangsa Pringgodani sendiri.  Kala Bendana pernah mencoba menyadarkan Brajadenta agar menghentikan ambisinya, tapi tak digubris. Gagal melobi kakak sendiri, dia segera ke kahyangan, sowan SBG.

“Pukulun Sanghyang Betara Guru, hamba berharap Wahyu Paradya Raja dimoratorium saja, kasihan kawula Pringgodani, berkelahi dengan bangsa sendiri,” lapor Kala Bendana sambil menyembah hingga sepuluh kali.

“Wah, ya nggak bisa. SK-nya sudah kadung terbit…..,” jawab SBG enteng.

Pengin rasanya Kala Bendana sowan kepada Sanghyang Wenang di kahyangan Ngondar-andir Bawana, namun harga tiket pesawat tak terjangkau kantongnya, apa lagi bagasi saja harus bayar. Untung saja dia lalu ingat Semar, lurah Karang Kebolotan yang sekaligus bapak bangsa  wayang Ngamarta. Dengan menggandul truck, Kala Bendana berhasil ketemu dan curhat kepada dewa penjelmaan Betara Ismaya.

“Hanya  Ki Lurah Semar yang bisa selesaikan kemelut ini,” saran Kala Bendana.

“Eee, blegeduweg, ugeg-ugeg. Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Betara Guru mau macem-macem, gua kentuti baru nyaho dia….!” Lurah Semar mengancam.

Semar – Kala Bendana segera naik  taksi, meluncur ke istana Bale Marcakundha. SBG demi melihat sosok Semar – Kala Bendana kontan pucet. SK Wahyu Paradya Raja yang telah ditandatangani segera dimasukkan laci kembali. Dengan senyum penuh rekayasa, Kala Bendana – Semar malah diajak wedang-wedangan kopi Starbuck.

“Sebenarnya Pringgodani – Jonggring nggak ada masalah,” ujar  SBG.

“Ah yang bener. Jangan-jangan ini ulah Betari Durgaeti lagi kan?” tuduh Semar. SBG hanya bisa nyengir kuda. Sepeninggal para SBG segera telpon Brajadenta: “Wahyu Paradya Raja saya batalkan. Jika berambisi menjadi raja Pringgodani, tunggu hingga Gatutkaca tewas dalam Perang Baratayuda Jayabinangun!” (Ki Guna Watoncarita)

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement