MYANMAR – Sebuah laporan PBB pada awal pekan ini telah menarik seruan penuntutan kepala militer atas tuduhan genosida terhadap Rohingya dan mendesak pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi mundur.
Namun sebagian warga Myanmar menanggapi dengan tidak memojokan pemerintahn ya.
“Kami senang memerangi militer untuk demokrasi tetapi kami tidak ingin memerangi mereka atas Rakhine,” kata pemilik kapal Kyaw Kyaw (47) kepada AFP.
“Saya bersimpati kepada para korban tetapi membela negara kami dari terorisme lebih penting,” tambahnya, mengisyaratkan jika “operasi pembebasan” tentara dibenarkan untuk membasmi militan Rohingya.
Penindakan militer tahun lalu secara beralasan terhadap militan Rohingya mendorong sekitar 700.000 minoritas dalam kekerasan yang membuat dunia mengecam.
“Saya merasa sedih dunia memandang rendah orang-orang Myanmar,” kata dokter tradisional Than Sein, mengingat bagaimana umat Buddha dan Muslim dulu makan di rumah masing-masing dan meratapi mereka tidak lagi melakukannya.
Menurutnya, Suu Kyi, masih seorang pahlawan wanita di dalam negeri.
“Kami yang hidup melalui transisi di Myanmar melihatnya berbeda dari mereka yang mengamatinya dari luar dan yang akan tetap tak tersentuh oleh hasilnya,” katanya pekan ini dalam sebuah pidato di Singapura.





