CIANJUR – Dompet Dhuafa terus ikut berpartisipasi aktif dengan meluncurkan program-program recovery untuk Cianjur, salah satunya Program Wakaf Cianjur Bangkit untuk membangun kembali masjid yang rusak akibat gempa.
Tepatnya masjid Al-Barakah yang berlokasi di Kampung Ranca Picung, Desa Cibulakan, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Keberadaan masjid sebagai rumah ibadah menjadi sangat penting bagi umat muslim, baik sebelum maupun setelah musibah gempa terjadi. Sebelum musibah, masjid adalah sarana bagi umat muslim untuk menunaikan ibadah rutin seperti salat dan tempat belajar mengaji bagi anak-anak. Namun, usai gempa mengguncang bumi Cianjur, masjid pun hancur. Mereka kehilangan tempat untuk bersujud dan beribadah dengan khusyuk pada Allah.
Saat Tim Dompet Dhuafa menapaki jalan menuju masjid Al-Barakah, bangunan di sekelilingnya banyak yang hancur. Ada juga yang masih berdiri, namun tak sempurna. Dinding-dinding dihiasi banyak retakan yang menggambarkan betapa dahsyatnya gempa waktu itu.
Dilansir dompetdhuafa.org, ketika Tim Dompet Dhuafa sedang memperhatikan keadaan sekeliling, tetiba anak-anak berlarian mendekati kami. Mereka begitu riang dan antusias menyambut kedatangan Tim Dompet Dhuafa.
Salah seorang di antaranya adalah Hamzah Supiyandi, anak berusia 12 tahun yang baru saja menyelesaikan ujian akhir Sekolah Dasar (SD) dan sedang menunggu hasilnya. Tahun ini, dia akan segera duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Mengaji Al-Qur’an menjadi obat yang mujarab bagi Hamzah dan teman-temannya untuk menentramkan hati pasca dirundung musibah yang kerap membuat hatinya gelisah.
Namun teramat disayangkan, mereka kehilangan tempat untuk belajar mengaji. Masjid Al-Barakah yang menjadi tempat Hamzah dan teman-temannya belajar mengaji Al-Qur’an rusak terdampak gempa beberapa waktu silam. Sekarang mereka mengaji di tenda darurat yang tidak hanya menjadi masjid sementara, melainkan juga digunakan untuk tempat tinggal bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Kehadiran Dompet Dhuafa yang membangun kembali Masjid Al-Barakah membuat hatinya gembira. Dia membayangkan dapat berkumpul dan belajar mengaji kembali di dalam masjid dengan tenang.
“Nuhun, tos ngabangun masjid iye, urang bisa ngaji deui jeng babaturan sakampung di die. Mugi-mugi calageur, mugi sing digentosan. Mugi panjang umur selalu. Sakali deui, nuhun pisan. (Terima kasih telah membangun masjid ini, saya bisa mengaji lagi bersama teman-teman sekampung di sini. Semoga sehat selalu, semoga diganti dengan yang lebih baik, panjang umur selalu. Sekali lagi terima kasih),” ucapnya.





