Wajah Baru Griya Anggrek Indonesia

Wisatawan asing memotret salah satu koleksi bunga anggrek di Griya Anggrek, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/5/2022). (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Meskipun wilayahnya hanya sekitar 1,3 persen dari total luas Bumi, Indonesia menjadi tempat tinggal bagi sekitar 25 persen flora atau tumbuhan di seluruh dunia.

Lebih tepatnya, sekitar 20.000 spesies termasuk 40 persen di antaranya adalah endemik atau khas Indonesia. Salah satu contohnya adalah anggrek, anggota terbesar dalam kerajaan tumbuhan.

Tanaman yang memiliki nama ilmiah Orchidaceae atau biasa disebut orchid ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Mereka dapat tumbuh di mana saja dan lokasinya pun bervariasi.

Mereka dapat hidup baik di daerah dataran rendah maupun di daerah dataran tinggi, serta mampu tumbuh baik di tempat dengan suhu dingin maupun panas. Sampai saat ini, telah diidentifikasi sekitar 750 famili, 43.000 spesies, dan 35.000 varietas hibrida anggrek dari seluruh dunia.

Menurut buku Anggrek Spesies Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Pembenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, terdapat sekitar 5.000 spesies anggrek di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebagian merupakan spesies asli Indonesia, baik yang tumbuh di hutan belantara maupun yang telah dibudidayakan oleh masyarakat.

Di antara spesies anggrek tersebut, sekitar 986 spesies tersebar di Pulau Jawa, 971 spesies ditemukan di Pulau Sumatra, 113 spesies tumbuh di Kepulauan Maluku, dan sisanya dapat ditemukan di Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan Kalimantan.

Namun, tidaklah mudah untuk menemukan setiap spesies anggrek tersebut di habitat aslinya di setiap pulau. Selain memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengunjungi setiap pulau, hal ini juga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak untuk dapat melihatnya.

Karena alasan tersebut, sejak 2002, pengelola Kebun Raya Bogor di Jawa Barat bekerja sama dengan Yayasan Kebun Raya Indonesia telah memulai pembangunan pusat konservasi ex-situ anggrek. Pusat konservasi ini berlokasi di salah satu bagian di dalam area Kebun Raya Bogor atau KRB.

Melansir indonesia.go.id, awalnya, pusat konservasi di luar habitat anggrek mampu menampung sekitar 250 spesies anggrek yang berasal dari dataran rendah basah di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Papua.

Semua koleksi tersebut ditempatkan dalam rumah kaca dengan ukuran kurang dari 500 meter persegi, yang berfungsi untuk eksplorasi, perawatan, isolasi, serta sebagai ruang koleksi dan pameran anggrek.

Seiring berjalannya waktu, koleksi anggrek yang ditampung bertambah melalui berbagai eksplorasi di seluruh Indonesia. Selain itu, anggrek yang dikoleksi di Griya Anggrek, nama pusat konservasi tersebut, juga direproduksi melalui persilangan dan kultur jaringan. Akibatnya, koleksi dalam rumah kaca Griya Anggrek menjadi semakin padat.

Oleh karena itu, mulai pertengahan 2018, direncanakan untuk merevitalisasi bangunan Griya Anggrek dan memodernisasi sejumlah fasilitas, termasuk rumah kaca anggrek.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mengelola KRB, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, bergerak cepat dalam menyelesaikan revitalisasi yang dimulai pada Desember 2018 dan selesai pada November 2022.

Setelah seluruh pembangunan selesai, Griya Anggrek berubah menjadi lebih megah dan modern. Bangunan lama yang berwarna krem dan terlihat usang telah digantikan oleh sebuah bangunan besar berwarna abu-abu yang menjulang tinggi, tepat di dekat Pintu 3 KRB.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mohammad Zainal Fatah, penataan Griya Anggrek dilakukan secara bertahap.

Pembangunan meliputi rumah kaca utama dengan luas 6.813 m2, laboratorium kultur jaringan seluas 1.560 m2, bangunan penghubung sebesar 256 m2, dan ruang pamer (display) seluas 35,6 m2, dengan total anggaran sebesar Rp38 miliar.

Pemodernan laboratorium kultur jaringan disiapkan untuk mendukung pekerjaan staf, termasuk persiapan media tanam, penanaman kultur, inkubasi, sterilisasi, penyimpanan media steril, dan perpustakaan.

RKA Soedjana Kassan

Di sisi lain, ruang pamer yang berada di sayap kiri dan kanan bangunan utama Griya Anggrek digunakan untuk menampilkan memorabilia sejarah seputar KRB dan menyajikan berbagai informasi mengenai anggrek, termasuk jenis-jenis dan koleksi yang ada di KRB, termasuk anggrek hibrida.

Selain itu, terdapat sebuah bangunan besar yang terbuat dari besi baja dan kaca, yang dinamakan Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi KRB, Soedjana Kassan merupakan orang Indonesia pertama yang memimpin KRB pada periode 1959 hingga 1969.

Bangunan Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan, yang memiliki biaya pembangunan sebesar Rp35,2 miliar, terdiri dari dua sayap, yaitu sayap kiri dan sayap kanan, yang berfungsi sebagai tempat pemuliaan dan pameran sekitar 450 spesies anggrek dari seluruh Indonesia.

Kedua sayap Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan ini terhubung oleh sebuah selasar tertutup yang berdinding kaca.

Kedua sisi Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan dapat diakses melalui bangunan utama Griya Anggrek. Terdapat pintu selebar 1,5 meter yang membawa pengunjung masuk ke bangunan sayap kanan yang memiliki lanskap yang mirip dengan suasana di hutan hujan tropis.

Di dalam bangunan kaca ini, terdapat beberapa batang pohon besar yang ditanami dengan berbagai spesies anggrek, dengan atap setinggi 20 meter.

Junaedi, seorang orchitologis di Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan, menjelaskan bahwa berbagai spesies anggrek dipamerkan di bangunan sayap kanan ini.

Contohnya adalah anggrek dari genus Dendrobium, Bulbophyllum, dan Coelogyne yang merupakan jenis epifit, yaitu tumbuh menempel pada tanaman lain tanpa bersifat parasit atau merugikan tanaman tempatnya tumbuh.

Ada pula anggrek dari genus Spathoglottis, Calanthe, dan Paphiopedilum yang tumbuh di tanah atau bersifat teresterial.

Beberapa koleksi yang ada di Rumah Kaca Anggrek Soedjana Kassan memiliki keistimewaan, seperti anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), yang merupakan spesies anggrek terbesar di dunia.

Anggrek ini hanya tumbuh di Indonesia dan dapat ditemui di hutan-hutan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Tanaman anggrek ini memiliki batang yang besar dengan diameter sekitar 10-15 sentimeter dan panjang mencapai 3 meter, mirip dengan tebu.

Tangkai bunganya bisa tumbuh hingga 2 meter, dan setiap tangkai dapat memiliki 100 bunga anggrek. Kuntum dari setiap bunga anggrek ini bisa memiliki hingga 50 helai.

RKA Soedjana Kassan menanam anggrek tebu di area tebing berair dengan daun-daun yang menjulur bebas sepanjang hampir 50 cm. Saat anggrek tebu berbunga, warnanya kuning dengan bintik-bintik cokelat, merah, bahkan agak kehitam-hitaman.

Karena keunikan tersebut, perburuan terhadap anggrek tebu di alam liar menjadi tidak terkendali, dan sekarang anggrek ini termasuk dalam kategori langka dan dilindungi.

Di salah satu sudut rumah kaca, terdapat anggrek putih jenis Dendrobium Makassar. Papan display di sebelahnya menjelaskan bahwa anggrek ini diberi nama Kimilsungia atau Dendrobium Bunga Kimilsung.

Nama ini mengingatkan kita pada sosok pemimpin Korea Utara, Kim Il-sung, kakek dari Kim Jong-un, pemimpin saat itu. Tidak salah dugaan tersebut, karena Kim Il-sung dan putranya, Kim Jong-il, pernah mengunjungi rumah kaca KRB pada 13 April 1965.

Pada saat itu, Presiden Soekarno memberikan hadiah berupa anggrek terindah yang saat itu dikembangkan di rumah kaca KRB kepada tamu istimewa tersebut.

Presiden Soekarno kemudian memberikan nama Kimilsungia pada anggrek tersebut. Di kemudian hari, pemerintah Korea Utara menjadikan anggrek putih ini sebagai bunga nasional mereka.

Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Soekarnoputri, ketika meresmikan RKA Soedjana Kassan pada 17 Mei 2023, juga terkenang dengan peristiwa tersebut.

KRB, yang telah berusia 206 tahun sejak pertama kali dibangun pada 18 Mei 1817, memiliki makna khusus bagi Megawati karena terkait dengan masa kecilnya ketika tinggal di Istana Bogor yang bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor yang luasnya sekitar 87 hektar.

“Di Kebun Raya Bogor inilah tempat saya tinggal dulu semasa kecil,” katanya dikutip dari Antara.

Hujan Buatan

Di RKA Soedjana Kassan, terdapat dua tiang tinggi besar di tengah miniatur hutan dan kebun yang hampir menyentuh atap. Delapan tiang kecil juga menjulur ke delapan penjuru. Menurut Junaedi, fungsi tiang-tiang ini adalah sebagai wadah untuk hujan buatan dan kabut buatan.

Air juga dapat memancar dari beberapa keran kecil yang tersembunyi, dan waktu penyemprotan telah diatur oleh komputer. Suhu di dalam rumah kaca juga diatur agar sesuai dengan kondisi lingkungan di habitat asli anggrek tersebut.

Selain lanskap yang menarik seperti miniatur hutan dan taman, RKA Soedjana Kassan dilengkapi dengan jalan yang mirip jembatan sepanjang sekitar 250 meter yang mengelilingi area bangunan di sayap kanan Griya Anggrek dan menyambung ke selasar dan ruang temu serbaguna di lantai dua sayap kiri. Melalui jembatan besi ini, pengunjung dapat melihat seluruh koleksi anggrek dari atas.

Ketika mengunjungi bangunan sayap kiri, selain menemukan ruang temu serbaguna, dari lantai dua juga dapat melihat rumah kaca kedua. Tampilannya sedikit berbeda dari rumah kaca sebelumnya karena di sini digunakan untuk pembibitan anggrek, baik dari hasil pemuliaan tanaman maupun penanaman biji.

Di dalam rumah kaca ini terdapat ribuan bibit tanaman anggrek yang diletakkan dalam pot-pot hitam dan ditempatkan dalam lebih dari 10 wadah beton raksasa yang memanjang sekitar 10 meter.

Setiap bibit diberi nama sesuai genus dan spesiesnya pada salah satu sisi pot tanaman. Terdapat pagar besi putih dengan pintu sebagai pembatas.

Griya Anggrek dapat dikunjungi secara gratis setiap hari sesuai jadwal KRB. Pada hari Senin sampai Jumat, jam kunjungan adalah pukul 8.00 WIB hingga 16.00 WIB, sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu, jam kunjungan adalah pukul 7.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Disarankan untuk memasuki area Griya Anggrek melalui Pintu 3 dan jangan lupa membayar tiket masuk KRB sebesar Rp16.500 per orang pada hari kerja dan Rp26.500 per orang saat akhir pekan. Selamat menikmati wisata dan mengeksplorasi kekayaan anggrek asli Indonesia di Griya Anggrek Kebun Raya Bogor.

Advertisement